Asal Usul Nama Suku 'Betawi'

Add Comment
Asal Usul Nama Suku 'Betawi' -  Jakarta identik dengan suku bangsa Betawi sebagai penduduk aslinya. Etnik ini telah lama bermukim dan beranak pinak di ibu kota.

Sejak era Gubernur Ali Sadikin, Betawi telah menjadi ikon Jakarta, tapi dari manakah nama Betawi?

Banyak orang sering mengucapkan nama Betawi tapi hanya sedikit masyarakat tahu asal muasal kata ini. Penafsiran pun banyak mengemuka termasuk cerita perang antara tentara belanda melawan pribumi. Pada saat perang berlangsung, tentara Belanda dengan persenjataan lengkap menghalau warga pribumi yang ingin menduduki benteng Belanda.


Namun, serangan berhenti karena persediaan senjata habis. Pejuang pribumi lantas mengganti senjata mereka dengan kotoran manusia, hingga membuat serdadu Belanda terganggu dengan bau menyengat dan berkata 'bau tai'. Banyak yang meyakini kata itu adalah asal usul nama Betawi muncul.

Tapi pengertian tersebut ternyata salah besar. Hal itu sengaja diciptakan penjajah untuk meremehkan orang-orang pribumi di Jakarta.

"Karena seperti yang kita tahu bersama, benteng hancur dengan meriam jika menggunakan logika lemparan paling cuma 50 meter paling jauh. Ada kesan orang kita dianggep bodoh kalau percaya gituan," kata budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra saat berbicang dengan merdeka.com, Rabu (30/9).

Selain 'bau tai', masih ada berbagai versi lain yang menceritakan asal mula kata Betawi. Salah satu yang paling banyak dipercaya adalah tanaman bernama cassia glauca, atau Wiulingin Betawi alias ketenteng dalam bahasa Betawi. Versi ini lebih dipercaya mengacu dari banyaknya nama jalan menggunakan nama pepohonan.

"Banyak nama jalan dari nama pohon kaya kebon nanas, kebon kacang karena itu saya berasumsi Betawi dari nama pohon," tutupnya.(Asal Usul)

Asal Usul Warga Lamongan Pantang Makan Ikan Lele

Add Comment
Asal Usul Warga Lamongan Pantang Makan Ikan Lele - Sejarah terbentuknya Kabupaten Lamongan tidak lepas dari bumbu-bumbu cerita rakyat. Seperti yang satu ini, terkait asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat Lamongan asli untuk memakan ikan lele.

Meski banyak orang Lamongan yang merantau dan berjualan Pecel Lele, namun mereka konon pantang memakannya. Lalu apa cerita di balik kepercayaan itu?



Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III atau bernama asli Sedamargo blusukan ke daerah penyebaran Islam dengan menggunakan perahu menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo, hingga ke desa-desa.

Sesampainya di Desa Barang (sekarang masuk wilayah Kecamatan Glagah, Lamongan), malam sudah larut, sinar terang bulan purnama menuntun langkah Sunan Giri menyusuri desa ini. Hingga pada suatu tempat Sunan Giri melihat lampu godog (sejenis oblek) yang menyala dari sebuah gubuk di sudut desa. Sedamargo lantas menghampiri sumber cahaya tersebut.

Di situ didapatilah seorang wanita yang dikenal mbok rondo sedang menjahit pakaian. Perbincangan antar keduanya terjadi sampai larut malam. Di akhir perbincangan, akhirnya Sunan Giri berpamitan pergi.

Baca Juga :
Namun dirinya lupa mengambil keris miliknya yang dia letakkan di bale, selama berbincang dengan mbok rondo tadi. Dia baru sadar ketika sudah tiba kembali di Giri.

Kemudian Sunan Giri memerintahkan salah satu orang dekatya Ki Bayapati untuk kembali ke Desa Barang, mengambil keris kesayangan Sunan Giri yang tertinggal di bale gubuk mbok rondo.

Keberadaan keris tersebut diketahui oleh mbok rondo, seketika wanita ini mengambil dan menyimpannya untuk kemudian dikembalikan atau sukur-sukur Sunan Giri kembali datang mengambilnya sendiri.

Nah, saat ditugasi oleh Sunan Giri ini, Ki Bayapati menggunakan kemampuan ilmu sirepnya agar cepat menuju gubuk mbok rondo. Sesampainya di lokasi, pesuruh ini mengambil keris dengan cara sembunyi-sembunyi.



Tetapi sepandai apa pun Ki Bayapati, caranya tersebut diketahui mbok rondo yang disambut dengan teriakan maling. Menganggap utusan Sunan Giri ini sedang mencuri keris, padahal yang terjadi sebenarnya adalah ingin mengambilnya.

Teriakan mbok rondo membangunkan para tetangganya, dan sejurus kemudian massa mengejar pria yang diduga mencuri keris pusaka ini. Karena panik dikejar warga, Bayapati memberanikan diri terjun ke kolam (jublang) untuk menghindari kejaran dan amukan massa.

Tanpa disangka, tiba-tiba kolam dipenuhi oleh ikan lele yang berenang di permukaan. Keberadaan Bayapati tersamarkan oleh munculnya ikan-ikan lele ini. Warga yang tidak mengira Bayapati bersembunyi di kolam, segera meninggalkan lokasi.

Bayapati selamat, sampai di Giri lantas menceritakan kejadian aneh tersebut sambil mengantarkan keris ke tuannya.

Karena jasanya inilah, akhirnya Sunan Giri menghadiahkan keris yang sekarang disebut mbah jimat ini kepada Bayapati. Kabarnya keris saat ini tersimpan di bangunan Dusun Rangge, Lamongan.

Gara-gara peristiwa aneh inilah, akhirnya muncul pantangan bagi warga Lamongan memakan lele. Karena menganggap lele adalah ikan bertuah yang pernah berjasa melindungi Bayapati.

Tetapi, sepertinya pantangan ini sudah tidak berlaku untuk saat ini. Buktinya, warga Lamongan yang mengadu nasib di luar kota banyak berjualan pecel lele. Tidak sedikit dari mereka sukses berkat lele.(Asal Usul)

Asal Usul Gajah Mada, Patih Majapahit dari Lamongan

Add Comment
Asal Usul Gajah Mada, Patih Majapahit dari Lamongan - Gajah Mada merupakan salah satu tokoh sentral di Kerajaan Majapahit saat mencapai masa kejayaannya dengan pusat pemerintahan di Wilwatikta atau sekarang dikenal Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Dinasti yang didirikan oleh Raden Wijaya (wafat tahun 1309) berdarah bangsawan Jawa dan Sunda ini mencapai puncak kejayaan di era Raja Hayam Wuruk.

Masa kejayaan Majapahit tidak lepas dari figur Gajah Mada, termasuk segudang kontroversi cerita yang hingga kini masih berselimut gelap. Karir militernya di Majapahit mulai menanjak setelah dia berhasil menyelamatkan Jayanegara, raja kedua Majapahit dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.



Memang setelah meninggalnya Raden Wijaya, Majapahit disibukkan oleh pemberontakan di sana sini dari pada ekspansi militer atau ekonomi ke wilayah baru. Umumnya pemberontakan terjadi untuk mengambil alih kekuasaan yang dilakukan oleh orang-orang bekas istana, maupun daerah-daerah yang ingin melepas diri dari Majapahit.

Dalam kitab Pararaton diceritakan, pemberontakan di zaman Jayanegara dilakukan oleh para Dharmaputra yang tak lain loyalis Raden Wijaya. Pemberontakan ini terjadi karena raja kedua Majapahit ini berdarah campuran Jawa dan etnis Melayu, bukan asli keturunan Kertanagara. Seperti diketahui, bahwa Jayanegara merupakan anak hasil perkawinan antara Raden Wijaya dengan Dara Petak.



Pemberontakan ini dipimpin oleh Ra Kuti, seorang perwira Majapahit dari daerah Pajarakan (sekarang Probolinggo, Jawa Timur). Dalam pemberontakan Ra Kuti, Majapahit berhasil direbut dari tangan Jayanegara.

Karena kondisi kerajaan sudah tidak kondusif, komandan pasukan Bhayangkara Gajah Mada akhirnya melarikan raja muda bernama lain Raden Kalagemet (jahat dan lemah) ini ke wilayah Badander. Di Jawa Timur saat ini, nama Badander mengacu pada dua daerah; pertama Desa Dander yang masuk di administrasi Kabupaten Bojonegoro, dan Desa Bedander masuk wilayah Jombang.

Setelah kondisi dirasa cukup aman, Gajah Mada kemudian kembali ke Majapahit untuk menggalang kekuatan dari rakyat jelata hingga para loyalis Jayanegara di kerajaan. Pada akhirnya Ra Kuti bersama pemberontak lainnya bisa dikalahkan.

Karena jasa besarnya tersebut, Gajah Mada diangkat sebagai patih Majapahit. Dari sini, karir militer Gajah Mada semakin moncer. Di hari-hari berikutnya, dipercaya untuk menumpas para pembelot kerajaan. Tercatat karena jasanya itu, dia pernah diangkat sebagai Patih Doha (Kediri) dan Patih Kahuripan (sekarang Sidoarjo).



Di masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi, posisi Gajah Mada diangkat lebih tinggi menjadi mahapatih setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (masuk Kabupaten Situbondo). Pada periode inilah Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran kerajaan Majapahit ke segala penjuru. Banyak kerajaan penting berhasil direbut Majapahit, seperti Kerajaan Pejeng (Bali), sisa-sisa kerajaan Sriwijaya dan Malayu.

Puncaknya, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Amangkubumi dan kembali menjadi tokoh sentral kemajuan Majapahit di zaman Hayam Wuruk, termasuk salah satu peristiwa penting dan kontroversi hingga kini masih simpang siur yaitu Sumpah Palapa.

Dalam Kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca, kekuasaan Majapahit yang didapat dari peperangan maupun monopoli dagang terbentang dari Papua, Sumatera, Tumasik (sekarang disebut Singapura), hingga sebagian pulau di Filipina. Semua terbingkai dalam peta Nusantara.

Lantas siapa sebenarnya Gajah Mada ini? Di mana tempat asal Gajah Mada? Mengapa karirnya begitu cepat melesat? Apakah benar dia orang dalam istana yang sempat terasingkan?(Asal Usul)

Asal Mula Kue Nastar

Add Comment
Asal Mula Kue Nastar - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan setelah sebulan lamanya melaksanakan ibadah puasa. Untuk merayakannya, masyarakat akan menyediakan berbagai makanan khas lebaran, baik makanan berat maupun ringan.

Salah satu makanan khas yang tidak boleh ketinggalan untuk disajikan saat Lebaran adalah kue Nastar. Kue berbentuk bulat dengan warna kuning keemasan ini hampir selalu ada di tiap-tiap rumah.

Tak banyak orang yang mengetahui sejarah dari kue berisi selai nanas tersebut. Padahal secara tidak langsung, nastar sudah menjadi kue turun temurun dan resep yang digunakan pun hampir sama.



Nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu Annanas atau nanas dan Taart atau tar, sehingga bisa diartikan sebagai tar nanas. Sebenarnya kue ini terinspirasi dari kue pie buatan orang Eropa dengan isian buah blueberi dan apel.

Akan tetapi, karena di Indonesia saat itu sulit menemukan kedua buah tersebut maka orang Indonesia menggunakan buah nanas yang tumbuh di negara tropis. Nastar ala Indonesia memiliki bentuk lebih kecil dibanding pie atau kue tar eropa pada umumnya.

Selain dari bahasa Belanda, nama nastar juga diambil dari bahasa asing, yaitu nastaart yang berarti kue nanas. Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya dinamakan pineapple tarts, atau pineapple nastar roll, yang populer saat merayakan natal atau lebaran.

Bukan hanya itu, nastar juga dijadikan makanan khas saat perayaan Imlek, karena memiliki arti dan simbol khusus bagi etnis Tionghoa. Dalam Bahasa Hokian, nastar diartikan sebagai ong lai (buah pir emas) yang berarti 'kemakmuran datang kemari', rezeki, dan keberuntungan datang. Di samping itu, warna emas serta manis dan lembutnya isi nanas melambangkan rezeki yang manis, dan melimpah.

Seiring majunya teknologi dan pengetahuan, kue ini sudah dikembangkan dalam berbagai varian rasa, seperti stroberi, blueberi, dan lain-lain. Bahkan nastar yang dinobatkan sebagai kue rumahan, kini banyak diperjualbelikan di toko roti, toko kue, dan pasar swalayan dalam kemasan toples plastik.(Asal Usul)

Asal Usul Seblak

1 Comment
Asal Usul Seblak - Warga Bandung mana yang kini tidak tahu seblak? Cemilan bercita rasa pedas dengan aroma kencur yang kuat itu memang sudah menjadi primadona akhir-akhir ini.

Seiring dengan naiknya pamor seblak, tahu kah Anda dari mana asal usul seblak itu? Seblak merupakan penganan khas Bandung yang sebenarnya mirip dengan makanan dari daerah Sumpiuh, Jawa Tengah.



Tak sedikit yang menyebut bahwa seblak merupakan penganan asal Jawa Tengah. Hal tersebut dilatarbelakangi karena seblak sangat mirip Krupuk Godog yang sudah populer sejak 1940-an, sementara seblak baru populer sekitar tahun 2000-an.

Pemilik Nanutz Mania Riza Rizki Adhiyaksa, mengatakan tak sedikit orang beranggapan bahwa seblak merupakan kerupuk kuning yang dimasak dengan cita rasa pedas. Padahal, seblak merupakan nama bumbu yang terbuat dari kencur atau cikur dalam bahasa Sunda.

"Ada kan yang mikir kalau seblak itu adalah kerupuk yang digoreng dan rasanya pedas. Padahal, seblak itu adalah bumbu. Nah kerupuk itu adalah topingnya," ujar Riza kepada Merdeka.com, Rabu (4/11).

