Asal Mula Tahun Kabisat

Add Comment
Asal Mula Tahun Kabisat - Tahun 2016 sekarang ini merupakan tahun kabisat. Tahun kabisat merupakan tahun yang 'datang' tiap empat tahun sekali. Dalam tahun kabisat, jumlah hari dalam setahun bertambah satu hari, dari 365 hari setahun menjadi 366 hari setahun.

Asal Mula Tahun Kabisat

Di tahun kabisat, penambahan satu hari ini terjadi pada bulan Februari. Pada bulan Februari akan ada hari ke-29, sedangkan di tahun bukan kabisat, bulan Februari hanya ada 28 hari.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tahun kabisat terjadi untuk 'menyeimbangkan' dan 'memperbaiki' jadwal waktu bumi mengelilingi matahari. Mengutip berbagai sumber, bumi membutuhkan waktu yang tidak tepat 365 hari untuk mengelilingi matahari. Sebenarnya, bumi butuh waktu 365-seperempat hari.



Istilah kabisat, atau leap year dalam bahasa Inggris, pertama kali dipopulerkan di era kaisar Romawi Julius Caesar dengan bantuan astronom asal Alexandria, Sosiogenes.

Sosiogenes menciptakan kalender Julian dengan menggunakan perhitungan ada 365,25 hari dalam waktu setahun.

Hanya saja karena dianggap tak praktis, dia pun menggunakan perhitungan pembulatan menjadi 365 hari setahun.

Mungkin Anda berpikir bahwa sisa, angka desimal di belakang koma ini tak ada artinya, akan tetapi jika jumlah ini ditumpuk sampai beberapa tahun, akibatnya jumlah eror perhitungan harinya bisa mencapai satu hari per empat tahun.

Jumlah satu hari ini pun ditambahkan dalam jumlah hari di bulan Februari.

Awalnya, di masa ini bulan Februari memiliki jumlah hari 29 hari per bulan. Dan di tahun kabisat, setiap empat tahun sekali, Februari akan memiliki jumlah hari 30.

Hanya saja, saat August Caesar menggantikan tahta Julius Caesar, dia mengganti bulan salah satu bulan di penanggalannya menjadi bulan August (Agustus).

"Jatah" hari di bulan Agustus yang harusnya hanya 30 hari, ditambahkan sehari menjadi 31. Bulan yang dikorbankan untuk ‘dicomot’ harinya adalah bulan Februari.

Untuk itu, Februari yang awalnya berjumlah 29 hari berkurang sehari menjadi 28 hari di penanggalan reguler (non kabisat).

Mengapa harus Februari? Ternyata bukan tanpa alasan jumlah hari di bulan Februari 'dicomot.' Dalam kalender yang digunakan di zaman itu, Februari adalah bulan terakhir dalam satu tahun.

Februari jadi bulan terakhir karena King Numa Pompilius menambahkan bulan Januari dan Februari untuk melengkapi 10 bulan yang sudah ada sebelumnya demi 'memperbaiki' jumlah hari yang ada setahun.

Karena Februari adalah bulan terakhir, maka ini adalah sasaran empuk untuk mengambil sehari dari jumlah hari yang dimilikinya. Penamaan bulan ini sudah dibuat sejak tahun pemerintahan King Numa Pompilius.

Dalam perkembangannya, sistem penanggalan ini pun kembali diperbaiki. Termasuk penyusunan nama bulan sampai jadi seperti sekarang ini.

Baca Juga :

Penyesuaian kriteria kalender kabisat pun juga diperbaiki. Setelah dipakai selama 1500 tahun, penanggalan ini kembali menimbulkan masalah. Pasalnya, setelah 1500 tahun, kesalahan penghitungan ini jadi selisih 10 hari, menurut perhitungan Dr. Aloysius Lilius.

Akhirnya Paus Gregorius XIII mengubah ketentuan penambahan dan membuat kalender Gregorian. Dalam aturan ini mereka memutuskan untuk menerapkan kriteria tahun kabisat.

Melalui penetapan ini, tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi empat. Hanya, ini tak berlaku untuk abad baru atau kelipatan 100, tahunnya harus habis dibagi 400. Penanggalan ini diresmikan pada tahun 1582.

Meski demikian, penanggalan kabisat seperti ini pun belum 100 persen akurat. Dalam kurun waktu ribuan tahun lagi, perhitungan ini akan kembali meleset satu hari. (Asal Usul)

Arti Marvin Gaye

1 Comment
Arti Marvin Gaye - Pernah di suatu postingan saya menyelipkan lagunya Charlie Puth berjudul “Marvin Gaye”. Lalu tiba-tiba saja banyak kata kunci pencarian masuk dalam bentuk “arti marvin gaye”. Dan di postingan itu saya benar-benar nge-troll karena saya cuma menyebutkan, “…jangan sekali-kali cari tahu arti Marvin Gaye ya…” Hasilnya, mungkin banyak orang-orang buka postingan itu dan hanya mendapati kalimat tersebut tanpa dapet apa arti sebenarnya Marvin Gaye itu.

Arti Marvin Gaye



Marvin Gaye = Make Love = Get Laid

Yup, kenapa saya melarang mencarinya karena arti Marvin Gaye sendiri adalah melakukan hubungan sex. Namun Marvin Gaye sendiri adalah seorang penyanyi sekaligus pendiri Sound of Motown. Di tahun 1970, dia menciptakan sebuah lagu berjudul “Let’s Get It On”. Menurut para kritikus lagu ini mempunyai sexually suggestive lyrics dan merupakan one of the most sexually charged albums ever recorded.

Baca Juga :

Dari situlah asal usul istilah Marvin Gaye. Entah kenapa malah nama penyanyinya yang dipakai bukan judul lagunya, haha. Jadi udah tau kan? Nah, sekarang, gimana cara make kata Marvin Gaye? Berikut contohnya yang diambil dari Urbandictionary:

I played some marvin gaye last night when my girl was over, and I got laid. BOING!!!
Dan Charlie Puth, di dalam lagunya, memakainya dengan lebih jelas:

Let’s Marvin Gaye and get it on
You got the healing that I want
Just like they say it in the song <– jelas banget kan?
Nah, bagi yang penasaran lagu “Let’s Get It On”, ini dia:


Catatan: Arti Marvin Gaye juga dipakai jika seseorang ditembak (pake senjata berapi) oleh keluarganya sendiri. Hal ini karena Marvin Gaye terbunuh karena ditembak oleh ayahnya sendiri ketika adu mulut.(Asal Usul)

Kisah Hotel Salak Bogor

2 Comments
Kisah Hotel Salak Bogor - jika menelisik perjalanan sejarah Bogor, maka Hotel Salak menjadi salah satu hotel tertua peninggalan Hindia-Belanda yang masih berdiri hingga saat ini. Sepanjang sejarahnya, hotel ini ternyata telah mengalami pergantian nama sebanyak enam kali.



Sejarah Hotel Salak Bogor

Pembangunan hotel ini dimulai pada tahun 1856, bersamaan dengan direnovasinya Istana Bogor oleh Gubernur Jenderal Belanda kala itu, Albertus Javob Duijmayer van Twist. Twist merenovasi bangunan istana lama yang rusak parah oleh gempa dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.



Adalah keluarga Twist yang memiliki dan mengelola hotel yang dinamakannya Binnenhof Hotel atau Dibbets Hotel ini. Hotel ini sendiri bisa dibilang sebagai hotel bintang empat pada masanya, terlebih lokasinya yang dekat dengan komplek Istana sehingga bisa menjadi tempat peristirahatan bagi para tamu sang Gubernur. Selain itu, hotel ini pun kerap menjadi lokasi pertemuan bisnis dan rapat-rapat yang membahas administrasi pemerintahan.