Riza menjelaskan, kini seblak memiliki banyak varian. Mulai dari kerupuk kuning, makaroni, tulang, tahu, bakso, siomay, batagor, hingga mie lidi. Seblak kini menjadi makanan yang banyak penggemarnya, khususnya bagi kawula muda.

Dengan tekstur kenyal, seblak sangat nikmat disantap kala panas dan pedas. Tak sulit membuat seblak. Hanya perlu mengolah bawang merah, bawang putih, serta kencur dihancurkan menjadi satu. Kemudian ditumis dengan beragam toping, diberi air dan cabai.

"Saya membuat seblak sangat simple. Ini adalah seblak instan dengan dikemas menggunakan cup plastik lengkap dengan tutup dan lubang pembuangan air. Jadi masaknya kayak mie instan, tinggal seduh saja," tuturnya.

Bahkan tak hanya Nanutz Mania yang membuat seblak instan. Pengemasan beragam penganan yang dibuat praktis kini memang dicari. Untuk itu, Mommy Seblak juga membuat cemilan tersebut dengan instan.

Bahkan, kini ada varian seblak anyar, yakni rasa rendang. Kehadiran seblak rendang ini, dipaparkan oleh pemilik Mommy Seblak yakni Lofty Rainidi, karena rendang merupakan makanan asli Indonesia yang menjadi favorit.

"Basic-nya sama saja seblak hanya ada penambahan bumbu rendang. Jadi orang bisa mencicipi seblak dengan rasa baru dan penasaran. Enggak hanya yang itu-itu saja jadinya kan," ujar Lofty.(Asal Usul)

Arti Kata Ebes dalam Boso Walikan Malang?

Add Comment
Arti Kata Ebes dalam Boso Walikan Malang? - Sejak awal digunakan hingga kini ebes merupakan salah satu kata dalam boso walikan yang sangat populer walau mengalami pergeseran makna.
"Plo, lapo umak kok ketok kesusu ngono? (Plo, mengapa kamu tampak begitu tergesa-gesa?)"
"Iki Mbez, dikongkon ebes ndang moleh ayas (ini Mbez, aku disuruh bapak cepat pulang)"

Dialog khas Malang seperti itu barangkali sudah tidak aneh dalam pergaulan kita sehari-hari. Boso Malangan atau juga biasa disebut osob kiwalan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa khas Malang yang umum dipakai baik oleh orang tua ataupun pada anak muda.



Berawal dari sebuah bahasa yang digunakan sebagai sandi khusus pada masa revolusi fisik, bahasa ini kemudian berkembang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari bagi orang Malang. Walaupun secara teori osob kiwalan pada dasarnya merupakan dialek bahasa Jawa yang kosakatanya berasal dari berbagai kata yang dibalik, namun bahasa ini juga memiliki beberapa kosakata sendiri yang cukup khas.

Berbagai kosakata ini kadang tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau Jawa saja namun juga dari bahasa asing. Salah satu kata yang diduga berasal dari bahasa asing adalah kata 'ebes' yang cukup lazim dan sering digunakan. Pada saat ini kata tersebut memiliki arti untuk menyebut orang tua laki-laki sehingga artinya setara dengan ayah atau bapak. Sedangkan untuk menyebut orang tua perempuan, digunakan kata lain yang hampir serupa yaitu 'emes'.

Kata 'ebes' sendiri disebut sesungguhnya berasal dari bahasa Arab yaitu 'abah' atau 'sebeh'. Dari kata tersebut, kemudian arek-arek Malang membaliknya dan akhirnya menjadi 'ebes'. Namun lucunya, ebes yang sudah mengalami proses dibalik tersebut malah sering mengalami proses dibalik lagi sehingga kembali pada bentuk awalnya yaitu 'sebeh'.

Walaupun saat ini 'ebes' lebih banyak digunakan untuk menyebut ayah atau bapak, namun pada sekitar tahun 70-an, kata tersebut bisa digunakan untuk menyebut orang tua saja terlepas dari jenis kelaminnya. Keterangan tersebut dijelaskan oleh Toha, salah satu pengguna osob kiwalan sejak tahun 70-an.

"Jaman dulu itu, 'ebes' bisa dipakai buat nyebut bapak atau ibu. Kalau ke bapak jadinya 'ebes nganal' dan kalau ke ibu jadinya 'ebes kodew'," tutur Toha pada Merdeka.com.

Istilah 'nganal' sendiri berasal dari kata lanang atau pria, sedangkan 'kodew' berasal dari kata wedok yang memiliki arti perempuan. Dijelaskannya bahwa saat itu tidak umum dan hampir tidak ada yang menggunakan 'emes' untuk menyebut ibu.

Walau umum digunakan, namun istilah ebes sesungguhnya tidak digunakan untuk memanggil langsung orang tua. Dijelaskan Toha bahwa sebenarnya istilah ini digunakan untuk menyebut orang tua sebagai orang ketiga dan tidak untuk menyapanya secara langsung.

Dia mencontohkan bahwa kata tersebut biasa digunakan seperti ini, "Ebes-e Hadi wingi mari budal munggah kaji (ayahnya Hadi kemarin berangkat naik haji)", atau bisa juga digunakan dalam bentuk menanyakan kabar orang tua dari teman, "Yak opo rabak-e ebes? tahes a? (bagaimana kabarnya bapakmu? apakah sehat?)".

Penggunaan sebutan yang tidak langsung ini digunakan karena kata ebes dianggap sebagai kata yang tidak sopan untuk digunakan menyapa ke orang tua secara langsung. Namun pada beberapa kasus untuk menyapa ke orang lain yang lebih tua, kata ini masih kadang digunakan karena menunjukkan keakraban.

"Lek jaman dhisik nyeluk nang bapak opo ibuk nggawe ebes, yo iso diambleki sampek gembuk mas! (kalau dulu menyapa ayah atau ibu dengan kata 'ebes' ya bisa dipukuli sampai lunak mas!)" tandas Toha.(Asal Usul)

Singa sebagai lambang Malang mulai zaman Singosari hingga Arema

Add Comment
Singa sebagai lambang Malang mulai zaman Singosari hingga Arema - Singa memang sangat identik dengan wilayah Malang. Hewan ini menyertai mulai dari nama kerajaan Singosari, lambang kota hingga simbol Arema.

Singa merupakan suatu hal yang cukup identik dengan kota Malang. Bukan hanya karena lambang singa digunakan oleh salah satu kesebelasan kebanggaan Malang yaitu Arema, namun singa juga terkandung dalam simbol kota Malang pada zaman dahulu serta pada nama salah satu kerajaan yang pernah ada di Malang yaitu Singosari.


Singhasari atau Singosari merupakan salah satu kerajaan terbesar yang ada di Nusantara. Bahkan singosari ini merupakan salah satu embrio dari kerajaan Majapahit yang kelak kekuasaannya sangat luas. Digunakannya kata 'Singha' yang merupakan awal dari singa menjadikan hewan ini memang sangat identik dengan kerajaan tersebut.

Pada masa Majapahit, sosok singa yang identik dengan wilayah Malang ini juga kembali dilanggengkan dan diteruskan. Pada dua candi yang berada di wilayah Malang dan dibangun pada masa Majapahit yaitu candi Jago dan Kidal juga terdapat patung sosok singa. Walaupun sedikit berubah, di relief candi Jago juga terdapat cerita mengenai singa sebagai lawan dari banteng.

Sosok singa yang ditampilkan pada candi ini biasa diasosiasikan sebagai penjaga dari sebuah kota atau kerajaan. Hewan ini diharap mampu menjadi simbol pelindung sebuah kota atau negara dari serbuan lawan serta menghalau serangan berbagai makhluk halus.

Sosok pelindung ini lah yang kemudian diteruskan pada masa Hindia Belanda. Pada masa itu lambang kota Malang adalah sepasang singa yang memegang tameng dengan gambar singa lainnya. Di bawah kedua singa tersebut terdapat tulisan "Malang Nominor Sursum Moveor" yang memiliki arti Malang namaku, maju tujuanku.


Lambang kota bergambar singa ini digunakan mulai tahun 1937 hingga akhirnya berubah pada tahun 1951. Pada tahun 1964 untuk peringatan 50 tahun kota Malang, lambang sempat kembali lagi kepada sosok yang menonjolkan singa. Kemudian lambang Malang berubah menjadi Tugu seperti yang kita kenal saat ini pada tahun 1970.

Singa kembali menjadi lambang yang dikenal di Malang sejak digunakan oleh Arema sebagai lambang dari mereka. Arema yang memiliki sebutan sebagai singo edan, lahir di Malang pada 11 Agustus 1987. Penggunaan lambang singa juga sebenarnya juga dengan alasan yang cukup sepele karena tanggal lahir dari Arema yang dinaungi rasi bintang Leo. Namun berkat hal itu justru sosok singa semakin melekat dengan Malang.

Beragam hubungan dengan singa baik sebagai pelindung maupun identitas menjadikan hewan tersebut sangat identik dengan Malang. Bahkan perilaku masyarakat Malang yang serba buka-bukaan dan lugas seakan menunjukkan bahwa mereka memiliki jiwa singa. Jadi tidak heran jika Malang identik sebagai kandang singa.(Asal Usul)

Asal-usul Istilah Mbois

Add Comment
Asal-usul Istilah Mbois - Sejak pertama digunakan hingga saat ini, kata mbois sudah mengalami perluasan makna namun masih kerap digunakan sehari-hari.

"Plo, ate nang endi umak? kok cik mbois temen talah! (Plo, kamu mau kemana kok mbois sekali?)"

"Iki lho Li, aku ate ngamrin karo ojob nang alun-alun (Ini Li, aku hendak pacaran di alun-alun)"



Sebagai sebuah kata pujian, mbois atau mboys sudah sangat sering kita dengar terutama di kota Malang. Istilah ini biasanya digunakan untuk memuji penampilan dari seseorang terutama ketika memang benar-benar terlihat menarik dan keren.

Uniknya walau saat ini digunakan secara universal untuk memuji penampilan baik pria maupun wanita, namun sesungguhnya mbois ini digunakan untuk memuji penampilan yang terlihat laki-laki. Asal kata dari mbois adalah boyish yang berarti terlihat kelelaki-lelakian atau tampak seperti pria. Saat ini sendiri, kata boyish lebih melekat pada fashion wanita yang bergaya seperti pria.

Walau saat ini asal kata dari mbois lebih lekat dengan penampilan tomboy atau berkesan lelaki, namun kata mbois ini memiliki fungsi yang sangat berbeda. Umumnya kata ini dijadikan sebagai padanan dari kata keren dan tidak memandang gender baik itu pria atau wanita.

Di masyarakat Malang pada era yang lebih lama, sesungguhnya ada kata padanan lain dari mbois yang digunakan untuk memuji penampilan seseorang. Selain mbois, istilah yang biasa digunakan adalah setil atau nyetil yang juga asal katanya dari bahasa Inggris style. Kata setil atau nyetil ini bisa berarti keren dan bergaya.

Walau sepadan dan biasa digunakan untuk memuji, namun biasanya kata mbois lebih pada gaya berpakaian yang keren dan tidak begitu formal. Sedangkan setil atau nyetil biasa digunakan ketika berpakaian rapi dan klimis. Walau begitu dua kata ini tetap biasa digunakan sebagai pujian pada masa itu.

Namun seiring berlalunya waktu, kata setil mulai jarang digunakan sedangkan mbois tetap kerap digunakan masyakarat bahkan penggunaannya kian menyebar. Istilah mbois kini tidak hanya untuk mengomentari gaya atau penampilan seseorang saja namun juga berbagai hal lain yang dianggap keren seperti perilaku ataupun hal yang dimiliki.

Jadi sudah paham apa arti kata mbois?! Lek durung paham yo gak mbois blas umak!(Asal Usul)

Jejak Yamin Mengubah Naskah Sumpah Pemuda

Add Comment
Jejak Yamin mengubah naskah Sumpah Pemuda - 28 Oktober selalu dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ketika itu, perwakilan pelajar di era kolonial Hindia Belanda menggelar kongres yang ditulis di buku-buku sejarah telah menghasilkan tiga butir sikap mencerminkan nasionalisme. Yaitu pengakuan atas tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.

Namun tak banyak yang tahu, isi teks sumpah pemuda pasca tahun 1950 berbeda dengan aslinya, menurut dia teks sumpah pemuda tak memakai kata 'satu' dalam tiga butir yang dihasilkan dalam kongres sumpah pemuda II.



Menurut surat kabar Sinpo, bunyi asli hasil kongres adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Isi putusan kongres pemuda diubah oleh Muhammad Yamin yang disodorkan kepada Soegondo. Ketika itu, Sunario sedang berpidato dalam kongres pemuda. Yamin berbisik kepada Soegondo, "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie," (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).

Kemudian Soegondo membubuhi paraf pada secarik kertas tersebut, dan diteruskan kepada para pemuda lain. Sehingga Soegondo membacakan isi sumpah pemuda dengan dijelaskan oleh M Yamin.

Isi naskah Putusan Kongres Pemuda - pemuda Indonesia hasil perubahan Muhammad Yamin adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejarawan JJ Rizal, melalui diskusi di Cikini empat tahun lalu, menjadi salah satu intelektual yang terlibat polemik sejarah naskah asli Sumpah Pemuda. Menurut Rizal, terus menyebut Sumpah Pemuda sebagai hasil kongres pemuda ke-II akan mengkhianati sejarah sebenarnya.

"Kata Sumpah Pemuda itu baru diintroduksi sejak tahun 1958, waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar," ujarnya.

Juru bicara Museum Sumpah Pemuda, Endang Pristiwaningsih mengatakan, saat itu organisasi pemuda didirikan Budi Utomo, namun anggotanya ada muda dan tua. Oleh sebab itu, para pemuda yang berada di Batavia mendirikan organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

"Terus lahir organisasi pemuda pertama awalnya trikorodarmo, kemudian dari trikorodarmo menjadi Jong Java," kata Endang saat ditemui merdeka.com di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Senin (25/10).

Setelah itu, kata dia seluruh pemuda mempunyai gagasan untuk mengumpulkan organisasi kepemudaan. Sehingga mereka membentuk kerapatan pemuda yang saat ini disebut Kongres Pemuda I.



Museum Sumpah Pemuda (c) 2015 merdeka.com/intan umbari prihatin

Nah di kongres pemuda I itu belum berhasil dilanjutkan kongres pemuda II, sama yang dihadiri organisasi-organisasi itu, kepanitian juga berasal dari organisasi itu ada Jong Java, Sumatera dan lainnya," kata Endang.

Dia membantah bahwa para pemuda tersebut bukan utusan yang mewakili daerahnya. Menurutnya, mereka ikut Kongres Pemuda karena sudah lama tinggal di Batavia dan menempuh sekolah tinggi. Kemudian, mereka berinisiatif membentuk organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

"Ya mereka memang tinggal disini kan mereka sekolah di sini. Jadi ini (Museum Sumpah Pemuda) dulu kos-kosan, kemudian pelajar yang tak tertampung di Stovia, kosannya di sini.

Menurut Endang organisasi pertama Jong Java lahir di Stovia, kampus kedokteran yang sekarang beralih menjadi fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Belakangan menyusul berdiri organisasi kedua, yakni Jong Sumatra yang juga berisi kumpulan mahasiswa rantau asal Sumatra di Batavia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa naskah sumpah pemuda berasalkan keputusan bersama para pemuda bukan ide gagasan Muhammad Yamin yang disodorkan kepada Soegondo.

"Semua para pemuda di situ, saya rasa cuma hanya Yamin tidak bisa. Semua pemuda yang hadir di situ, dihadiri sekitar 700 orang," jelasnya.

Menurutnya, M. Yamin tak ikut kepanitian Kongres Pemuda I di Batavia. Kongres Pemuda yang paling berperan adalah Muhammad Tabrani seorang yang berprofesi wartawan.

M. Yamin hanya tampak pada Kongres Pemuda II sebagai sekretaris. Sedangkan Presiden Soekarno dalam Kongres Pemuda hanya berkunjung di Gedung Indonesische Clubhuis (IC) untuk membahas formatur perjuangan melawan Belanda.

"Jadi pemuda itu sudah punya tekat tapi kebetulan waktu itu yang punya julukan nakal, pintar tapi banyak akalnya Tabrani, yang menjadi Ketua Kongres Pemuda I berkat kelihaian beliau kerapatan besar berhasil," kata dia.

Dia juga bercerita tujuan dibentukanya Kongres Pemuda I untuk menyatukan pemuda agar Indonesia bebas dan merdeka. Setelah itu, Kongres Pemuda II diputuskan untuk bersumpah satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa.

Dalam isi sumpah pemuda tak ada perubahan dan tak heroik. Menurutnya, para pemuda yang tergabung Kongres Pemuda yang melahirkan sumpah pemuda bukan M. Yamin dan Soekarno.

"Jadi kalau kita bicara siapa yang menginginkan atau siapa yang melahirkan sumpah pemuda, ya para pemuda dari berbagai organisasi," tandasnya.

Sementara Rizal berkukuh perayaan Sumpah Pemuda pada 29 November merupakan gagasan Soekarno. "Waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar," ujar Rizal.

Selain itu, kata Rizal generasi yang mengatasnamakan pemuda menggunakan sumpah pemuda untuk membedakan identitas dengan generasi tua. "Pada akhirnya, kelompok membuat itu untuk membedakan diri dengan orang-orang tua yang konservatif," urainya.(Asal Usul)

Asal Usul Istilah Bajingan

Add Comment
Asal Usul Istilah Bajingan - Bajingan adalah sebuah istilah kata yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara (sopir) gerobak sapi. Lantas kenapa istilah bajingan kemudian bergeser menjadi sebuah kata makian? Padahal kata itu adalah merujuk sebuah profesi seseorang?

Dahulu kala pada tahun 1940 an, di daerah Banyumas sarana transportasi sangat sulit untuk ditemui. Masyarakat yang ingin berkegiatan di kota seperti berdagang, atau hanya mejeng biasanya menggunakan jasa gerobak sapi (cikar). Pada saat itu gerobak sapi merupakan satu satunya alat transportasi yang bisa diandalkan oleh masyarakat pinggiran untuk membawa mereka ke kota, selain berjalan kaki.

Asal Usul Istilah Bajingan



Namun kedatangan cikar yang disopiri oleh Bajingan ini tidak menentu, bisa siang hari, pagi hari, bahkan tengah malam. Karena ketidakpastian waktu tersebut, masyarakat yang ingin numpang gerobak sapi terpaksa jalan kaki jika.

Nah.. Karena itulah keluar kalimat sedikit sindiran atau umpatan seperti ini : “Bajingan suwe tenan to tekane!” (bahasa Jawa) yang artinya: “Bajingan lama sekali sih datengnya”. Dari situ Bajingan mengalami pergeseran makna menjadi kata umpatan.

Dahulu, umpatan bajingan hanya digunakan sebagai analogi atas keterlambatan sesuatu atau seseorang, misalnya “Seka ngendi bae kowe, suwe temen to kaya bajingan” yang artinya: Darimana saja kamu, lama sekali seperti bajingan. Namun pada masa sekarang, bajingan menjadi kata umpatan yang lebih umum dan tidak merujuk pada kekesalan mengenai keterlambatan atas sesuatu.(Asal Usul)

Asal-Usul Dana PKI

Add Comment
Asal-Usul Dana PKI - DN AIDIT bukanlah perokok –tidak sebagaimana digambarkan dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI. Dan demi terselenggaranya Kongres ke-6 PKI, dia mengajak kawan-kawannya di Dewan Harian Politbiro CC PKI agar berhenti merokok.



Asal Usul Dana PKI

Ajakan itu tak bertepuk sebelah tangan. Anggota Dewan Harian memutuskan berhenti merokok, “sedangkan kepada semua pemimpin dan anggota PKI dianjurkan juga untuk menghentikan merokok atau sekurang-kurangnya mengurangi rokok, dan menyerahkan uang yang biasanya untuk membeli rokok buat dana kongres,” demikian isi Resolusi Dewan Harian Politbiro CC PKI tanggal 5 Januari 1959.

Resolusi juga menyerukan penghematan, baik di kantor-kantor partai maupun rumah-rumah anggota, terutama pimpinan partai. Selain itu, seruan kepada anggota untuk melakukan suatu pekerjaan atau menanam tanaman jangka pendek. Hasilnya diserahkan sebagian atau seluruhnya untuk dana kongres.

Gerakan menutup biaya kongres sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Pada 4 Desember 1958, Panitia Kongres mengedarkan instruksi ke Comite Daerah Besar (CDB), Comite Pulau (CP), dan Fraksi Pusat. Setiap anggota dan calon anggota ditetapkan menyumbang Rp 3, yang bisa diangsur tiga kali. Sementara CDB dan CP diharapkan melakukan berbagai kegiatan penggalangan dana.

Semua upaya itu berbuah manis. Bahkan laporan Kongres ke-6 menyebutkan, jumlah sumbangan melebihi pengeluaran kongres. Diputuskan sisa dana dipakai untuk perluasan gedung Comite Centeral Partai dan jika ada sisanya untuk pembangunan Gedung Kebudayaan di Jakarta –kedua proyek ini juga mengandalkan sumbangan anggota.

Sebagai bentuk terima kasih kepada rakyat, atas usul Aidit, Kongres ke-6 menyetujui dan mengeluarkan resolusi “Bentuk dan Kembangkan Regu-regu Kerjabakti”.

Seretnya Iuran Anggota

Kampanye penggalangan dana hanyalah salah satu cara menutupi pengeluaran partai, terutama yang insidental. Hal yang sama dilakukan selama kampanye pemilu 1955. Namun kebutuhan partai sangatlah besar. Dari kerja-kerja rutin partai hingga membayar gaji pegawai partai. Dari kursus kader hingga penerbitan. Dari gelaran kongres hingga perayaan peringatan nasional atau internasional. Dari mana pemasukan partai?

Konstitusi PKI menyebutkan, partai dibiayai oleh uang pangkal dan iuran anggota, usaha-usaha produktif dan ekonomi lainnya yang dilakukan oleh partai, serta sokongan dari orang-orang dan golongan di luar partai.

Uang pangkal dan iuran anggota menjadi sumber utama partai. Nominal iuran tidak dipukul rata, tergantung penghasilan tiap anggota selama satu bulan. Berdasarkan Konstitusi PKI tahun 1954, misalnya, yang terendah Rp 0,50 untuk anggota berpenghasilan di bawah Rp 150, dan yang tertinggi, untuk anggota berpenghasilan Rp 651 ke atas, iurannya sebesar 1,5% dari penghasilan kotor dan dibulatkan ke atas dengan Rp 0,50. Sementara uang pangkal disesuaikan dengan nominal uang iuran yang dibayarkan.

Yang menangani uang pangkal dan iuran adalah CDB atau CP. Dari dana yang terkumpul, mereka mendapatkan 90 persen, sementara sisanya mengalir ke kas CC. CDB dan CP juga mengatur semua permasalahan keuangan, termasuk keperluan Comite di bawahnya.

Baca Juga :

Kendati wajib, iuran tak mengalir lancar. Misalnya dialami Comite Djakarta Raya (CDR) PKI pada 1954. Dalam dokumen KOTI No 261, CDR mengemukakan, “penyetoran belum dilakukan oleh seluruh Subsecom-Subsecom di semua seksi dan belum merata meliputi seluruh anggota dan calon-calon anggota....”

Seretnya iuran anggota masih terjadi pada 1956 sehingga menjadi salah satu bahasan dalam Rapat Pleno II CDR. Kesimpulannya, ini bukan hanya masalah teknis tapi juga ideologis: egosentris, otonomisme, subjektivisme, dan meninggalkan cara kerja kolektif. Diputuskan CDR akan melakukan kampanye atau penjelasan kepada semua tingkat organisasi partai di bawahnya.

CDB lainnya mengalami hal serupa, yang berimbas pada kerja-kerja partai. Upaya CC mengubah aturan agar Comite Subseksi (CSS) langsung menyetorkan 10 persen dari iuran anggota ke CC juga tak membuahkan hasil. Tak semua CSS memenuhi instruksi tersebut.

Namun masalah keuangan juga dialami comite di bawahnya. Pada 23 Mei 1964, misalnya, CS Matraman mengeluarkan surat permohonan bantuan dana untuk menjamin kelangsungan hidup empat pegawai partai; dua orang sebagai fungsionaris dan dua lagi tenaga sekretariat. Sumbangan bisa berupa uang maupun bantuan lainnya. @history.id (Asal Usul)

Asal Usul Kata Hoax

Add Comment
Asal Usul Kata Hoax - Menurut Wikipedia Hoax itu adalah sebuah pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Asal Usul Hoax

Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. Suatu pemberitaan palsu berbeda dengan misalnya pertunjukan sulap; dalam pemberitaan palsu, pendengar/penonton tidak sadar sedang dibohongi, sedangkan pada suatu pertunjukan sulap, penonton justru mengharapkan supaya ditipu. Jadi pengunjung anehdidunia.blogspot, Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang biasanya digunakan dalam forum internet seperti facebook, tweeter, blog, dan yang paling sering adalah di forum Kaskus.



Tapi kebanyakan netter yang banyak menggunakan kata hoax justru tak tahu bagaimana sejarah penggunaan kata hoax sendiri, Kata hoax sebenarnya muncul pertama kali di kalangan netter Amerika, kata hoax didasarkan pada sebuah judul film yang berjudul The Hoax,

The Hoax adalah sebuah film drama Amerika 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallström. yang diskenario oleh William Wheeler, film ini dibuat berdasarkan buku dengan judul yang sama oleh Clifford Irving dan berfokus pada biografi irving sendiri,serta Howard Hughes yang dianggap dianggap membantu menulis. Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya yang diubah atau dihilangkan dari film, dan penulis kemudian berkata, "saya dipekerjakan oleh produser sebagai penasihat teknis film, tapi setelah membaca naskah terakhir saya meminta agar nama saya dihapus dari kredit film.itu mungkin disebabkan karna plot naskah tak sesuai dengan novel aslinya, "

Sejak itu, film hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan, sehingga kemudian banyak kalangan terutama para netter yang menggunakan istilah hoax untuk menggambarkan suatu kebohongan, lambat laun, penggunaan kata hoax di kalangan netter makin gencar. Bahkan kabarnya kata hoax digunakan oleh netter di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.(Asal Usul)

Asal-usul Celengan

Add Comment
Asal-usul Celengan - jika anda melancong ke kota Yogyakarta jangan lewatkan bertandang ke sentra gerabah. Dari arah pojok beteng kulon lurus ke selatan selama kurang lebih 10 – 15 menit, anda akan bertemu dengan sebuah desa bernama Kasongan. Terletak di wilayah Bantul, desa wisata ini tak pernah sepi dari wisatawan, domestik maupun mancanegara.

Kata gerabah berasal dari bahasa Jawa yang artinya menunjuk pada alat-alat dapur (kitchenware) dibuat dari bahan tanah liat yang dibakar. Pada awalnya istilah ini hanya digunakan oleh masyarakat berbahasa Jawa. Di luar itu, kata tembikar yang berasal dari bahasa Melayu barangkali lebih populer. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa tembikar adalah alat-alat yang bahannya berasal dari tanah liat, namun telah dilapisi dengan pelapis gilap yang kini umum disebut keramik. Sementara keramik sendiri berasal dari bahasa Yunani, keramos, yang artinya periuk atau belanga yang dibuat dari bahan baku tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Jadi antara gerabah dan keramik, prinsip maknanya adalah sama yaitu benda-benda berbahan dari tanah liat yang dibakar.