Pada tahun 1913, hotel ini mengalami masa-masa suramny, sampai-sampai namanya kembali berganti menjadi NV American Hotel. Sayangnya beberapa tahun kemudian hotel ini sempat mengalami kebangkrutan, sehingga pada tahun 1922 hotel ini dilikuidasi oleh E.A Dibbets sang manajer yang juga pemilik saham terbesar dari NV American Hotel ini. Sang manajer akhirnya mengganti nama hotel tersebut kembali ke asal yaitu Dibbets Hotel.

Pada tahun 1932, hotel ini kemudian berganti pemilik. Kemungkinan besar pemilik baru hotel ini juga memiliki atau mengelola Hotel Bellevue yang lokasinya berada tidak jauh dari Hotel Dibbets. Oleh pemilik barunya itu, hotel ini kembali berganti nama menjadi Bellevue-Dibbets Hotel.



Setelah Belanda harus bertekuklutut pada pemerintah Jepang dan mengaku kalah, hotel ini dikuasai oleh pihak Jepang yang kemudian menjadikannya sebagai Markas Militer Jepang atau Kempetai. Pada masa itu, semua bangunan yang dikuasai oleh Jepang harus dicat dengan warna hitam untuk mengelabui pihak musuh yang sewaktu-waktu bisa menyerang dari udara. Tak terkecuali bangunan hotel ini dan juga Istana Bogor (baca Fakta kelam Istana Bogor di tahun 1945 ).

Setelah Jepang menyerah kalah, pada tahun 1948 hotel ini diserahkan pada Pemerintah Indonesia, baru pada tahun 1950 hotel ini mengalami renovasi dan memiliki nama baru yaitu Hotel Salak. Pada tahun 1989, Hotel Salak pernah menjadi tempat syuting untuk film Warkop DKI (Dono Kasino Indro) yang berjudul 'Sabar Dulu Dong".



Hotel ini pun kemudian berganti nama lagi pada bulan September 1998 dengan nama baru Hotel Salak The Heritage yang masih digunakan hingga saat ini. Jadi dalam perkembangannya, hotel ini telah mengalami pergantian nama sebanyak enam kali.

(Asal Usul)

Tole Iskandar, Pejuang dari Gang Kembang

Add Comment
Tole Iskandar, Pejuang dari Gang Kembang - Taman Makam Pahlawan Dreded menjadi tempat peristirahatan terakhir Tole Iskandar seorang pejuang kemerdekaan yang meninggal saat berlangsungnya pertempuran melawan Inggris dan sekutu di Cikasindu, Sukabumi pada tahun 1947.
Tole Iskandar adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir di Gang Kembang, Ratu Jaya, Depok. Ayahnya bernama Raden Samidi Darmorahardjo bin Adam dan ibunda bernama Sukati binti Raden Setjodiwiryo, kakeknya pernah menjabat sebagai menteri perairan pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda di Depok.



Peristiwa meninggalnya Tole Iskandar terjadi saat berlangsungnya pertempuran sengit pada tahun 1947 antara Batalion 8 Tentara Republik Indonesia dengan pihak Inggris dibantu sekutu. Saat gugur di medan pertempuran, Tole Iskandar berusia 25 tahun dengan pangkat Letnan Dua. Setelah dipindahkan dari Sukabumi, jenasah Tole Iskandar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dreded yang terletak di Jl Pahlawan Kota Bogor.

Jejak perjuangan Tole Iskandar sebenarnya bukan hanya saat bertempur melawan Sekutu di Sukabumi, namun ia juga memiliki catatan perjuangan bersama Laskar Pemuda Depok yang dikenal dengan sebutan Keompok 21. Saat itu bulan September 1945, Tole bersama tujuh anggota bekas Heiho dan 13 anggota dari Pemuda Islam Depok mengadakan rapat untuk pertama kalinya di sebuah rumah yang berada di Jl Citayam (red: kini Jl Kartini). Dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Barisan Keamanan Depok dengan Tole Iskandar sebagai komandan. Adapun ide pembentukan laskar tersebut adalah karena situasi di Depok yang terus bergolak setelah kemerdekaan. Pada saat itu, semua hal yang berbau belanda dan eropa dan penduduk yang tidak mau memasang bendera merah putih dianggap sebagai musuh atau penghianat.

Peristiwa penculikan dan perampokan kerap terjadi di beberapa wilayah, Bogor dan Depok serta semua wilayah yang berada di pinggiran Batavia sedang mengalami Revolusi Sosial. Buntutnya adalah pecahnya insiden di Jalan Pemuda, dimana sekelompok masyarakat merebut semua harta dalam peristiwa yang dikenal dengan 'Gedoran Depok'. Mereka juga menawan para keturunan Belanda-Depok ke Bogor. Para keturunan Belanda-Depok ini adalah mantan pekerja Cornelis Chastelein, mereka inilah yang kemudian mendapatkan jatah harta warisan dari Cornelis yang berupa tanah untuk dikelola.

Dalam sejarahnya, para pekerja-pekerja itu sengaja didatangkan dari Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Timor dan Bali. Setelah itu Cornelis kemudian membentuk 12 marga untuk mereka setelah dihapusnya perbudakan pada ahun 1714.  Ke 12 marga tersebut adalah Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Toseph, Yakob, Sudira, Samuel, Sadok, Isaac, Bakas, dan Tholence. Hingga kini keturunan dari mereka masi menetap di kawasan Depok Lama.

Kelompok 21 yang dipimpin oleh Tole Iskandar kemudian mengungsikan para Belanda-Depok ini di sebuah tempat dekat Stasiun Depok Lama agar tidak menjadi korban balas-dendam terhadap Belanda serta atas dasar kemanusiaan.  Sebelumnya, Tole sendiri ikut berjuang melawan penjajah Belanda di Depok, dan juga di Kalibata dan di Bogor.

Perjuangan Tole dan rekan-rekannya saat bertempur melawan para penjajah cukup mengenaskan, bayangkan saja, senjata yang dimiliki oleh Barisan Kemanan ini hanyalah berupa empat pucuk carabine sitaan dari polisi Jepang yang bertugas di Depok. Sementara pihak Belanda dan Sekutu dibekali dengan senjata yang lebih modern dan mematikan tentunya.

Pada tanggal 15 Oktober 1945, di Bogor dibentuklah Barisan Keamanan Rakjat (BKR) Resimen II yang membawahi empat Batalion, yaitu Batalion I berada di Depok, Batalion II di Leuwiliang, Batalion III di Cileungsi, dan Batalion IV di Kota Bogor.  Tole Iskandar dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam Laskar Rakjat Depok (kelompok 21) kemudian melebun ke dalam Batalion I Depok. Setelah Batalion ini mulai bertugas di Depok, banyak pemuda Islam setempat yang mendaftarkan diri untuk menjadi anggot TKR. Mereka inilah yang kemudian berkali-kali menyerang pasukan Inggris di Pasar Minggu dan markas mereka di sebuah Pabrik sepatu Bata yang ada di Jl Kalibata Raya.

Pada tanggal 16 Juni 1946, Depok mendapat invasi besar-besaran dari Belanda dibantu Inggris dan sekutunya. Sejak itulah kondisi Depok kian memanas. Puncaknya setelah berhasil melakukan penyerangan terhadap pasukan Gurkha di Citayam, Pabuaran dan Bojonggede. Pada tahun 1947, Tole Iskandar terlibat dalam pertempuran sengit melawan Belanda di perkebunan Cikasindu. Dalam pertempuran tersebut, Tole Iskandar gugur. Gugurnya Tole menjadi pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun ikut berjuang bersamanya.