Namun di lapangan keduanya tetap sering dibedakan satu sama lain. Dengan merujuk pada kualitas pembakarannya, gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselen. Bata, genteng, pot, anglo, kendi, gentong dan celengan termasuk keramik dengan kualitas gerabah. Suhu pembakarannya masih berkisar di bawah 1000°C.

Sedang pada keramik batu atau yang juga biasa disebut “terakota” membutuhkan pembakaran suhu hingga 1200 – 1300°C. Keramik jenis ini termasuk kualitas menengah. Struktur dan teksturnya halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Biasanya dibuat jadi produk dengan ukuran skala besar, seperti guci atau pot tanaman. Sementara jenis porselin membutuhkan pembakaran suhu antara 1350 – 1400°C atau bahkan 1500°C. Ini kualitas terbaik. Kesannya sepintas tipis dan rapuh, tapi sebenarnya kuat karena struktur dan teksturnya rapat dan keras. Selain itu, pada proses pewarnaannya porselen mampu memunculkan kualitas warna yang cemerlang. Jenis ini umumnya dibuat produk tea set, coffee set, gelas, piring, vas kecil, dan souvenir.

Apa yang membuat Kasongan menarik sebagai daerah tujuan wisata ialah, selain di sana anda dapat membeli aneka rupa produk keramik baik tradisional maupun kontemporer, lebih dari itu pembuatan gerabah sebenarnya merupakan seni tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Jadi di sana anda juga dapat berwisata sejarah, dan melihat desa wisata dengan sentra industri yang sangat maju.

Secara historis, menurut Prof Timbul Rahardjo seni kerajinan keramik di Desa Kasongan sudah dimulai sejak masa Perang Diponegoro (1825 -1830), atau bahkan lebih lama dari itu. Sementara dari penelusuran Ponimin, disebutkan seni kerajinan gerabah ini konon dicikal bakali Kyai Song sejak tiga abad yang lalu. Waktu itu yang dibuat masih seputar peralatan rumah tangga seperti alas makan yaitu cowek atau cobek, yang sekarang kita sebut dengan nama piring. Sedang masyarakat yang berprofesi membuat gerabah ini dulu disebut dengan istilah kundhi.

Dalam perkembangan selanjutnya muncul para inovator dari Kasongan. Sebutlah nama Mbah Jembuk (1860 – 1942), selain membuat cowek sebagaimana umumnya masyarakat Kasongan, dia juga mulai membuat hiasan dinding dengan banyak variasi model berupa motif binatang. Berkat Mbah Jembuk perajin-perajin di Kasongan yang mereproduksi desain celengan dapat memperoleh manfaat dari hasil inovasinya.

Konon, ide awalnya datang dari seorang warga Belanda bernama Smith, yang datang ke Mbah Jembuk memesan patung babi sebagai tempat menyimpan uang pada awal abad ke-20. Coin boxes itu disebut celengan, yang berasal dari kata celeng atau babi hutan. Masyarakat menyebut celengan karena coin boxes babi pesanan Smith itu menyerupai babi hutan. Dalam perjalanannya benda itu kemudian dikonotasikan sebagai perilaku gemar menabung, yang dalam bahasa Jawa disebut nyelengi. Menariknya, meskipun coin boxes kini dibuat dengan mengambil banyak variasi bentuk, seperti ayam, katak, kuda dan lain sebagainya, namun toh tetap saja hingga kini benda itu disebut celengan.

Prestasi Mbah Jembuk mempopulerkan tradisi gerabah Kasongan tak berhenti di situ. Dia pernah membuat patung sepasang harimau, yang inspirasi bentuknya diambil dari lambang Kerajaan Belanda, untuk diarak pada karnaval memperingati penobatan Ratu Wilhelmina pada 1930 di Kabupaten Bantul. Karena itu Mbah Jembuk pun dipercaya membuat beberapa patung serupa untuk ditempatkan pada bagian pos penjagaan tentara Belanda. Tak kecuali, pada masa kekuasaan Sri Sultan HB VIII dan Sri Sultan HB IX, Mbah Jembuk juga dipercaya mendesain dan membuat pot tanaman untuk menghiasi lingkungan kraton. Karena tugasnya Mbah Jembuk diangkat kraton sebagai abdi dalem pakriyan.

Ide-ide orisinal karya Mbah Jembuk sebenarnya terbilang tidaklah terlalu banyak. Sebutlah antara lain patung harimau, benda-benda hias tempel pada dinding (seperti punakawan, kepala kerbau, kepala kijang), mustaka masjid, pasangan pengantin Jawa (loro blonyo), dan beberapa motif binatang untuk jenis celengan. Akan tetapi, dari karya-karya Mbah Jembuk inilah jadi penanda awal kehadiran seni gerabah Kasongan yang membawa ekspresi nilai artistik, yang dalam perkembangannya kemudian ditularkan kepada para perajin lain.

Meskipun Kasongan sebagai sentra industri gerabah tradisional sudah berlangsung lama, namun perubahan wajah industri itu secara cukup signifikan dan modern sebenarnya terjadi belum lama. Masyarakat Kasongan sendiri menyebut dekade 1960-an sebagai momentum awalnya. Ini bermula ketika Pemerintah melalui Departemen Perindustrian bekerjasama dengan STSRI “ASRI” melakukan pameran kerajinan gerabah Kasongan di Jefferson Library Yogyakarta pada tahun 1961.

Selain itu, kontribusi cendikiawan dan seniman di luar masyarakat Kasongan tak bisa dielakkan berperan penting turut memantik dan membentuk pengetahuan komunitas perajin gerabah. Sebutlah mereka antara lain: Larasati Soeliantoro Soelaiman, Sapto Hoedoyo, Widayat, Narno S, SP Gustami, dan para mahasiswa serta staf pengajar Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta yang kini telah menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kini berbagai macam produk kerajinan gerabah dibuat di sini, mulai dari kebutuhan sehari-hari, hiasan rumah hingga cinderamata dan pernak-pernik. Produk kerajinan Kasongan ini banyak yang berkualitas bagus, tak heran banyak produknya berhasil menembus pasar ekspor ke Amerika dan Eropa. Jangan heran pula seandainya beberapa perusahaan galeri terkenal di Eropa seperti Gucci, YSL, dan beberapa galeri desain interior tercatat telah melakukan banyak kerjasama dalam hal desain produk dengan para perajin Kasongan.

Banyak pelajaran berharga bisa disimak. Salah satu yang terpenting ialah muncul, tumbuh dan membesarnya sektor ekonomi kreatif di Desa Kasongan. Sektor ekonomi kreatif sudah tentu berbasis pada daya kreativitas sebagai ‘elan vital’-nya. Namun seluruh potensi dan daya kreativitas masyarakat tak bakalan moncer bernilai ekonomis ketika pihak-pihak terkait (stakeholder), termasuk di sini pentingnya peran pemerintah, gagal melakukan sinkronasi perencanaan agenda pembangunan dan sinergitas di tingkat lapangan.

Diakui atau tidak, masyarakat Bantul jelas telah berhasil melakukan semua hal itu. Maka tak usah heran melihat proses kebangkitan ekonomi masyarakat Bantul terhitung relatif singkat pasca gempa Bantul (2006), yang tak hanya telah menelan korban ribuan jiwa namun sebenarnya juga telah meratakan kota itu dengan tanah. Wong (m)Bantul pancen oye!(Asal Usul)

Asal Mula Tahun Kabisat

Add Comment
Asal Mula Tahun Kabisat - Tahun 2016 sekarang ini merupakan tahun kabisat. Tahun kabisat merupakan tahun yang 'datang' tiap empat tahun sekali. Dalam tahun kabisat, jumlah hari dalam setahun bertambah satu hari, dari 365 hari setahun menjadi 366 hari setahun.

Asal Mula Tahun Kabisat

Di tahun kabisat, penambahan satu hari ini terjadi pada bulan Februari. Pada bulan Februari akan ada hari ke-29, sedangkan di tahun bukan kabisat, bulan Februari hanya ada 28 hari.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tahun kabisat terjadi untuk 'menyeimbangkan' dan 'memperbaiki' jadwal waktu bumi mengelilingi matahari. Mengutip berbagai sumber, bumi membutuhkan waktu yang tidak tepat 365 hari untuk mengelilingi matahari. Sebenarnya, bumi butuh waktu 365-seperempat hari.



Istilah kabisat, atau leap year dalam bahasa Inggris, pertama kali dipopulerkan di era kaisar Romawi Julius Caesar dengan bantuan astronom asal Alexandria, Sosiogenes.

Sosiogenes menciptakan kalender Julian dengan menggunakan perhitungan ada 365,25 hari dalam waktu setahun.

Hanya saja karena dianggap tak praktis, dia pun menggunakan perhitungan pembulatan menjadi 365 hari setahun.

Mungkin Anda berpikir bahwa sisa, angka desimal di belakang koma ini tak ada artinya, akan tetapi jika jumlah ini ditumpuk sampai beberapa tahun, akibatnya jumlah eror perhitungan harinya bisa mencapai satu hari per empat tahun.

Jumlah satu hari ini pun ditambahkan dalam jumlah hari di bulan Februari.

Awalnya, di masa ini bulan Februari memiliki jumlah hari 29 hari per bulan. Dan di tahun kabisat, setiap empat tahun sekali, Februari akan memiliki jumlah hari 30.

Hanya saja, saat August Caesar menggantikan tahta Julius Caesar, dia mengganti bulan salah satu bulan di penanggalannya menjadi bulan August (Agustus).

"Jatah" hari di bulan Agustus yang harusnya hanya 30 hari, ditambahkan sehari menjadi 31. Bulan yang dikorbankan untuk ‘dicomot’ harinya adalah bulan Februari.

Untuk itu, Februari yang awalnya berjumlah 29 hari berkurang sehari menjadi 28 hari di penanggalan reguler (non kabisat).

Mengapa harus Februari? Ternyata bukan tanpa alasan jumlah hari di bulan Februari 'dicomot.' Dalam kalender yang digunakan di zaman itu, Februari adalah bulan terakhir dalam satu tahun.

Februari jadi bulan terakhir karena King Numa Pompilius menambahkan bulan Januari dan Februari untuk melengkapi 10 bulan yang sudah ada sebelumnya demi 'memperbaiki' jumlah hari yang ada setahun.

Karena Februari adalah bulan terakhir, maka ini adalah sasaran empuk untuk mengambil sehari dari jumlah hari yang dimilikinya. Penamaan bulan ini sudah dibuat sejak tahun pemerintahan King Numa Pompilius.

Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini pun kembali diperbaiki. Termasuk penyusunan nama bulan sampai jadi seperti sekarang ini.

Baca Juga :

Penyesuaian kriteria kalender kabisat pun juga diperbaiki. Setelah dipakai selama 1500 tahun, penanggalan ini kembali menimbulkan masalah. Pasalnya, setelah 1500 tahun, kesalahan penghitungan ini jadi selisih 10 hari, menurut perhitungan Dr. Aloysius Lilius.

Akhirnya Paus Gregorius XIII mengubah ketentuan penambahan dan membuat kalender Gregorian. Dalam aturan ini mereka memutuskan untuk menerapkan kriteria tahun kabisat.

Melalui penetapan ini, tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi empat. Hanya, ini tak berlaku untuk abad baru atau kelipatan 100, tahunnya harus habis dibagi 400. Penanggalan ini diresmikan pada tahun 1582.

Meski demikian, penanggalan kabisat seperti ini pun belum 100 persen akurat. Dalam kurun waktu ribuan tahun lagi, perhitungan ini akan kembali meleset satu hari. (Asal Usul)

Arti Marvin Gaye

1 Comment
Arti Marvin Gaye - Pernah di suatu postingan saya menyelipkan lagunya Charlie Puth berjudul “Marvin Gaye”. Lalu tiba-tiba saja banyak kata kunci pencarian masuk dalam bentuk “arti marvin gaye”. Dan di postingan itu saya benar-benar nge-troll karena saya cuma menyebutkan, “…jangan sekali-kali cari tahu arti Marvin Gaye ya…” Hasilnya, mungkin banyak orang-orang buka postingan itu dan hanya mendapati kalimat tersebut tanpa dapet apa arti sebenarnya Marvin Gaye itu.

Arti Marvin Gaye



Marvin Gaye = Make Love = Get Laid

Yup, kenapa saya melarang mencarinya karena arti Marvin Gaye sendiri adalah melakukan hubungan sex. Namun Marvin Gaye sendiri adalah seorang penyanyi sekaligus pendiri Sound of Motown. Di tahun 1970, dia menciptakan sebuah lagu berjudul “Let’s Get It On”. Menurut para kritikus lagu ini mempunyai sexually suggestive lyrics dan merupakan one of the most sexually charged albums ever recorded.

Baca Juga :

Dari situlah asal usul istilah Marvin Gaye. Entah kenapa malah nama penyanyinya yang dipakai bukan judul lagunya, haha. Jadi udah tau kan? Nah, sekarang, gimana cara make kata Marvin Gaye? Berikut contohnya yang diambil dari Urbandictionary:

I played some marvin gaye last night when my girl was over, and I got laid. BOING!!!
Dan Charlie Puth, di dalam lagunya, memakainya dengan lebih jelas:

Let’s Marvin Gaye and get it on
You got the healing that I want
Just like they say it in the song <– jelas banget kan?
Nah, bagi yang penasaran lagu “Let’s Get It On”, ini dia:


Catatan: Arti Marvin Gaye juga dipakai jika seseorang ditembak (pake senjata berapi) oleh keluarganya sendiri. Hal ini karena Marvin Gaye terbunuh karena ditembak oleh ayahnya sendiri ketika adu mulut.(Asal Usul)

Kisah Hotel Salak Bogor

2 Comments
Kisah Hotel Salak Bogor - jika menelisik perjalanan sejarah Bogor, maka Hotel Salak menjadi salah satu hotel tertua peninggalan Hindia-Belanda yang masih berdiri hingga saat ini. Sepanjang sejarahnya, hotel ini ternyata telah mengalami pergantian nama sebanyak enam kali.



Sejarah Hotel Salak Bogor

Pembangunan hotel ini dimulai pada tahun 1856, bersamaan dengan direnovasinya Istana Bogor oleh Gubernur Jenderal Belanda kala itu, Albertus Javob Duijmayer van Twist. Twist merenovasi bangunan istana lama yang rusak parah oleh gempa dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.



Adalah keluarga Twist yang memiliki dan mengelola hotel yang dinamakannya Binnenhof Hotel atau Dibbets Hotel ini. Hotel ini sendiri bisa dibilang sebagai hotel bintang empat pada masanya, terlebih lokasinya yang dekat dengan komplek Istana sehingga bisa menjadi tempat peristirahatan bagi para tamu sang Gubernur. Selain itu, hotel ini pun kerap menjadi lokasi pertemuan bisnis dan rapat-rapat yang membahas administrasi pemerintahan.

Pada tahun 1913, hotel ini mengalami masa-masa suramny, sampai-sampai namanya kembali berganti menjadi NV American Hotel. Sayangnya beberapa tahun kemudian hotel ini sempat mengalami kebangkrutan, sehingga pada tahun 1922 hotel ini dilikuidasi oleh E.A Dibbets sang manajer yang juga pemilik saham terbesar dari NV American Hotel ini. Sang manajer akhirnya mengganti nama hotel tersebut kembali ke asal yaitu Dibbets Hotel.

Pada tahun 1932, hotel ini kemudian berganti pemilik. Kemungkinan besar pemilik baru hotel ini juga memiliki atau mengelola Hotel Bellevue yang lokasinya berada tidak jauh dari Hotel Dibbets. Oleh pemilik barunya itu, hotel ini kembali berganti nama menjadi Bellevue-Dibbets Hotel.



Setelah Belanda harus bertekuklutut pada pemerintah Jepang dan mengaku kalah, hotel ini dikuasai oleh pihak Jepang yang kemudian menjadikannya sebagai Markas Militer Jepang atau Kempetai. Pada masa itu, semua bangunan yang dikuasai oleh Jepang harus dicat dengan warna hitam untuk mengelabui pihak musuh yang sewaktu-waktu bisa menyerang dari udara. Tak terkecuali bangunan hotel ini dan juga Istana Bogor (baca Fakta kelam Istana Bogor di tahun 1945 ).

Setelah Jepang menyerah kalah, pada tahun 1948 hotel ini diserahkan pada Pemerintah Indonesia, baru pada tahun 1950 hotel ini mengalami renovasi dan memiliki nama baru yaitu Hotel Salak. Pada tahun 1989, Hotel Salak pernah menjadi tempat syuting untuk film Warkop DKI (Dono Kasino Indro) yang berjudul 'Sabar Dulu Dong".



Hotel ini pun kemudian berganti nama lagi pada bulan September 1998 dengan nama baru Hotel Salak The Heritage yang masih digunakan hingga saat ini. Jadi dalam perkembangannya, hotel ini telah mengalami pergantian nama sebanyak enam kali.

(Asal Usul)

Tole Iskandar, Pejuang dari Gang Kembang

Add Comment
Tole Iskandar, Pejuang dari Gang Kembang - Taman Makam Pahlawan Dreded menjadi tempat peristirahatan terakhir Tole Iskandar seorang pejuang kemerdekaan yang meninggal saat berlangsungnya pertempuran melawan Inggris dan sekutu di Cikasindu, Sukabumi pada tahun 1947.
Tole Iskandar adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir di Gang Kembang, Ratu Jaya, Depok. Ayahnya bernama Raden Samidi Darmorahardjo bin Adam dan ibunda bernama Sukati binti Raden Setjodiwiryo, kakeknya pernah menjabat sebagai menteri perairan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda di Depok.



Peristiwa meninggalnya Tole Iskandar terjadi saat berlangsungnya pertempuran sengit pada tahun 1947 antara Batalion 8 Tentara Republik Indonesia dengan pihak Inggris dibantu sekutu. Saat gugur di medan pertempuran, Tole Iskandar berusia 25 tahun dengan pangkat Letnan Dua. Setelah dipindahkan dari Sukabumi, jenasah Tole Iskandar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dreded yang terletak di Jl Pahlawan Kota Bogor.

Jejak perjuangan Tole Iskandar sebenarnya bukan hanya saat bertempur melawan Sekutu di Sukabumi, namun ia juga memiliki catatan perjuangan bersama Laskar Pemuda Depok yang dikenal dengan sebutan Keompok 21. Saat itu bulan September 1945, Tole bersama tujuh anggota bekas Heiho dan 13 anggota dari Pemuda Islam Depok mengadakan rapat untuk pertama kalinya di sebuah rumah yang berada di Jl Citayam (red: kini Jl Kartini). Dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Barisan Keamanan Depok dengan Tole Iskandar sebagai komandan. Adapun ide pembentukan laskar tersebut adalah karena situasi di Depok yang terus bergolak setelah kemerdekaan. Pada saat itu, semua hal yang berbau belanda dan eropa dan penduduk yang tidak mau memasang bendera merah putih dianggap sebagai musuh atau penghianat.

Peristiwa penculikan dan perampokan kerap terjadi di beberapa wilayah, Bogor dan Depok serta semua wilayah yang berada di pinggiran Batavia sedang mengalami Revolusi Sosial. Buntutnya adalah pecahnya insiden di Jalan Pemuda, dimana sekelompok masyarakat merebut semua harta dalam peristiwa yang dikenal dengan 'Gedoran Depok'. Mereka juga menawan para keturunan Belanda-Depok ke Bogor. Para keturunan Belanda-Depok ini adalah mantan pekerja Cornelis Chastelein, mereka inilah yang kemudian mendapatkan jatah harta warisan dari Cornelis yang berupa tanah untuk dikelola.

Dalam sejarahnya, para pekerja-pekerja itu sengaja didatangkan dari Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Timor dan Bali. Setelah itu Cornelis kemudian membentuk 12 marga untuk mereka setelah dihapusnya perbudakan pada ahun 1714.  Ke 12 marga tersebut adalah Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Toseph, Yakob, Sudira, Samuel, Sadok, Isaac, Bakas, dan Tholence. Hingga kini keturunan dari mereka masi menetap di kawasan Depok Lama.

Kelompok 21 yang dipimpin oleh Tole Iskandar kemudian mengungsikan para Belanda-Depok ini di sebuah tempat dekat Stasiun Depok Lama agar tidak menjadi korban balas-dendam terhadap Belanda serta atas dasar kemanusiaan.  Sebelumnya, Tole sendiri ikut berjuang melawan penjajah Belanda di Depok, dan juga di Kalibata dan di Bogor.

Perjuangan Tole dan rekan-rekannya saat bertempur melawan para penjajah cukup mengenaskan, bayangkan saja, senjata yang dimiliki oleh Barisan Kemanan ini hanyalah berupa empat pucuk carabine sitaan dari polisi Jepang yang bertugas di Depok. Sementara pihak Belanda dan Sekutu dibekali dengan senjata yang lebih modern dan mematikan tentunya.

Pada tanggal 15 Oktober 1945, di Bogor dibentuklah Barisan Keamanan Rakjat (BKR) Resimen II yang membawahi empat Batalion, yaitu Batalion I berada di Depok, Batalion II di Leuwiliang, Batalion III di Cileungsi, dan Batalion IV di Kota Bogor.  Tole Iskandar dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Laskar Rakjat Depok (kelompok 21) kemudian melebun ke dalam Batalion I Depok. Setelah Batalion ini mulai bertugas di Depok, banyak pemuda Islam setempat yang mendaftarkan diri untuk menjadi anggot TKR. Mereka inilah yang kemudian berkali-kali menyerang pasukan Inggris di Pasar Minggu dan markas mereka di sebuah Pabrik sepatu Bata yang ada di Jl Kalibata Raya.

Pada tanggal 16 Juni 1946, Depok mendapat invasi besar-besaran dari Belanda dibantu Inggris dan sekutunya. Sejak itulah kondisi Depok kian memanas. Puncaknya setelah berhasil melakukan penyerangan terhadap pasukan Gurkha di Citayam, Pabuaran dan Bojonggede. Pada tahun 1947, Tole Iskandar terlibat dalam pertempuran sengit melawan Belanda di perkebunan Cikasindu. Dalam pertempuran tersebut, Tole Iskandar gugur. Gugurnya Tole menjadi pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun ikut berjuang bersamanya.

Pada tanggal 17 Januari 1948, sesuai perjanjian Renville, Jawa barat harus dikosongkan dari Pejuang. Dengan berat hari, Pasukan Siliwangi pun kemudian hijrah ke Jawa Tengah. Untuk mengisi kekosongan pejuang di Jawa Barat, Jenderal Sudirman dan Tan Malaka kemudian berunding. Hasilnya dibentuklah pasukan rahasia yang mereka sebut dengan Divisi Bambu Runcing (BR) dibawah pimpinan Sutan Akbar seorang mahasiswa kedokteran yang mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API) bersama-sama para pemuda yang menghuni asrama menteng 31 ( sekarang Gd Juang).

Pada tanggal 11 Oktober 1949, Divisi Bambu Runcing mengeluarkan maklumat yang menentang hasil perundingan dengan Belanda tersebut. Mereka menganggap hasil perundingan itu adalah penghinaan terhadap bangsa dan menggerogoti cita-cita kemerdekaan.  Mereka menginginkan kemerdekaan 100%, alhasil perseteruan pun muncul di kalangan para pejuang terutama setelah diberlakukannya Restrukturisasi dan Rasionalisasi (RERA) di tubuh angkatan bersenjata. Setelah itu, meletuslah perang saudara.

Wilayah yang dikuasai oleh Bambu RIncing terus bergejolak, salah satunya Depok. Pimpinan Bambu Runcing di Depok saat itu adalah seorang jawara yang bernama Sengkud, dan mereka bermarkas di Bulak Garong ( kini Perumahan Pesona Kahyangan). Sengkud memang cukup dikenal karena sebelum menjadi pimpinan Bambu Runcing di Depok, ia pernah bergabung bersama Pertahanan Desa (PD).

Sejak saat itulah, situasi dan kondisi kota Depok kian mencekam. Pembunuhan terjadi hampir setiap hari. Revolusi Sosial yang terjadi telah mengubah pola pikir mereka. Laskar Rakjat yang tadinya berjuang bergerilya menghadapi para penjajah kini berubah menjadi perampok yang sadis. Namun yang menjadi korbannya adalah orang-orang yang dianggap bersebarangan dengan mereka.
Tole Iskandar memang telah lama gugur, namun nama dan perjuangan akan tetap abadi dalam coretan sejarah perjalanan bangsa. Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, sebuah Jalan Raya menggunakan namanya.

Semoga kita bisa menjadi penerus cita-cita mereka.
(Asal Usul)

Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran

Add Comment
Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran - Kota Bogor dipercaya memiliki hubungan lokatif dengan Pakuan yang menjadi ibukota Kerajaan Pajajaran yang pernah berkuasa di tatar Sunda. Asal dan usul penyebutan nama Pakuan itu sendiri terdapat dalam naskah-naskah lama dan beberapa sumber. Berikut ini asal dan usul nama Pakuan sebagai ibukota Pajajaran.

Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran

Dalam naskah berbahasa Sunda Lama, Carita Waruga Guru (1750) disebutkan bahwa penyebutan nama Pakuan Pajajaran adalah karena di lokasi tersebut banyak ditemukan pohon Pakujajar.



K.F. Holle (1869), dalam tulisannya yang berjudul 'De Batoe Toelis te Buitenzorg' mengungkapkan bahwa di dekat Kota Bogor ada sebuah kampung yang bernama Kampung Cipaku dengan sungainya yang memiliki nama yang sama Sungai Cipaku. Di sekitar kampung tersebut banyak ditemukan pohon paku, sehingga Hole beranggapan bahwa penyebutan nama Pakuan ada kaitannya dengan Kampung Cipaku dan pohon paku. Sedangkan Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar atau ia menyebutnya "op rijen staande pakoe bomen'.

Dalam jurnal 'Encyclopedia van Nederlandsch Indie' edisi Stibbe tahun 1919, G.P. Rouffaer menyebutkan bahwa Pakuan mengandung pengertian 'Paku'. Namun penyebutan ini haruslah diartikan dengan 'paku jagat' atau spijker der wereld yang melambangkan pribadi raja seperti halnya yang terdapat pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. Menurut Rouffaer, penyebutan 'Pakuan' sama artinya dengan 'Maharaja', sedangkan kata 'Pajajaran' diartikan sebagai 'berdiri sejajar' atau 'imbangan' (evenknie). Yang dimaksud oleh Rouffaer di sini adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Meskipun Rouffaer tidak menjelaskan apa sebenarnya arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya itu bisa ditarik kesimpulan bahwa Pakuan Pajajaran berarti 'Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit". Namun Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran berdiri pada tahun 1433.

Sementara R. Ng. Poerbatjaraka (1921) melalui tulisannya di 'De Batoe-Toelis bij Buitenzorg' atau 'Batutulis dekat Bogor' menjelaskan bahwa arti kata Pakuan semestinya berasal dari bahasa Jawa Kuno 'Pakwwan' yang kemudian dieja menadi 'Pakwan' (Ejaan ii tertulis pada Prasasti Batutulis). Logat dan Lidah orang sunda menyebut kata Pakwan menjadi Pakuan. Arti kata "Pakwan" itu sendiri adalah kemah atau istana. Jadi dalam hal ini, Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran itu artinya 'Istana yang berjajar' atau 'aanrijen staande hoven'.