Pada tanggal 17 Januari 1948, sesuai perjanjian Renville, Jawa barat harus dikosongkan dari Pejuang. Dengan berat hari, Pasukan Siliwangi pun kemudian hijrah ke Jawa Tengah. Untuk mengisi kekosongan pejuang di Jawa Barat, Jenderal Sudirman dan Tan Malaka kemudian berunding. Hasilnya dibentuklah pasukan rahasia yang mereka sebut dengan Divisi Bambu Runcing (BR) dibawah pimpinan Sutan Akbar seorang mahasiswa kedokteran yang mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API) bersama-sama para pemuda yang menghuni asrama menteng 31 ( sekarang Gd Juang).

Pada tanggal 11 Oktober 1949, Divisi Bambu Runcing mengeluarkan maklumat yang menentang hasil perundingan dengan Belanda tersebut. Mereka menganggap hasil perundingan itu adalah penghinaan terhadap bangsa dan menggerogoti cita-cita kemerdekaan.  Mereka menginginkan kemerdekaan 100%, alhasil perseteruan pun muncul di kalangan para pejuang terutama setelah diberlakukannya Restrukturisasi dan Rasionalisasi (RERA) di tubuh angkatan bersenjata. Setelah itu, meletuslah perang saudara.

Wilayah yang dikuasai oleh Bambu RIncing terus bergejolak, salah satunya Depok. Pimpinan Bambu Runcing di Depok saat itu adalah seorang jawara yang bernama Sengkud, dan mereka bermarkas di Bulak Garong ( kini Perumahan Pesona Kahyangan). Sengkud memang cukup dikenal karena sebelum menjadi pimpinan Bambu Runcing di Depok, ia pernah bergabung bersama Pertahanan Desa (PD).

Sejak saat itulah, situasi dan kondisi kota Depok kian mencekam. Pembunuhan terjadi hampir setiap hari. Revolusi Sosial yang terjadi telah mengubah pola pikir mereka. Laskar Rakjat yang tadinya berjuang bergerilya menghadapi para penjajah kini berubah menjadi perampok yang sadis. Namun yang menjadi korbannya adalah orang-orang yang dianggap bersebarangan dengan mereka.
Tole Iskandar memang telah lama gugur, namun nama dan perjuangan akan tetap abadi dalam coretan sejarah perjalanan bangsa. Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, sebuah Jalan Raya menggunakan namanya.

Semoga kita bisa menjadi penerus cita-cita mereka.
(Asal Usul)

Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran

Add Comment
Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran - Kota Bogor dipercaya memiliki hubungan lokatif dengan Pakuan yang menjadi ibukota Kerajaan Pajajaran yang pernah berkuasa di tatar Sunda. Asal dan usul penyebutan nama Pakuan itu sendiri terdapat dalam naskah-naskah lama dan beberapa sumber. Berikut ini asal dan usul nama Pakuan sebagai ibukota Pajajaran.

Asal Usul Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran

Dalam naskah berbahasa Sunda Lama, Carita Waruga Guru (1750) disebutkan bahwa penyebutan nama Pakuan Pajajaran adalah karena di lokasi tersebut banyak ditemukan pohon Pakujajar.



K.F. Holle (1869), dalam tulisannya yang berjudul 'De Batoe Toelis te Buitenzorg' mengungkapkan bahwa di dekat Kota Bogor ada sebuah kampung yang bernama Kampung Cipaku dengan sungainya yang memiliki nama yang sama Sungai Cipaku. Di sekitar kampung tersebut banyak ditemukan pohon paku, sehingga Hole beranggapan bahwa penyebutan nama Pakuan ada kaitannya dengan Kampung Cipaku dan pohon paku. Sedangkan Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar atau ia menyebutnya "op rijen staande pakoe bomen'.

Dalam jurnal 'Encyclopedia van Nederlandsch Indie' edisi Stibbe tahun 1919, G.P. Rouffaer menyebutkan bahwa Pakuan mengandung pengertian 'Paku'. Namun penyebutan ini haruslah diartikan dengan 'paku jagat' atau spijker der wereld yang melambangkan pribadi raja seperti halnya yang terdapat pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. Menurut Rouffaer, penyebutan 'Pakuan' sama artinya dengan 'Maharaja', sedangkan kata 'Pajajaran' diartikan sebagai 'berdiri sejajar' atau 'imbangan' (evenknie). Yang dimaksud oleh Rouffaer di sini adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Meskipun Rouffaer tidak menjelaskan apa sebenarnya arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya itu bisa ditarik kesimpulan bahwa Pakuan Pajajaran berarti 'Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit". Namun Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran berdiri pada tahun 1433.

Sementara R. Ng. Poerbatjaraka (1921) melalui tulisannya di 'De Batoe-Toelis bij Buitenzorg' atau 'Batutulis dekat Bogor' menjelaskan bahwa arti kata Pakuan semestinya berasal dari bahasa Jawa Kuno 'Pakwwan' yang kemudian dieja menadi 'Pakwan' (Ejaan ii tertulis pada Prasasti Batutulis). Logat dan Lidah orang sunda menyebut kata Pakwan menjadi Pakuan. Arti kata "Pakwan" itu sendiri adalah kemah atau istana. Jadi dalam hal ini, Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran itu artinya 'Istana yang berjajar' atau 'aanrijen staande hoven'.

Sekitar tahun 1957, H. Ten Dam seorang Insinyur Pertanian melakukan penelitian kehidupan sosial-ekonomi petani di Jawa Barat dengan pendekatan awal dari segi perkembangan sejarah. Melalui tulisannya yang berjudul 'Verkenningen Rondom Padjadjaran' atau Pengenalan sekitar Pajajaran, ia memberi penjelasan bahwa "Pakuan" ada hubungannya dengan 'lingga' atau tonggak batu yang terpancang di samping Prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan sering disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya memiliki pengertian 'Paku'.

Dam memiliki pendapat yang berbeda, ia beranggapan bahwa 'Pakuan' bukanlah sebuah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Sedangkan 'Pajajaran' ditinjaunya berdasarkan kondisi topografi. Dam sendiri merujuk pada laporan Kapten Wikler (1630) yang memberitakan bahwa ia melintasi Istana Pakuan di Pajajaran yang terletak di antara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang (Sungai Ciliwung dan Cisadane). Ia menarik kesimpulan bahwa Pakuan Pajajaran adalah Pakuan di Pajajaran atau 'Dayeuh Pajajaran'. Sebutan 'Pakuan', 'Pajajaran', dan 'Pakuan Pajajaran' bisa ditemukan dalam Prasasti Batutulis nomor 1 dan 2 sedangkan yang ketiga bisa ditemukan pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.

Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi "Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata) Sanghyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain yang diberikan untuk Sri Baduga.



Sedangkan yang disebut 'Pakuan' itu adalah 'kadaton' yang bernama Sri Bima dan seterusnya. "Pakuan' memiliki makna tempat tinggal untuk raja atau biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi dalam hal ini, tafsiran Poerbatjaraka lah yang mungkin sejalan dengan apa yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan yaitu Istana yang berjajar.