Sekitar tahun 1957, H. Ten Dam seorang Insinyur Pertanian melakukan penelitian kehidupan sosial-ekonomi petani di Jawa Barat dengan pendekatan awal dari segi perkembangan sejarah. Melalui tulisannya yang berjudul 'Verkenningen Rondom Padjadjaran' atau Pengenalan sekitar Pajajaran, ia memberi penjelasan bahwa "Pakuan" ada hubungannya dengan 'lingga' atau tonggak batu yang terpancang di samping Prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan sering disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya memiliki pengertian 'Paku'.

Dam memiliki pendapat yang berbeda, ia beranggapan bahwa 'Pakuan' bukanlah sebuah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Sedangkan 'Pajajaran' ditinjaunya berdasarkan kondisi topografi. Dam sendiri merujuk pada laporan Kapten Wikler (1630) yang memberitakan bahwa ia melintasi Istana Pakuan di Pajajaran yang terletak di antara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang (Sungai Ciliwung dan Cisadane). Ia menarik kesimpulan bahwa Pakuan Pajajaran adalah Pakuan di Pajajaran atau 'Dayeuh Pajajaran'. Sebutan 'Pakuan', 'Pajajaran', dan 'Pakuan Pajajaran' bisa ditemukan dalam Prasasti Batutulis nomor 1 dan 2 sedangkan yang ketiga bisa ditemukan pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.

Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi "Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata) Sanghyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain yang diberikan untuk Sri Baduga.



Sedangkan yang disebut 'Pakuan' itu adalah 'kadaton' yang bernama Sri Bima dan seterusnya. "Pakuan' memiliki makna tempat tinggal untuk raja atau biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi dalam hal ini, tafsiran Poerbatjaraka lah yang mungkin sejalan dengan apa yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan yaitu Istana yang berjajar.

Di dalam area Kerajaan Pajajaran, diperkirakan berdiri 5 (lima) bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati.  Ini juga yang mungkin disebut dalam istilah klasik 'Panca Persada' atau lima keraton. Suradipati sendiri kemungkinan besar merupakan Keraton utama atau Keraton induk, jika dibandingkan dengan nama-nama keraton lain yang menggunakan kata 'Sura' misalnya Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarat pada masa silam.


Karena nama-namanya yang panjang itulah, orang-orang kemudian meringkasnya menjadi Pakuan Pajajaran  atau Pakuan atau juga Pajajaran. Nama keraton bahkan bisa menjadi lebih luas menjadi nama ibukota yang akhirnya menjadi nama negara, sebagai contohnya adalah nama keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian meluas menjadi nama ibukota dan daerah yaitu Yogya atau Yogyakarta.

Apa yang dijelaskan oleh Ten Dam (Pakuan = ibukota) mungkin saja benar dalam penggunaannya, namun salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda itu mempunyai nama "Dayo" atau 'Dayeuh' yang letaknya di daerah pegunungan yang jaraknya dua hari perjalanan dari pelabuhan Kelapa di muara Ciliwung. Sedangkan nama Dayo itu sendiri didengarnya dari penduduk atau pembesar di Pelabuhan Kelapa. Jadi sangat jelas di sini kalau orang-orang di Pelabuhan Kelapa menggunakan kata 'Dayeuh' bukan 'Pakuan' untuk menyebut sebuah ibukota. Dalam sehari-hari mungkin kata 'Dayeuh' itulah yang digunakan, namun dalam kesusastraan digunakan nama 'Pakuan' untuk menyebutkan ibukota Pajajaran.

Semoga menambah wawasan anda.

Read more: http://www.bogorheritage.net/2015/08/asal-dan-usul-pakuan-sebagai-ibukota_20.html#ixzz3ynFftmuE(Asal Usul)

Biografi KH Abullah bin Noeh

Add Comment
Biografi KH Abullah bin Noeh - K.H. R. Abdullah Bin Noeh lahir di Cianjur tanggal 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987. Selain maha guru para ulama ia juga merupakan seorang sastrawan, pendidik, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Sejak kedl mendapat pendidikan agama Islam yang sangat keras dari ayahnya, yakni K.H. R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris. Juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah AI’ Ianah Cianjur.

Biografi KH Abullah bin Noeh



Dalam pengawasan ketat ayahnya ini, Abdullah kecil belajar agama dan bahasa Arab setiap hari. Sehingga dalam waktu relatif masih muda, ia sudah mampu berbicara bahasa Arab. Di samping mampu pula menalar kitab alfiah (kitab bahasa arab seribu bait) serta swakarsa belajar bahasa Belanda dan Inggris. Berbekal ilmu yang telah dikuasainya itu, Abdullah bin Nuh muda mengajar di Hadralmaut School. Sekaligus menjadi redaktur majalah Hadralmaut, sebuah mingguan berbahasa Arab yang terbit di Surabaya, Jawa Timur sejak tahun 1922 hingga tahun 1926.

Setelah itu ayahnya mengirim Abdullah untuk menimba i1mu di Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah dua tahun lamanya Abdullah belajar di AI -Azhar, Kairo, Mesir, untuk kemudian kembali ke tanah air dan aktif mengajar di Cianjur serta Bogor. Hal itu dilakukannya sejak tahun 1928 hingga tahun 1943.
NASABNYA

H. R. Abdullah putra K.H. R. Nuh; putra Rd. H. Idris, putra Rd. H. Arifin, putra Rd. H. Sholeh, putra Rd. H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. Anawiratanudatar I (Dalem Cikundul).
CIANJUR DAN I’ANAH

Cianjur ialah sebuah kota yang sejak dahulu telah terkenal para ulama dan para pahlawannya, Para Ulama giat menyebarkan ilmunya. Tak kenal lelah dan tanpa mengharapkan upah. Para pahlawannya gigih, berani dalam melaksanakan perjuangan, tanpa pamrih gaji. Kesemuanya hanyalah mengharapkan keridhoan Allah SWT dan rahmat-Nya.

Pada tahun 1912 dikota Cianjur berdirilah sebuah Madrasah yang bernama Al-l’anah ; pendirinya ialah juragan Rd. H. Tolhah Al Kholidi, sesepuh Cianjur pada waktu itu. Dalam pembinaannya beliau dibantu oleh seorang Cucunya AI-Haafidh (yang hafal AI Qur’an) As-Sufi (yang menguasai kitab Ihya ‘Ulumuddin) K.H.R. Nuh, seorang ‘Aalim besar keluaran Makkah Almukarromah, murid seorang ulama besar yang ilmunya barokah, menyebar keseluruh dunia Islam, yang bermukim di kota Makkah AI-Mukarromah, yaitu : K.H.R. Mukhtar Al-thoridi, putra Jawa (Bogor)

Nadhir (Guru kepala) nya waktu itu adalah Syekh Toyyib Almagrobi, dari Sudan. Bertindak sebagai pembantu (guru bantu) adalah Rd. H. Muhyiddin adik ipar Juragan Rd. H. Tolhah AI-Kholidi. Murid pertamanya adalah : Rd. H. M. Sholeh Almadani.

Syekh Toyyib Almagrobi mengajar di AI-I’anah hanya 2 (dua) tahun, karena beliau diusir oleh.pemerintah Belanda. Maka untuk mengisi kekosongan, Nadhir AI-I’anag dipegang oleh AI Ustadz Rd. Ma’mur keluaran pesantren Kresek Garut (Gudang Alfiyah) dan lulusan Jami’atul Khoer Jakarta (Gudang Bahasa Arab). Di antara murid-muridnya ialah:
1.Rd. Abdullah,
2.Rd. M. Soleh Qurowi
3.Rd. M. Zen
Dari AI I’anah Almubarokah inilah muncul para pahlawan dan sastrawan Muslim yang namanya tidak akan sirna, tetap tercantum dalam lembaran sejarah, di antaranya ialah Rd. Abdullah bin Nuh. Beliau telah menguasai bahasa Arab sejak usia 8 (delapan) tahun (penjelasan beliau sendiri sewaktu hidup kepada salah seorang muridnya).

Rd. Abdullah bin Nuh adalah juara Alfiah, beliau sanggup menghafal Al-fiah lbnu Malik dari awal sampai akhir dan dibalik dari akhir ke awwal (demikian menurut AI-Ustadz Rd. Abubakar sesepuh Cianjur). Walhasil: kecerdasan, bakat dan watak Rd. Abdullah bin Nuh semenjak duduk di bangku Madrasah AI-I’anah sudah nampak jelas keunggulannya.

Selain belajar di AI-I’anah, Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayahnya beliau. (Beliau pernah berkata kepada salah seorang muridnya : “Mama mah tiasana maca Kitab lhya teh khusus ti bapa Mama” begitu dengan logat Cianjurnya). Jadi jelas, Kota Cianjur adalah Gudang Ulama, pabrik para pahlawan dan pusat para santri. Maka tidak heran kalau kota Cianjur sejak dahulu penuh dikunjungi oleh para peminat ilmu Syari’at Islam dari seluruh pelosok Jawa Barat, dari daerah Priangan Sarat sampai ke Timur seperti : Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
PEKALONGAN DAN SYAMAILUL HUDA

Pekalongan sebuah kota kecil yang mungil, berhasil mencetak kader-kader Muslim yang militan dan berwatak, membina mental pemuda -pemuda Islam yang berjiwa pahlawan dan bercita-cita tinggi menuju Indonesia Merdeka dengan landasan Kalimatullahi Hiyal ‘Ulya.
Di kota Pekalongan telah berdiri sebuah madrasah Arabiyyah yang benama “Syamailul Huda” yang terletak di JI. Dahrian (sekarang JI. Semarang). Madrasah tersebut mempunyai sebuah internat (pondok pesantren) dipinggiran JI. Raya, di tengah-tengah keramaian manusia, bahkan tepat berhadap-hadapan dengan sebuah gedung bioskop. Nakhoda madrasah tersebut ialah seorang Sayyid keturunan Hadrol Maut bernama: Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir AI-‘Alawi Al-Hadromi. Beliau seorang ‘Alim yang berjiwa besar, bercita¬cita tinggi, berpandangan luas. Beliau tak mengenal payah dan lelah, tak ingin melihat putra-putri Islam tidak maju. Beliau bersemboyan: “sekali maju tetap maju, bekerja dengan semangat, disertai ikhlas niat, pasti dapat dengan selamat “.

Di Madrasah dan internat inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendidik, menerapkan ajaran Islam, menggemleng pemuda-pemuda yang berwatak, calon pahlawan/ Da’i/ Muballig dan Ulama.

Syamailul Huda dan internatnya, laksana Masjidil Harom dan Darul Arqom di zaman Rosulullah saw. Pemuda-pemuda didikan Rosulullah saw di Darul Arqom, kadar Islamnya kuat, keyakinannya bulat, akhlaqul karimahnya mengkilat, terlihat sinarnya memancar dari pribadi-pribadi para sahabat dikala itu, mereka berpegang teguh kepada amanah Rosulullah S.A.W Hidup terpuji di mata masyarakat bangsa, mati syahid perlaya di medan laga membela agama Allah SWT.

Pada tahun 1918 putra-putra Cianjur, murid-murid pilihan dari madrasah AI-I’anah berangkat ke Pekalongan menuju Syamailul Huda. Putra-putra pilihan itu ialah
1. Rd. Abdullah,
2. Rd. M.Zen,
3. Rd. Taefur Yusuf ,
4. Rd. Asy’ari,
5. Rd. Akung,
6. Rd. M. Soleh Qurowi
Beliau-beliau inilah yang termasuk murid-murid dakhiliyyah yang bermukim di Internat (Pondok Pesantren) Syamailul Huda bersama-¬sama dengan teman-temannya yang berjumlah sekitar 30 orang (dari Ambon, Menado, Surabaya, Singapura, dan Malaysia/ daratan Malaka). Sahabat karib Rd. Abdullah bin Nuh pada waktu itu, yang masih ada sekarang, Al Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits (kelahiran Ambon) yang tinggal di alamat, JI. Surabaya No. 69 Pekalongan, Jawa Tengah Beliau lebih tua usianya dan Rd. Abdullah bin Nuh, beliau dilahirkan di Ambon pada tahun 1904 (waktu di Syamailul Huda Rd. Abdullah bin Nuh kelas 3, AI Ustadz Said kelas 4).

Banyak sekali kata-kata mutiara yang diucapkannya. Beliau memulai percakapan dengan kata-kata: “Waktu saya berziarah ke rumah Abdullah kebetulan waktu sholat Maghrib, saya tahu persis keadaan dalam rumahnya, hanya dua kamar yang sempit dan satu kamar mandi yang darurat. Padahal kalau melihat ilmunya, dan banyak murid-muridnya, dia itu orang besar, sudah tidak sesuai lagi. Tidak seperti orang-orang besar sekarang mobil-mobil banyak, gedung-gedungnya mewah, dengan rumah saya saja sudah jauh berbeda “(rumah AI Ustadz Said itu gedung dan besar sekali).

Beliau (AI Ustadz Said) melanjutkan dengan ucapan beliau: “Maka dari gambaran suasana rumahnya yang sangat sederhana itu, Masya Allah - Masya Allah - Masya Allah, Abdullah sedang syugul lillahi Ta’ala, dia AZ-Zaahid”
1. Inilah Ulama, ini waktu, mencari seperti itu tidak ada ;
2. Abdullah tetap Abdullah sebagai Kiyai ;
3. Ini hidup yang benar ;
4. Ini thoriq (jalan) yang benar ;
5. Abdullah saudara saya
Ada beberapa Amanat-amanat beliau kepada putra-putri AI-Ustadz Abdullah bin Nuh:
1. Berjalanlah menurut Abdullah bin Nuh ;
2. Ana ad’uu lahum (Aku berdoa untuk mereka);
3. Panggillah saya ‘aamii (anggaplah orang-tuanya) ;
4. Salam dari saya kepada keluarga Abdullah ;
5. Dan minta foto Abdullah setetah mendekat wafat
AI Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits memberi julukan kepada Rd. Abdullah bin Nuh dengan julukan: Al Ustadz , AI-‘Aalim ; Al-Adiib ; Azzahid ; Al-Mutawadli ; AI-Haliim.

Madrasah Syamailul Huda ialah Samudra tempat menimba tinta mas Ilmu Ilahi. Internatnya laksana ladang tempat mendulang berlian llmu Agama Allah SWT. Maka tidak sedikit pentolan-pentolan Ulama dan pahlawan yang dihasilkan dari Madrasah tersebut. Di antaranya yang berhasil dengan gemilang dan menonjol sekali Rd. Abdullah bin Nuh, putra Cianjur, sehingga beliau menjadi kesayangan gurunya. Rd. Abdullah bin Nuh sewaktu duduk di kelas 4 kelas terakhir Syamailul Huda, telah turut aktif mengaji bersama-sama dengan para guru Madrasah tersebut. Jadi Rd. Abdullah bin Nuh sudah lebih dahulu maju dari teman-teman kakak kelasnya.
SURABAYA DAN HADROL MAUT SCHOOL

Kota Surabaya ialah kota yang terkenal arek-areknya di zaman revolusi fisik dan jadi kebanggaan masyarakat Surabaya para patriotnya, dari kota 19 sampai kedesa-desa. Kira-kira pada akhir tahun 1922 AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim pindah ke Surabaya ; Rd. Abdullah bin Nuh dibawa dan dikembangkan bakatnya.

Di Kota Surabaya pada waktu itu ada sebuah gedung besar dan tinggi letaknya dekat jembatan besar di Jln. Darmokali (dulu Noyo Tangsi). Penulis melihat di muka gedung itu sebelah atas ada tulisan tahun 1914 waktu didirikannya. Di gedung inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan sekolah “Hadrolmaut School” untuk menyebar ilmunya dan melatih anak-anak didik yang dibawanya dari Pekalongan, dalam rangka mengembangkan bakat dan penampilan kemampu§n anak-anak didiknya tersebut.

Hadrolmaut Shool di Surabaya laksana Masjid Quba di Madinah sewaktu Rosulullah saw mulai menginjakkan kakinya dibumi Madinatul Munawwaroh: Tempat Rosulullah saw, mempersaudarakan ummat yang berbeda-beda bakat dan adat istiadat, tempat mempersatukan kaum Muslimin yang bermacam-macam faham dan pendapatnya, tempat Rosulullah saw mengatur siasat; bermasyarakat dan lain-lain.

Gedung “Hadrolmaut School” ialah tempat Rd. Abdullah bin Nuh dan teman-temannya dididik, dibina, digembleng cara praktek mengajar, berpidato, memimpin dan lain-lain yang dipertukan. Rd. Abdullah bin Nuh di samping diperbantukan mengajar di sekolah tersebut, beliau tidak henti-hentinya menyerap dan menerima bermacam-macam ilmu Agama dan Umum, mempelajari beraneka ragam bahasa dari gurunya. Demikianlah keadaan Rd. Abdullah bin Nuh di kota Surabaya, beliau berjiwa arek-arek Suroboyo yang paling lincah berjuang. Dengan ilmunya yang mendalam, jiwa yang suci dan kemauannya yang kuat, maka beliau terpilih sebagai siswa yang akan dibawa ke Mesir oleh gurunya besama-sama dengan teman-temannya, sebanyak 15 orang.

Teman Rd. Abdulah bin Nuh yang bersama-sama belajar di Mesir yang masih ada di Kota Surabaya sekarang, ialah AI-Ustadz Abdul Razak AI-‘Amudi di kompleks IAIN Wonocolo. Beliaulah yang menyandang gelar: Syahadatul Aalimiyah dari “Jami’atul Azhar” dan Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya dari Madrasah Darul ‘Ulumul ‘Ulya.
MESIR DAN AL-AZHARNYA

Bertepatan dengan didudukinya Kota Makkah AL-Mukarromah oleh kaum Wahabiyyin dan keluarnya Malik Husen meninggalkan Makkah pada tahun 1343 H (± tahun 1925 M), AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama sama teman-temannya yang 15 orang itu dibawa gurunya ke Mesir untuk melanjutkan pelajarannya. Perguruan Tinggi di Mesir pada waktu itu hanya dua :
Jami’atul Azhar ( Syari’ah )

di Fakultas ini, lama belajarnya 6 tahun mendapat gelar : Syahadatul ‘Alimiyah dan kalau belajar 3 tahun mendapat gelar : Syahadatul Ahliyyah.'
Madrasah Darul’ Ulum AI-‘Ulya (AI-Adaab)

Lama belajar 4 tahun mendapat gelar: Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya Syarat-syarat masuk Jami’atul Azhar di antaranya harus hafal AI-Qur’an 30 Juz. Tetapi murid-murid yang dibawa oleh AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim yang 15 orang itu mendapat prioritas diterima dengan hafal beberapa surat. Pengecualian ini menunjukkan kebesaran dan keberkahan murid-murid AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim. AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama-sama dengan teman-temannya mula-mula bertempat tinggal di Syari’ul Hilmiyyah, lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Midanil Abbasiyah. Pelayannya orang-orang Yaman.

Siang dan malam AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya belajar. Waktu adalah betul-betul berharga bagi betiau. Keluar dari Jami’atul Azhar beliau pulang hanya mengganti pakaian, memakai pantalon, berdasi dan memakai torbus, terus mengikuti pengajian-pengajian di luar AI-Azhar. Mahasiswa AI-Azhar mempunyai ciri khas ialah berjubah dan bersorban dibalutkan dikepala (udeng).

AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh di Mesir sudah tidak mempelajari bahasa Arab lagi, karena beliau ketika masih di Indonesia sudah benar-benar pandai dan ahli, mengusai berbagai bahasa. Beliau di Mesir hanya belajar fak Fiqih (ini menurut cerita beliau kepada salah seorang muridnya, katanya dalam bahasa Sunda Mama mah di Mesir teh mung diajar ilmu fiqih wungkul”. Selanjutnya beliau bertanya: “Dupi salira kitab-kitab fiqih naon anu parantos diaos? Dijawab oleh muridnya dengan menyebutkan beberapa kitab Fiqih. Setelah sampai menyebut kitab Iqna, maka beliau berkata: “Mama mah tamatna Iqna teh di Mesir, ari salira mah tamat Iqna teh di Indonesia.”

Dengan berkah ketekunan dan kesungguh-sungguhan, maka AI-Ustadz Abdullah bin Nuh di Mesir telah kelihatan sebagai seorang Pelajar yang paling cakap di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. AI-Ustadz Abdur Rozzaq berpendapat: “Sebabnya Abdullah itu mempunyai kelainan daripada teman-¬temanya yang semasa, karena dia mendapatkan banyak ilmu dari hasil muthola’ah. Muthola’ah satu kitab saja sampai 10 kali. Inilah syarat muthola’ah kata AI-Ustadz Abdullah bin Nuh. Di antara kitab yang didawamkan muthola’ah ialah kitab: ARAB 2 AI-Ustadz Abdullah bin Nuh belajar di Mesir hanya selama dua tahun, dikarenakan putra gurunya yang beliau temani tidak merasa betah dan gurunya pulang ke Hadrolmaut, maka AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pun pulang ke Indonesia. Inilah riwayat hidup singkat beliau masa belajar/ tholabul’ilmi atau masantren.
MADRASAH P.S.A.

Pada tahun 1927 AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pulang dari Mesir ke Indonesia (Cianjur. Pada akhir tahun 1927 pergi ke Bogor (Ciwaringin). Beliau mengajar: 1. Di Madrasah Islamiyyah yang didirikan oleh Mama Ajengan Rd. Haji Manshur.2.Para Mu’allim yang berada di sekitar Bogor. Pada awal tahun 1928 beliau pindah ke Semarang tetapi tidak lama yaitu hanya 2 (dua) bulan, kemudian kembali ke Bogor. Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu beliau pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan beliau adalah:
Mengajar para kyai
Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)
Pada tahun 1934 di Bogor (di Ciwaringin) didirikan Madrasah P.S.A. (Penolong Sekolah Agama). Maksud didirkannya PSA adalah untuk mempersatukan madrasah-madrasah yang ada di sekitar Bogor yang berada di bawah asuhan Mama Ajengan Rd. H. Manshur.
Susunan Pengurus P.S.A. ialah :Ketua, Mama Ajengan Rd. H. Mansur, Sekretaris M.B. Nurdin (Marah Bagindo), Inspektur K. Usman Perak. Ketua Dewan Guru/ Direktur. AI-Ustadz Rd.H.Abdullah bin Nuh, Pembantu/ Sekretaris Rd. Ali Basah Selain memimpin madrasah-madrasah, juga AI-Ustadz mengajar di MULO (SLTP). Pada tahun 1939 Madrasah P.S.A, pindah ke jalan Bioskop (JI, Mayor Oking, yang sekarang dipakai Mesjid) Dari tahun 1939 s.d 1942 beliau tetap bertempat tinggal di Panaragan dan setiap hari mengajar ngaji para Kyai. Walaupun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh ilmunya telah begitu banyak, tetapi selama di Bogor beliau masih terus menambah ilmunya dari seorang ulama (Mufti Malaya) yaitu Sayyid ‘Ali bin Thohir.
PEJUANG KEMERDEKAAN

Sejarah mencatat bahwa PETA lahir pada bulan Nopember 1943, lalu diikuti lahirnya HIZBULLAH beberapa minggu kemudian di mana para alim ulama kemudian masuk menjadi anggota organisasi itu. Tahun 1943 tersebut benar benar merupakan tahun penderitaan yang amat berat khususnya bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Boleh dikatakan bahwa saat itu adalah merupakan salah satu ujian paling berat bagi bangsa Indonesia. Pada akhir tahun 1943 itulah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh masuk PETA dengan pangkat DAIDANCO yang berasrama di Semplak Bogor.



Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu beliau pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan beliau adalah: 1. Mengajar para kyai. 2. Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)

Pemimpin-pemimpin umat ini, para alim ulama di sana-sini ditangkap oleh Dai Nippon, di antaranya Hadlorotnya Syekh Hasyim Asy’ari pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Beliau dipenjarakan di Bubutan, Surabaya.

Di Jawa Barat perlakuan serupa dilakukan terhadap KH. Zainal Mustofa, Tasikmalaya, bahkan sampai gugurnya karena di siksa Dai Nippon. Beliau adalah Pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya. Tanggal 6 Agustus 1945 senjata dahsyat bom atom dijatuhkan Amerika Serikat di atas kota Hiroshima, disusul kemudian tanggal 9 Agustus born atom gelombang kedua dijatuhkan pula di atas Nagasaki. Sekutu mengumandangkan kemenangannya. Bangsa Indonesia saat itu sangat optimis dengan tekuk lututnya Jepang terhadap sekutu.

Ternyata pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa hari setelah pemboman terhadap kedua kota itu kita bangsa Indonesia memperoleh hikmah, yaitu kemerdekaan yang diperoklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Apakah ini bukan rohmat dari Allah SWT?

Cobaan demi cobaan telah dan akan selalu kita hadapi. Pada tanggal 19 September 1945 di Surabaya terjadi peristiwa besar yang merupakan titik awal yang menyulut semangat kepahlawanan rakyat Surabaya. Beberapa personil Belanda yang saat itu membonceng sekutu berhasil menyamar sebagai Missi Sekutu mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya. Kemudian personil Belanda lainnya setelah tiba di Tanjung Priok merayap keseluruh pelosok Jawa di antaranya ke Bandung, Yogya, Magelang dan Surabaya. ini merupakan tantangan berat lagi bagi bangsa Indonesia. Namun demikian rakyat tiada mengenal mundur atau menyerah. Begitu pula AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh terus melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memimpin barisan Hizbutlah dan BKRI TKR di kota Cianjur bersama-sama dengan barisan lainnya hingga pertengahan tahun 1945.

Pada tanggal 21 Romadhon 1363 H/ 29 Agustus 1945 M, di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNlP) dan sekaligus melangsungkan sidang pertamanya. Ketua KNIP ditetapkan Mr. Kasman Singodimedjo, salah seorang bakes Daidanco PETA Jakarta. Anggota KNIP di antaranya adalah AI-¬Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh. Pada tanggal 4 Juni 1946 Pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta.

YOGYAKARTA DAN P.T.I. NYA (SEKARANG UII)

Yogyakarta adalah sebuah kota kecil yang mendadak menjadi ibukota Repbulik Indonesia dan pusat segala kegiatan politik. Semenjak awal 1946, situasi politik terus meningkat dan ketegangan serta pergolakan terjadi di mana-mana. Yogyakarta amat berat memikul beban nasional di atas pundaknya. Namun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh adalah benar-benar seorang ulama pejuang yang pandai membagi waktu. Walaupun tugas beliau sangat berat, sebagai tentara yang mewakili Jawa Barat dan anggota KNIP lainnya, namun beliau masih sempat mendirikan RRI Yogyakarta siaran bahasa Arab dan kemudian mendirikan STI (Sekolah Tinggi Islam/ UII) bersama dengan KH. Abdul Kohar Muzakkir.

Yang lebih unik lagi ialah tidak melupakan tugas kekiyaian, yaitu mengajar ngaji. Hasil didikan beliau waktu di Yogyakarta di antaranya adalah Ibu Mursyidah dan AI-Ustadz Basyori Alwi, yang telah berhasil membuka Pesantren yang megah di JI. Singosari No.90 dekat kota Malang, dan banyak lagi Asatidz tempaan beliau.

Pada bulan Desember 1948 Yogyakarta bezet (diduduki tentara Belanda). Tentara RI mundur dari Kota Yogya dan terjadilah perang gerilya selama 6 bulan, mulai dari Desember 1948 s.d. Juni 1949. Perang gerilya ini dilakukan pula oleh para pejabat, walaupun dia itu adalah seorang Menteri. Pada bulan Juni itulah (tepatnya tanggal 5) AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh menikah dengan Ibu Mursyidah, salah seorang puteri didiknya yang telah disebut tadi.