Di dalam area Kerajaan Pajajaran, diperkirakan berdiri 5 (lima) bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati.  Ini juga yang mungkin disebut dalam istilah klasik 'Panca Persada' atau lima keraton. Suradipati sendiri kemungkinan besar merupakan Keraton utama atau Keraton induk, jika dibandingkan dengan nama-nama keraton lain yang menggunakan kata 'Sura' misalnya Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarat pada masa silam.


Karena nama-namanya yang panjang itulah, orang-orang kemudian meringkasnya menjadi Pakuan Pajajaran  atau Pakuan atau juga Pajajaran. Nama keraton bahkan bisa menjadi lebih luas menjadi nama ibukota yang akhirnya menjadi nama negara, sebagai contohnya adalah nama keraton Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian meluas menjadi nama ibukota dan daerah yaitu Yogya atau Yogyakarta.

Apa yang dijelaskan oleh Ten Dam (Pakuan = ibukota) mungkin saja benar dalam penggunaannya, namun salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda itu mempunyai nama "Dayo" atau 'Dayeuh' yang letaknya di daerah pegunungan yang jaraknya dua hari perjalanan dari pelabuhan Kelapa di muara Ciliwung. Sedangkan nama Dayo itu sendiri didengarnya dari penduduk atau pembesar di Pelabuhan Kelapa. Jadi sangat jelas di sini kalau orang-orang di Pelabuhan Kelapa menggunakan kata 'Dayeuh' bukan 'Pakuan' untuk menyebut sebuah ibukota. Dalam sehari-hari mungkin kata 'Dayeuh' itulah yang digunakan, namun dalam kesusastraan digunakan nama 'Pakuan' untuk menyebutkan ibukota Pajajaran.

Semoga menambah wawasan anda.

Read more: http://www.bogorheritage.net/2015/08/asal-dan-usul-pakuan-sebagai-ibukota_20.html#ixzz3ynFftmuE(Asal Usul)

Biografi KH Abullah bin Noeh

Add Comment
Biografi KH Abullah bin Noeh - K.H. R. Abdullah Bin Noeh lahir di Cianjur tanggal 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987. Selain maha guru para ulama ia juga merupakan seorang sastrawan, pendidik, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Sejak kedl mendapat pendidikan agama Islam yang sangat keras dari ayahnya, yakni K.H. R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris. Juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah AI’ Ianah Cianjur.

Biografi KH Abullah bin Noeh



Dalam pengawasan ketat ayahnya ini, Abdullah kecil belajar agama dan bahasa Arab setiap hari. Sehingga dalam waktu relatif masih muda, ia sudah mampu berbicara bahasa Arab. Di samping mampu pula menalar kitab alfiah (kitab bahasa arab seribu bait) serta swakarsa belajar bahasa Belanda dan Inggris. Berbekal ilmu yang telah dikuasainya itu, Abdullah bin Nuh muda mengajar di Hadralmaut School. Sekaligus menjadi redaktur majalah Hadralmaut, sebuah mingguan berbahasa Arab yang terbit di Surabaya, Jawa Timur sejak tahun 1922 hingga tahun 1926.

Setelah itu ayahnya mengirim Abdullah untuk menimba i1mu di Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah dua tahun lamanya Abdullah belajar di AI -Azhar, Kairo, Mesir, untuk kemudian kembali ke tanah air dan aktif mengajar di Cianjur serta Bogor. Hal itu dilakukannya sejak tahun 1928 hingga tahun 1943.
NASABNYA

H. R. Abdullah putra K.H. R. Nuh; putra Rd. H. Idris, putra Rd. H. Arifin, putra Rd. H. Sholeh, putra Rd. H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. Anawiratanudatar I (Dalem Cikundul).
CIANJUR DAN I’ANAH

Cianjur ialah sebuah kota yang sejak dahulu telah terkenal para ulama dan para pahlawannya, Para Ulama giat menyebarkan ilmunya. Tak kenal lelah dan tanpa mengharapkan upah. Para pahlawannya gigih, berani dalam melaksanakan perjuangan, tanpa pamrih gaji. Kesemuanya hanyalah mengharapkan keridhoan Allah SWT dan rahmat-Nya.

Pada tahun 1912 dikota Cianjur berdirilah sebuah Madrasah yang bernama Al-l’anah ; pendirinya ialah juragan Rd. H. Tolhah Al Kholidi, sesepuh Cianjur pada waktu itu. Dalam pembinaannya beliau dibantu oleh seorang Cucunya AI-Haafidh (yang hafal AI Qur’an) As-Sufi (yang menguasai kitab Ihya ‘Ulumuddin) K.H.R. Nuh, seorang ‘Aalim besar keluaran Makkah Almukarromah, murid seorang ulama besar yang ilmunya barokah, menyebar keseluruh dunia Islam, yang bermukim di kota Makkah AI-Mukarromah, yaitu : K.H.R. Mukhtar Al-thoridi, putra Jawa (Bogor)

Nadhir (Guru kepala) nya waktu itu adalah Syekh Toyyib Almagrobi, dari Sudan. Bertindak sebagai pembantu (guru bantu) adalah Rd. H. Muhyiddin adik ipar Juragan Rd. H. Tolhah AI-Kholidi. Murid pertamanya adalah : Rd. H. M. Sholeh Almadani.

Syekh Toyyib Almagrobi mengajar di AI-I’anah hanya 2 (dua) tahun, karena beliau diusir oleh.pemerintah Belanda. Maka untuk mengisi kekosongan, Nadhir AI-I’anag dipegang oleh AI Ustadz Rd. Ma’mur keluaran pesantren Kresek Garut (Gudang Alfiyah) dan lulusan Jami’atul Khoer Jakarta (Gudang Bahasa Arab). Di antara murid-muridnya ialah:
1.Rd. Abdullah,
2.Rd. M. Soleh Qurowi
3.Rd. M. Zen
Dari AI I’anah Almubarokah inilah muncul para pahlawan dan sastrawan Muslim yang namanya tidak akan sirna, tetap tercantum dalam lembaran sejarah, di antaranya ialah Rd. Abdullah bin Nuh. Beliau telah menguasai bahasa Arab sejak usia 8 (delapan) tahun (penjelasan beliau sendiri sewaktu hidup kepada salah seorang muridnya).

Rd. Abdullah bin Nuh adalah juara Alfiah, beliau sanggup menghafal Al-fiah lbnu Malik dari awal sampai akhir dan dibalik dari akhir ke awwal (demikian menurut AI-Ustadz Rd. Abubakar sesepuh Cianjur). Walhasil: kecerdasan, bakat dan watak Rd. Abdullah bin Nuh semenjak duduk di bangku Madrasah AI-I’anah sudah nampak jelas keunggulannya.

Selain belajar di AI-I’anah, Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayahnya beliau. (Beliau pernah berkata kepada salah seorang muridnya : “Mama mah tiasana maca Kitab lhya teh khusus ti bapa Mama” begitu dengan logat Cianjurnya). Jadi jelas, Kota Cianjur adalah Gudang Ulama, pabrik para pahlawan dan pusat para santri. Maka tidak heran kalau kota Cianjur sejak dahulu penuh dikunjungi oleh para peminat ilmu Syari’at Islam dari seluruh pelosok Jawa Barat, dari daerah Priangan Sarat sampai ke Timur seperti : Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
PEKALONGAN DAN SYAMAILUL HUDA

Pekalongan sebuah kota kecil yang mungil, berhasil mencetak kader-kader Muslim yang militan dan berwatak, membina mental pemuda -pemuda Islam yang berjiwa pahlawan dan bercita-cita tinggi menuju Indonesia Merdeka dengan landasan Kalimatullahi Hiyal ‘Ulya.
Di kota Pekalongan telah berdiri sebuah madrasah Arabiyyah yang benama “Syamailul Huda” yang terletak di JI. Dahrian (sekarang JI. Semarang). Madrasah tersebut mempunyai sebuah internat (pondok pesantren) dipinggiran JI. Raya, di tengah-tengah keramaian manusia, bahkan tepat berhadap-hadapan dengan sebuah gedung bioskop. Nakhoda madrasah tersebut ialah seorang Sayyid keturunan Hadrol Maut bernama: Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir AI-‘Alawi Al-Hadromi. Beliau seorang ‘Alim yang berjiwa besar, bercita¬cita tinggi, berpandangan luas. Beliau tak mengenal payah dan lelah, tak ingin melihat putra-putri Islam tidak maju. Beliau bersemboyan: “sekali maju tetap maju, bekerja dengan semangat, disertai ikhlas niat, pasti dapat dengan selamat “.

Di Madrasah dan internat inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendidik, menerapkan ajaran Islam, menggemleng pemuda-pemuda yang berwatak, calon pahlawan/ Da’i/ Muballig dan Ulama.

Syamailul Huda dan internatnya, laksana Masjidil Harom dan Darul Arqom di zaman Rosulullah saw. Pemuda-pemuda didikan Rosulullah saw di Darul Arqom, kadar Islamnya kuat, keyakinannya bulat, akhlaqul karimahnya mengkilat, terlihat sinarnya memancar dari pribadi-pribadi para sahabat dikala itu, mereka berpegang teguh kepada amanah Rosulullah S.A.W Hidup terpuji di mata masyarakat bangsa, mati syahid perlaya di medan laga membela agama Allah SWT.

Pada tahun 1918 putra-putra Cianjur, murid-murid pilihan dari madrasah AI-I’anah berangkat ke Pekalongan menuju Syamailul Huda. Putra-putra pilihan itu ialah
1. Rd. Abdullah,
2. Rd. M.Zen,
3. Rd. Taefur Yusuf ,
4. Rd. Asy’ari,
5. Rd. Akung,
6. Rd. M. Soleh Qurowi
Beliau-beliau inilah yang termasuk murid-murid dakhiliyyah yang bermukim di Internat (Pondok Pesantren) Syamailul Huda bersama-¬sama dengan teman-temannya yang berjumlah sekitar 30 orang (dari Ambon, Menado, Surabaya, Singapura, dan Malaysia/ daratan Malaka). Sahabat karib Rd. Abdullah bin Nuh pada waktu itu, yang masih ada sekarang, Al Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits (kelahiran Ambon) yang tinggal di alamat, JI. Surabaya No. 69 Pekalongan, Jawa Tengah Beliau lebih tua usianya dan Rd. Abdullah bin Nuh, beliau dilahirkan di Ambon pada tahun 1904 (waktu di Syamailul Huda Rd. Abdullah bin Nuh kelas 3, AI Ustadz Said kelas 4).

Banyak sekali kata-kata mutiara yang diucapkannya. Beliau memulai percakapan dengan kata-kata: “Waktu saya berziarah ke rumah Abdullah kebetulan waktu sholat Maghrib, saya tahu persis keadaan dalam rumahnya, hanya dua kamar yang sempit dan satu kamar mandi yang darurat. Padahal kalau melihat ilmunya, dan banyak murid-muridnya, dia itu orang besar, sudah tidak sesuai lagi. Tidak seperti orang-orang besar sekarang mobil-mobil banyak, gedung-gedungnya mewah, dengan rumah saya saja sudah jauh berbeda “(rumah AI Ustadz Said itu gedung dan besar sekali).

Beliau (AI Ustadz Said) melanjutkan dengan ucapan beliau: “Maka dari gambaran suasana rumahnya yang sangat sederhana itu, Masya Allah - Masya Allah - Masya Allah, Abdullah sedang syugul lillahi Ta’ala, dia AZ-Zaahid”
1. Inilah Ulama, ini waktu, mencari seperti itu tidak ada ;
2. Abdullah tetap Abdullah sebagai Kiyai ;
3. Ini hidup yang benar ;
4. Ini thoriq (jalan) yang benar ;
5. Abdullah saudara saya
Ada beberapa Amanat-amanat beliau kepada putra-putri AI-Ustadz Abdullah bin Nuh:
1. Berjalanlah menurut Abdullah bin Nuh ;
2. Ana ad’uu lahum (Aku berdoa untuk mereka);
3. Panggillah saya ‘aamii (anggaplah orang-tuanya) ;
4. Salam dari saya kepada keluarga Abdullah ;
5. Dan minta foto Abdullah setetah mendekat wafat
AI Ustadz Said bin Ahmad Bahuwairits memberi julukan kepada Rd. Abdullah bin Nuh dengan julukan: Al Ustadz , AI-‘Aalim ; Al-Adiib ; Azzahid ; Al-Mutawadli ; AI-Haliim.

Madrasah Syamailul Huda ialah Samudra tempat menimba tinta mas Ilmu Ilahi. Internatnya laksana ladang tempat mendulang berlian llmu Agama Allah SWT. Maka tidak sedikit pentolan-pentolan Ulama dan pahlawan yang dihasilkan dari Madrasah tersebut. Di antaranya yang berhasil dengan gemilang dan menonjol sekali Rd. Abdullah bin Nuh, putra Cianjur, sehingga beliau menjadi kesayangan gurunya. Rd. Abdullah bin Nuh sewaktu duduk di kelas 4 kelas terakhir Syamailul Huda, telah turut aktif mengaji bersama-sama dengan para guru Madrasah tersebut. Jadi Rd. Abdullah bin Nuh sudah lebih dahulu maju dari teman-teman kakak kelasnya.
SURABAYA DAN HADROL MAUT SCHOOL

Kota Surabaya ialah kota yang terkenal arek-areknya di zaman revolusi fisik dan jadi kebanggaan masyarakat Surabaya para patriotnya, dari kota 19 sampai kedesa-desa. Kira-kira pada akhir tahun 1922 AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim pindah ke Surabaya ; Rd. Abdullah bin Nuh dibawa dan dikembangkan bakatnya.

Di Kota Surabaya pada waktu itu ada sebuah gedung besar dan tinggi letaknya dekat jembatan besar di Jln. Darmokali (dulu Noyo Tangsi). Penulis melihat di muka gedung itu sebelah atas ada tulisan tahun 1914 waktu didirikannya. Di gedung inilah Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan sekolah “Hadrolmaut School” untuk menyebar ilmunya dan melatih anak-anak didik yang dibawanya dari Pekalongan, dalam rangka mengembangkan bakat dan penampilan kemampu§n anak-anak didiknya tersebut.

Hadrolmaut Shool di Surabaya laksana Masjid Quba di Madinah sewaktu Rosulullah saw mulai menginjakkan kakinya dibumi Madinatul Munawwaroh: Tempat Rosulullah saw, mempersaudarakan ummat yang berbeda-beda bakat dan adat istiadat, tempat mempersatukan kaum Muslimin yang bermacam-macam faham dan pendapatnya, tempat Rosulullah saw mengatur siasat; bermasyarakat dan lain-lain.