Tanggal 29 Juni 1949 setelah tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta, pasukan Republik Indonesia yang sedang bergerilya bersama rakyat masuk kembali ke Yogyakarta. Itu berarti bahwa, Yogyakarta kembali menjadi Ibukota Republik Indonesia. Sejarah pertama kali mencatat, yaitu tanggai 17 Desember 1946, Bung Karno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat dengan mengambil tempat di Keraton Yogyakarta. Kemudian di akhir tahun 1949 Pemerintah RI pindah ke Jakarta, dan saat itu pulalah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh bersama ibu Mursyidah (istrinya) hijrah ke Jakarta.
JAKARTA DAN UI-NYA

Setelah melalui liku-liku hidup dan mengarungi pasang surutnya gelombang perjuangan, keluarga AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh menetap di Jakarta selama lebih kurang 20 tahun, yaitu mulai tahun 1950 s.d. 1970, Di Jakarta inilah beliau menjadikan ibu kota sebagai arena pengabdiannya kepada Allah SWT dan kepada hamba-Nya. Beliau mengajar mengaji para asatidz/ Mu’allimin, memimpin Majlis-majlis Ta’lim, menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat. Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board). Kemudian pernah pula menjadi Dosen UI (Universitas Indonesia) bagian Sastra Arab, pemimpin Majalah Pembina dan Ketua Lembaga Penyelidikan Islam.

Di samping itu pada tahun 1959 sebelum kepindahan ke Kota Bogor, beliau telah aktif memimpin pengajian-pengajian di Bogor, yaitu :1. Majlis Ta’lim Sukaraja (AI-Ustadz Rd. Hidayat) 2. Majlis Ta’fim Babakan Sirna (AI-Ustadz Rd. Hasan) 3. Majlis Ta’lim Gang Ardio (KH. Ilyas) 4. Majlis Ta’lim Kebon Kopi (Mu’allim Hamim) Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1970 Mama hijrah dari Jakarta ke Bogor.
MAMA DAN “AL-GHAZALY”

YIC “AI-Ghazaly” ialah Pusat Pendidikan Islam (Pesantren, Majlis Ta’lim, sekolah umum dan madrasah Diniyah). “AI-Ghazaly” sudah tidak asing lagi bagi Ummat Islam warga Bogor. YIC “AI-Ghazaly” memiliki empat lokasi yaitu: AG I di Kotaparis , AG II di Cimanggu (H. Firdaus), AG III di Cimanggu Perikanan dan AG IV di Cibogor. YIC “AI-Ghazaly” adalah Mazro’atul Akhiroh (ladang akherat) Mama. Tempat Mama memberikan pelajaran kepada para Ustadz dan kyai-kyai yang berada di sekitar Bogor, bahkan ada pula yang datang dari Jakarta, Cianjur, Bandung dan Sukabumi. Majlis-majlis Ta’lim yang ada dalam asuhan Mama adalah : AI-Ghazaly (Kotaparis) AI-Ihya(Batu Tapak) AI-Husna (Layungsari) Nurul Imdad (Babakan Fakultas, belakang IPB) Nahjussalam (Sukaraja).

Kesemuanya itu adalah tempat pengabdian Mama setelah usianya lanjut. Bagi Mama tiada hari tanpa kuliah shubuh. Kegiatan rutin setiap minggunya adalah hari Senin s.d. Kamis di Majlis Ta’lim AI-Ihya, Jumat s.d. Ahad di AI-Ghazaly, sedangkan Ahad siang (ba’da dzuhur) di Nahjussalam Sukaraja.

Selain itu, Mama juga mengadakan pengajian khusus untuk para pemuda dan pelajar, mahasiswa/ mahasiswi. Demikian kegiatan Mama di “AI-Ghazaly” yang tidak mengenal istirahat.
MAMA DAN “NAHJUSSALAM”

Nahjus Salam ialah Pesantren idaman Mama yang belum terlaksana dengan sempurna dan tentunya.wajib kita tanjutkan sampai tuntas. Jauh sebelum merencanakan “Nahjus Salam”, Mama pernah mengutarakan keinginannya kepada salah seorang muridnya: “Mama ingin sekali punya Pesantren”. Kemudian muridnya itu bertanya: “Didaerah mana Mama ingin mendirikan Pesantren itu? Di Bogor Timur, Ciluar atau di Cianjur?” Mama menjawab: Di Sukaraja. Muridnya masih penasaran, kemudian melanjutkan pertanyaannya: “Kenapa ingin di Sukaraja?” Beliau menjawab: Ingin dekat dengan makam eyang Mama (Kanjeng Dalem) Melaksanakan amanat Mama Ajengan Manshur (Bilamana Mama Ajengan Manshur wafat, harus diteruskan oleh beliau). Ingin istirahat total Penulis pada waktu itu tidak memperhatikan akan arti dan kandungan obrolan Mama yang sebenarnya mendalam serta penuh dengan isyarat itu.

Maka pada hari Sabtu tanggal 1 Muharram 1404 H, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1983, dimulailah pembangunan fisik Pesantren Nahjus Salam yang diprakarsai oleh para putera Almarhum Rd. H. Jamhur Ciwaringin Tanah Sewa beserta sesepuh dan warga Sukaraja AI-Ustadz Hasanuddin. Bangunan Pesantren tersebut selesai pada akhir bulan Rajab tahun itu juga. Peresmian yang langsung diisi oleh Mama dilaksanakan hari Jum’at tanggal 25 Rajab 1404 H/ 27 April 1984, dan hari Ahad tanggal 12-Sya’ban (lebih kurang 2 minggu setelah peresmian) dimulai pengajian di Nahjus Salam.

Keinginan Mama selalu terkabul, sukses dan Barokah. Maunahnya mutai nampak dan terlihat oleh khalayak ramai. Padahal menurut penulis setelah mengamati dan selalu memperhatikan gerak-geriknya, Mama memiliki keutamaan (kelebihan) ilmu, dan maunahnya telah terlihat dan terasa sejak Mama mulai menetap di Bogor. Pernah penulis alami ketika pada suatu kejadian yang membuktikan tentang itu.

Kira-kira tahun 1973 Mama bersama penulis berziarah kepada seorang kyai yang telah dianggap wali oleh para Ulama yang tahu tentang keadaan kyai itu. Ada tiga keanehan menurut penulis yang sangat mencolok pada pribadi Mama saat itu: Pertama: Bukan Mama yang masuk ke kamar Kyai yang sedang sakit berat itu, tetapi justru kyailah yang datang menemui Mama di ruang tamu. Ke dua: Mama memohon didoakan oleh Kyai itu, tetapi keadaan sebaliknya yang terjadi, yakni Kyailah yang meminta didoakan. Akhirnya Mamalah yang berdoa. Kyai bersama penulis mengamini. Ke tiga: Ketika Mama permisi, kyai itu mengantarkan sampai ke pintu gerbang pekarangan rumahnya, sedangkan Kyai itu tidak pernah melakukannya terhadap siapapun.

Dengan ketiga hal yang menurut penulis mengandung keanehan itu, membuktikan bahwa derajat Mama sudah lain dari pada yang lain. Obrolan Mama mengenai “ingin istirahat total” ini merupakan isyarat bahwa kepulangan Mama ke Rahmatullah telah mendekat. Karena hanya wafatnya hamba kekasih Allahlah yang termasuk dan boleh dikatakan “Istirahat Total”. Permohonan Mama ingin istirahat total dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada hari senin malam selasa, jam 19.15 WIB ba’da Isya, tanggal 26 Oktober 1987 bertepatan dengan tanggal 4 Robi’ul Awwal 1408 H beliau pulang ke Rahmatullah. “Innaa Lillaahi wa Inna Ilaihi Rooji’uuna”.

Thoriqoh Mama ada tiga:
1. Mengajar
2. Muthola’ah
3. Mengarang.

Di mana saja Mama tinggal, Mama betah, asal Mama bisa menjalankan yang tiga itu dengan tenang. Jadi jelaslah, pindahnya Mama dan satu daerah ke daerah lain adalah termasuk : yang mudah-mudahan pulangnya Mama ke Rahmatullah pun demikian adanya, hijrah kepada keridhoan Allah SWT.
AMANAHNYA

Di dalam mengarungi dunia yang penuh dengan godaan dan sarat dengan fitnah, Mama memberikan amanah kepada penulis tentang cara menghadapi manusia-manusia di abad modern ini, yaitu harus berpendirian. Khumul = Tidak ternama Malamih = Manampakkan roman muka Tawakal kepada Allah SWT. Insya Allah selamat dari godaan dan fitnah.

Ulama Kharismatik itu telah pulang ke Rahmatullah Akan menerima keridhoan Allah Kita yang ditinggalkan Wajib melanjutkan Amanat Mama kita laksanakan Thoriqoh Mama kita jalankanMudah-mudahan riwayat hidup Mama yang ringkas ini menjadi cermin untuk kita semuanya kaum muslimin-muslimat, baik tua maupun muda.
Karya-karya tulis

Karya-karya tulis dengan bahasa Indonesia yang berbentuk buku di antaranya, yaitu:

Al-Islam
Islam dan Materialisme
Islam dan Komunisme
Islam dan Pembahasan
Keutamaan Keluarga Rosulullah
Islam dan Dunia Modern
Risalah As-Syuro
Ringkasan Sejarah Wali Songo
Riwayat Hidup Imam Ahmad Muhajir
Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten
Pembahasan Tentang Ketuhanan
Wanita Dalam Islam
Zakat dan Dunia Modern
Karya-karya tulis dengan bahasa Arab yaitu berbentuk natsar (karangan bebas) dan syi’ir (puisi)
al-Alam al-Islami (Dunia Islam),
Fi Zilal al-Ka’bah al-Bait al-Haram (Di Bawah Lindungan Ka’bah),
La Taifiyata fi al-Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam),
Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun (Saya Seorang Islam Sunni Pengikut Syafii),
Mu’allimu al-’Arabi (Guru Bahasa Arab),
dan al-Lu’lu’ al-Mansur (Permata yang bertebaran).
Adapun Karya yang ditulis dalam Bahasa Arab antara lain:
Cinta dan Bahagia,
Zakat Modern,
Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW,
dan Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten
Karya tulis dalam bahasa Sunda:
Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam).
Karya terjemahan antara lain:
adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah) karya Imam al-Ghazali,
Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan) karya Imam al-Ghazali,, dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul) karya Imam al-Ghazali.
Selain mengarang K.H.R. Abdullah bin Nuh juga menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan Sunda.
Kitab-kitab yang beliau terjemahkan kebanyakan karangan Imam AI-Ghazaly yang beliau kagumi. Di antara terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia adalah:
Renungan;
O’Anak;
Pembebasan dari Kesesatan;
Cinta dan Bahagia;
Menuju Mukmin Sejati (Minhajul-Abidin, karangan terakhir imam Ghazaly.
Adapun yang beliau terjemahkan ke dalam bahasa Sunda di antaranya berjudul:
1. Akhlaq; 2. Dzikir Sebagai seorang Ahli bahasa Arab, K.H.R. Abdullah bin Nuh menyempatkan diri menyusun kamus bersama sahabatnya H. Umar Bakry, di antara kamusnya adalah:
Kamus Arab - Indonesia;
Kamus Indonesia - Arab - Inggris;
Kamus Inggris - Arab - Indonesia;
Kamus Arab - Indonesia - Inggris;
Kamus Bahasa Asing (Eropa), berkisar hubungan: - diplomatik politik- ekonomi, dll.
Pengabdian dan Perjuangan semasa hayatnya

Selain sebagai seorang Kiai, R.H. Abdullah bin Nuh mengabdikan diri sebagai pengajar di Cianjur & Bogor, antara tahun 1928-1943) K.H.R Abdullah bin Nuh adalah seorang pejuang kemerdekaan republik Indonesia.

Beliau menjadi anggota Pembela Tanah Air atau Peta di usia 41 tahun (1943-1945) untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Pada tahun 1945-1946, beliau memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Pada tahun 1948-1950: Seliau menjadi anggota Komite Nasional Pusat (KNIP) di Yogyakarta, Sebagai kepala seksi siaran berbahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan Dosen luar biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).
Pada tahun 1950-1964 Abdullah bin Nuh memegang jabatan sebagai kepala siaran bahasa Arab pada RRI Jakarta.
Menjabat sebagai Lektor Kepala (saat ini; Dekan) Fakultas sastra Universitas Indonesia (1964-1967).
Tahun 1969 beliau mendirikan Majelis al-Ghazali dan Pesantren al-Ihya di Bogor. Di kedua tempat pendidikan ini ia berfungsi sebagai sesepuh. Di Bogor, Abdullah bin Nuh aktif melaksanakan kegiatan dakwah Islamiah dan mendidik kader-kader ulama. Beliau juga menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain:
1. Arab Saudi,
2. Yordania,
3. Inbeliau, Irak,
4. Iran,
5. Australia,
6. Thailan,
7. Singapura, dan
8. Malaysia.
Beliau juga ikut serta dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) sebagai anggota panitia dan juru penerang yang terampil dan dinamis.

Salahsatu sya'ir yang sampai saat ini menjadi legendaris cianjur yaitu " Persaudaraan Islam".Sair ini ditulis pada saat beliau berumur 20 tahun yaitu tahun tahun 1925. Penggalan syair bait pertama yaitu:

"Anda adalah saudaraku. Betapa keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tdk kenal aku dan tdk tahu siapa bundaku. Walaupun aku tdk pernah tinggal serumah dgn anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda dibawah satu atap langit".
(Persaudaraan Islam : KH Abdullah bin Nuh)


Read more: http://www.bogorheritage.net/2013/06/biografi-kh-r-abdullah-bin-noeh.html#ixzz3ynEGqT7W(Asal Usul)