Gedung “Hadrolmaut School” ialah tempat Rd. Abdullah bin Nuh dan teman-temannya dididik, dibina, digembleng cara praktek mengajar, berpidato, memimpin dan lain-lain yang dipertukan. Rd. Abdullah bin Nuh di samping diperbantukan mengajar di sekolah tersebut, beliau tidak henti-hentinya menyerap dan menerima bermacam-macam ilmu Agama dan Umum, mempelajari beraneka ragam bahasa dari gurunya. Demikianlah keadaan Rd. Abdullah bin Nuh di kota Surabaya, beliau berjiwa arek-arek Suroboyo yang paling lincah berjuang. Dengan ilmunya yang mendalam, jiwa yang suci dan kemauannya yang kuat, maka beliau terpilih sebagai siswa yang akan dibawa ke Mesir oleh gurunya besama-sama dengan teman-temannya, sebanyak 15 orang.

Teman Rd. Abdulah bin Nuh yang bersama-sama belajar di Mesir yang masih ada di Kota Surabaya sekarang, ialah AI-Ustadz Abdul Razak AI-‘Amudi di kompleks IAIN Wonocolo. Beliaulah yang menyandang gelar: Syahadatul Aalimiyah dari “Jami’atul Azhar” dan Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya dari Madrasah Darul ‘Ulumul ‘Ulya.
MESIR DAN AL-AZHARNYA

Bertepatan dengan didudukinya Kota Makkah AL-Mukarromah oleh kaum Wahabiyyin dan keluarnya Malik Husen meninggalkan Makkah pada tahun 1343 H (± tahun 1925 M), AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama sama teman-temannya yang 15 orang itu dibawa gurunya ke Mesir untuk melanjutkan pelajarannya. Perguruan Tinggi di Mesir pada waktu itu hanya dua :
Jami’atul Azhar ( Syari’ah )

di Fakultas ini, lama belajarnya 6 tahun mendapat gelar : Syahadatul ‘Alimiyah dan kalau belajar 3 tahun mendapat gelar : Syahadatul Ahliyyah.'
Madrasah Darul’ Ulum AI-‘Ulya (AI-Adaab)

Lama belajar 4 tahun mendapat gelar: Deblum Daril ‘Ulumil ‘Ulya Syarat-syarat masuk Jami’atul Azhar di antaranya harus hafal AI-Qur’an 30 Juz. Tetapi murid-murid yang dibawa oleh AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim yang 15 orang itu mendapat prioritas diterima dengan hafal beberapa surat. Pengecualian ini menunjukkan kebesaran dan keberkahan murid-murid AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim. AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh bersama-sama dengan teman-temannya mula-mula bertempat tinggal di Syari’ul Hilmiyyah, lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Midanil Abbasiyah. Pelayannya orang-orang Yaman.

Siang dan malam AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh tidak henti-hentinya belajar. Waktu adalah betul-betul berharga bagi betiau. Keluar dari Jami’atul Azhar beliau pulang hanya mengganti pakaian, memakai pantalon, berdasi dan memakai torbus, terus mengikuti pengajian-pengajian di luar AI-Azhar. Mahasiswa AI-Azhar mempunyai ciri khas ialah berjubah dan bersorban dibalutkan dikepala (udeng).

AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh di Mesir sudah tidak mempelajari bahasa Arab lagi, karena beliau ketika masih di Indonesia sudah benar-benar pandai dan ahli, mengusai berbagai bahasa. Beliau di Mesir hanya belajar fak Fiqih (ini menurut cerita beliau kepada salah seorang muridnya, katanya dalam bahasa Sunda Mama mah di Mesir teh mung diajar ilmu fiqih wungkul”. Selanjutnya beliau bertanya: “Dupi salira kitab-kitab fiqih naon anu parantos diaos? Dijawab oleh muridnya dengan menyebutkan beberapa kitab Fiqih. Setelah sampai menyebut kitab Iqna, maka beliau berkata: “Mama mah tamatna Iqna teh di Mesir, ari salira mah tamat Iqna teh di Indonesia.”

Dengan berkah ketekunan dan kesungguh-sungguhan, maka AI-Ustadz Abdullah bin Nuh di Mesir telah kelihatan sebagai seorang Pelajar yang paling cakap di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. AI-Ustadz Abdur Rozzaq berpendapat: “Sebabnya Abdullah itu mempunyai kelainan daripada teman-¬temanya yang semasa, karena dia mendapatkan banyak ilmu dari hasil muthola’ah. Muthola’ah satu kitab saja sampai 10 kali. Inilah syarat muthola’ah kata AI-Ustadz Abdullah bin Nuh. Di antara kitab yang didawamkan muthola’ah ialah kitab: ARAB 2 AI-Ustadz Abdullah bin Nuh belajar di Mesir hanya selama dua tahun, dikarenakan putra gurunya yang beliau temani tidak merasa betah dan gurunya pulang ke Hadrolmaut, maka AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pun pulang ke Indonesia. Inilah riwayat hidup singkat beliau masa belajar/ tholabul’ilmi atau masantren.
MADRASAH P.S.A.

Pada tahun 1927 AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh pulang dari Mesir ke Indonesia (Cianjur. Pada akhir tahun 1927 pergi ke Bogor (Ciwaringin). Beliau mengajar: 1. Di Madrasah Islamiyyah yang didirikan oleh Mama Ajengan Rd. Haji Manshur.2.Para Mu’allim yang berada di sekitar Bogor. Pada awal tahun 1928 beliau pindah ke Semarang tetapi tidak lama yaitu hanya 2 (dua) bulan, kemudian kembali ke Bogor. Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu beliau pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan beliau adalah:
Mengajar para kyai
Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)
Pada tahun 1934 di Bogor (di Ciwaringin) didirikan Madrasah P.S.A. (Penolong Sekolah Agama). Maksud didirkannya PSA adalah untuk mempersatukan madrasah-madrasah yang ada di sekitar Bogor yang berada di bawah asuhan Mama Ajengan Rd. H. Manshur.
Susunan Pengurus P.S.A. ialah :Ketua, Mama Ajengan Rd. H. Mansur, Sekretaris M.B. Nurdin (Marah Bagindo), Inspektur K. Usman Perak. Ketua Dewan Guru/ Direktur. AI-Ustadz Rd.H.Abdullah bin Nuh, Pembantu/ Sekretaris Rd. Ali Basah Selain memimpin madrasah-madrasah, juga AI-Ustadz mengajar di MULO (SLTP). Pada tahun 1939 Madrasah P.S.A, pindah ke jalan Bioskop (JI, Mayor Oking, yang sekarang dipakai Mesjid) Dari tahun 1939 s.d 1942 beliau tetap bertempat tinggal di Panaragan dan setiap hari mengajar ngaji para Kyai. Walaupun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh ilmunya telah begitu banyak, tetapi selama di Bogor beliau masih terus menambah ilmunya dari seorang ulama (Mufti Malaya) yaitu Sayyid ‘Ali bin Thohir.
PEJUANG KEMERDEKAAN

Sejarah mencatat bahwa PETA lahir pada bulan Nopember 1943, lalu diikuti lahirnya HIZBULLAH beberapa minggu kemudian di mana para alim ulama kemudian masuk menjadi anggota organisasi itu. Tahun 1943 tersebut benar benar merupakan tahun penderitaan yang amat berat khususnya bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Boleh dikatakan bahwa saat itu adalah merupakan salah satu ujian paling berat bagi bangsa Indonesia. Pada akhir tahun 1943 itulah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh masuk PETA dengan pangkat DAIDANCO yang berasrama di Semplak Bogor.



Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu nadhirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani (sekitar tahun 1930). Setelah itu beliau pergi lagi ke Bogor kedua kalinya dan bertempat tinggal di Panaragan. Pekerjaan beliau adalah: 1. Mengajar para kyai. 2. Jadi korektor Percetakan IHTIAR (Inventaris S.I.)

Pemimpin-pemimpin umat ini, para alim ulama di sana-sini ditangkap oleh Dai Nippon, di antaranya Hadlorotnya Syekh Hasyim Asy’ari pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Beliau dipenjarakan di Bubutan, Surabaya.

Di Jawa Barat perlakuan serupa dilakukan terhadap KH. Zainal Mustofa, Tasikmalaya, bahkan sampai gugurnya karena di siksa Dai Nippon. Beliau adalah Pemimpin Pondok Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya. Tanggal 6 Agustus 1945 senjata dahsyat bom atom dijatuhkan Amerika Serikat di atas kota Hiroshima, disusul kemudian tanggal 9 Agustus born atom gelombang kedua dijatuhkan pula di atas Nagasaki. Sekutu mengumandangkan kemenangannya. Bangsa Indonesia saat itu sangat optimis dengan tekuk lututnya Jepang terhadap sekutu.

Ternyata pada tanggal 17 Agustus 1945 beberapa hari setelah pemboman terhadap kedua kota itu kita bangsa Indonesia memperoleh hikmah, yaitu kemerdekaan yang diperoklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Apakah ini bukan rohmat dari Allah SWT?

Cobaan demi cobaan telah dan akan selalu kita hadapi. Pada tanggal 19 September 1945 di Surabaya terjadi peristiwa besar yang merupakan titik awal yang menyulut semangat kepahlawanan rakyat Surabaya. Beberapa personil Belanda yang saat itu membonceng sekutu berhasil menyamar sebagai Missi Sekutu mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Tunjungan Surabaya. Kemudian personil Belanda lainnya setelah tiba di Tanjung Priok merayap keseluruh pelosok Jawa di antaranya ke Bandung, Yogya, Magelang dan Surabaya. ini merupakan tantangan berat lagi bagi bangsa Indonesia. Namun demikian rakyat tiada mengenal mundur atau menyerah. Begitu pula AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh terus melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memimpin barisan Hizbutlah dan BKRI TKR di kota Cianjur bersama-sama dengan barisan lainnya hingga pertengahan tahun 1945.

Pada tanggal 21 Romadhon 1363 H/ 29 Agustus 1945 M, di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNlP) dan sekaligus melangsungkan sidang pertamanya. Ketua KNIP ditetapkan Mr. Kasman Singodimedjo, salah seorang bakes Daidanco PETA Jakarta. Anggota KNIP di antaranya adalah AI-¬Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh. Pada tanggal 4 Juni 1946 Pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta.

YOGYAKARTA DAN P.T.I. NYA (SEKARANG UII)

Yogyakarta adalah sebuah kota kecil yang mendadak menjadi ibukota Repbulik Indonesia dan pusat segala kegiatan politik. Semenjak awal 1946, situasi politik terus meningkat dan ketegangan serta pergolakan terjadi di mana-mana. Yogyakarta amat berat memikul beban nasional di atas pundaknya. Namun AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh adalah benar-benar seorang ulama pejuang yang pandai membagi waktu. Walaupun tugas beliau sangat berat, sebagai tentara yang mewakili Jawa Barat dan anggota KNIP lainnya, namun beliau masih sempat mendirikan RRI Yogyakarta siaran bahasa Arab dan kemudian mendirikan STI (Sekolah Tinggi Islam/ UII) bersama dengan KH. Abdul Kohar Muzakkir.

Yang lebih unik lagi ialah tidak melupakan tugas kekiyaian, yaitu mengajar ngaji. Hasil didikan beliau waktu di Yogyakarta di antaranya adalah Ibu Mursyidah dan AI-Ustadz Basyori Alwi, yang telah berhasil membuka Pesantren yang megah di JI. Singosari No.90 dekat kota Malang, dan banyak lagi Asatidz tempaan beliau.

Pada bulan Desember 1948 Yogyakarta bezet (diduduki tentara Belanda). Tentara RI mundur dari Kota Yogya dan terjadilah perang gerilya selama 6 bulan, mulai dari Desember 1948 s.d. Juni 1949. Perang gerilya ini dilakukan pula oleh para pejabat, walaupun dia itu adalah seorang Menteri. Pada bulan Juni itulah (tepatnya tanggal 5) AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh menikah dengan Ibu Mursyidah, salah seorang puteri didiknya yang telah disebut tadi.

Tanggal 29 Juni 1949 setelah tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta, pasukan Republik Indonesia yang sedang bergerilya bersama rakyat masuk kembali ke Yogyakarta. Itu berarti bahwa, Yogyakarta kembali menjadi Ibukota Republik Indonesia. Sejarah pertama kali mencatat, yaitu tanggai 17 Desember 1946, Bung Karno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat dengan mengambil tempat di Keraton Yogyakarta. Kemudian di akhir tahun 1949 Pemerintah RI pindah ke Jakarta, dan saat itu pulalah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh bersama ibu Mursyidah (istrinya) hijrah ke Jakarta.
JAKARTA DAN UI-NYA

Setelah melalui liku-liku hidup dan mengarungi pasang surutnya gelombang perjuangan, keluarga AI-Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh menetap di Jakarta selama lebih kurang 20 tahun, yaitu mulai tahun 1950 s.d. 1970, Di Jakarta inilah beliau menjadikan ibu kota sebagai arena pengabdiannya kepada Allah SWT dan kepada hamba-Nya. Beliau mengajar mengaji para asatidz/ Mu’allimin, memimpin Majlis-majlis Ta’lim, menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat. Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board). Kemudian pernah pula menjadi Dosen UI (Universitas Indonesia) bagian Sastra Arab, pemimpin Majalah Pembina dan Ketua Lembaga Penyelidikan Islam.

Di samping itu pada tahun 1959 sebelum kepindahan ke Kota Bogor, beliau telah aktif memimpin pengajian-pengajian di Bogor, yaitu :1. Majlis Ta’lim Sukaraja (AI-Ustadz Rd. Hidayat) 2. Majlis Ta’fim Babakan Sirna (AI-Ustadz Rd. Hasan) 3. Majlis Ta’lim Gang Ardio (KH. Ilyas) 4. Majlis Ta’lim Kebon Kopi (Mu’allim Hamim) Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1970 Mama hijrah dari Jakarta ke Bogor.
MAMA DAN “AL-GHAZALY”

YIC “AI-Ghazaly” ialah Pusat Pendidikan Islam (Pesantren, Majlis Ta’lim, sekolah umum dan madrasah Diniyah). “AI-Ghazaly” sudah tidak asing lagi bagi Ummat Islam warga Bogor. YIC “AI-Ghazaly” memiliki empat lokasi yaitu: AG I di Kotaparis , AG II di Cimanggu (H. Firdaus), AG III di Cimanggu Perikanan dan AG IV di Cibogor. YIC “AI-Ghazaly” adalah Mazro’atul Akhiroh (ladang akherat) Mama. Tempat Mama memberikan pelajaran kepada para Ustadz dan kyai-kyai yang berada di sekitar Bogor, bahkan ada pula yang datang dari Jakarta, Cianjur, Bandung dan Sukabumi. Majlis-majlis Ta’lim yang ada dalam asuhan Mama adalah : AI-Ghazaly (Kotaparis) AI-Ihya(Batu Tapak) AI-Husna (Layungsari) Nurul Imdad (Babakan Fakultas, belakang IPB) Nahjussalam (Sukaraja).

Kesemuanya itu adalah tempat pengabdian Mama setelah usianya lanjut. Bagi Mama tiada hari tanpa kuliah shubuh. Kegiatan rutin setiap minggunya adalah hari Senin s.d. Kamis di Majlis Ta’lim AI-Ihya, Jumat s.d. Ahad di AI-Ghazaly, sedangkan Ahad siang (ba’da dzuhur) di Nahjussalam Sukaraja.

Selain itu, Mama juga mengadakan pengajian khusus untuk para pemuda dan pelajar, mahasiswa/ mahasiswi. Demikian kegiatan Mama di “AI-Ghazaly” yang tidak mengenal istirahat.
MAMA DAN “NAHJUSSALAM”

Nahjus Salam ialah Pesantren idaman Mama yang belum terlaksana dengan sempurna dan tentunya.wajib kita tanjutkan sampai tuntas. Jauh sebelum merencanakan “Nahjus Salam”, Mama pernah mengutarakan keinginannya kepada salah seorang muridnya: “Mama ingin sekali punya Pesantren”. Kemudian muridnya itu bertanya: “Didaerah mana Mama ingin mendirikan Pesantren itu? Di Bogor Timur, Ciluar atau di Cianjur?” Mama menjawab: Di Sukaraja. Muridnya masih penasaran, kemudian melanjutkan pertanyaannya: “Kenapa ingin di Sukaraja?” Beliau menjawab: Ingin dekat dengan makam eyang Mama (Kanjeng Dalem) Melaksanakan amanat Mama Ajengan Manshur (Bilamana Mama Ajengan Manshur wafat, harus diteruskan oleh beliau). Ingin istirahat total Penulis pada waktu itu tidak memperhatikan akan arti dan kandungan obrolan Mama yang sebenarnya mendalam serta penuh dengan isyarat itu.

Maka pada hari Sabtu tanggal 1 Muharram 1404 H, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1983, dimulailah pembangunan fisik Pesantren Nahjus Salam yang diprakarsai oleh para putera Almarhum Rd. H. Jamhur Ciwaringin Tanah Sewa beserta sesepuh dan warga Sukaraja AI-Ustadz Hasanuddin. Bangunan Pesantren tersebut selesai pada akhir bulan Rajab tahun itu juga. Peresmian yang langsung diisi oleh Mama dilaksanakan hari Jum’at tanggal 25 Rajab 1404 H/ 27 April 1984, dan hari Ahad tanggal 12-Sya’ban (lebih kurang 2 minggu setelah peresmian) dimulai pengajian di Nahjus Salam.

Keinginan Mama selalu terkabul, sukses dan Barokah. Maunahnya mutai nampak dan terlihat oleh khalayak ramai. Padahal menurut penulis setelah mengamati dan selalu memperhatikan gerak-geriknya, Mama memiliki keutamaan (kelebihan) ilmu, dan maunahnya telah terlihat dan terasa sejak Mama mulai menetap di Bogor. Pernah penulis alami ketika pada suatu kejadian yang membuktikan tentang itu.

Kira-kira tahun 1973 Mama bersama penulis berziarah kepada seorang kyai yang telah dianggap wali oleh para Ulama yang tahu tentang keadaan kyai itu. Ada tiga keanehan menurut penulis yang sangat mencolok pada pribadi Mama saat itu: Pertama: Bukan Mama yang masuk ke kamar Kyai yang sedang sakit berat itu, tetapi justru kyailah yang datang menemui Mama di ruang tamu. Ke dua: Mama memohon didoakan oleh Kyai itu, tetapi keadaan sebaliknya yang terjadi, yakni Kyailah yang meminta didoakan. Akhirnya Mamalah yang berdoa. Kyai bersama penulis mengamini. Ke tiga: Ketika Mama permisi, kyai itu mengantarkan sampai ke pintu gerbang pekarangan rumahnya, sedangkan Kyai itu tidak pernah melakukannya terhadap siapapun.

Dengan ketiga hal yang menurut penulis mengandung keanehan itu, membuktikan bahwa derajat Mama sudah lain dari pada yang lain. Obrolan Mama mengenai “ingin istirahat total” ini merupakan isyarat bahwa kepulangan Mama ke Rahmatullah telah mendekat. Karena hanya wafatnya hamba kekasih Allahlah yang termasuk dan boleh dikatakan “Istirahat Total”. Permohonan Mama ingin istirahat total dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada hari senin malam selasa, jam 19.15 WIB ba’da Isya, tanggal 26 Oktober 1987 bertepatan dengan tanggal 4 Robi’ul Awwal 1408 H beliau pulang ke Rahmatullah. “Innaa Lillaahi wa Inna Ilaihi Rooji’uuna”.

Thoriqoh Mama ada tiga:
1. Mengajar
2. Muthola’ah
3. Mengarang.

Di mana saja Mama tinggal, Mama betah, asal Mama bisa menjalankan yang tiga itu dengan tenang. Jadi jelaslah, pindahnya Mama dan satu daerah ke daerah lain adalah termasuk : yang mudah-mudahan pulangnya Mama ke Rahmatullah pun demikian adanya, hijrah kepada keridhoan Allah SWT.
AMANAHNYA

Di dalam mengarungi dunia yang penuh dengan godaan dan sarat dengan fitnah, Mama memberikan amanah kepada penulis tentang cara menghadapi manusia-manusia di abad modern ini, yaitu harus berpendirian. Khumul = Tidak ternama Malamih = Manampakkan roman muka Tawakal kepada Allah SWT. Insya Allah selamat dari godaan dan fitnah.

Ulama Kharismatik itu telah pulang ke Rahmatullah Akan menerima keridhoan Allah Kita yang ditinggalkan Wajib melanjutkan Amanat Mama kita laksanakan Thoriqoh Mama kita jalankanMudah-mudahan riwayat hidup Mama yang ringkas ini menjadi cermin untuk kita semuanya kaum muslimin-muslimat, baik tua maupun muda.
Karya-karya tulis

Karya-karya tulis dengan bahasa Indonesia yang berbentuk buku di antaranya, yaitu:

Al-Islam
Islam dan Materialisme
Islam dan Komunisme
Islam dan Pembahasan
Keutamaan Keluarga Rosulullah
Islam dan Dunia Modern
Risalah As-Syuro
Ringkasan Sejarah Wali Songo
Riwayat Hidup Imam Ahmad Muhajir
Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten
Pembahasan Tentang Ketuhanan
Wanita Dalam Islam
Zakat dan Dunia Modern
Karya-karya tulis dengan bahasa Arab yaitu berbentuk natsar (karangan bebas) dan syi’ir (puisi)
al-Alam al-Islami (Dunia Islam),
Fi Zilal al-Ka’bah al-Bait al-Haram (Di Bawah Lindungan Ka’bah),
La Taifiyata fi al-Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam),
Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun (Saya Seorang Islam Sunni Pengikut Syafii),
Mu’allimu al-’Arabi (Guru Bahasa Arab),
dan al-Lu’lu’ al-Mansur (Permata yang bertebaran).
Adapun Karya yang ditulis dalam Bahasa Arab antara lain:
Cinta dan Bahagia,
Zakat Modern,
Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW,
dan Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten
Karya tulis dalam bahasa Sunda:
Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam).
Karya terjemahan antara lain:
adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah) karya Imam al-Ghazali,
Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan) karya Imam al-Ghazali,, dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul) karya Imam al-Ghazali.
Selain mengarang K.H.R. Abdullah bin Nuh juga menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan Sunda.
Kitab-kitab yang beliau terjemahkan kebanyakan karangan Imam AI-Ghazaly yang beliau kagumi. Di antara terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia adalah:
Renungan;
O’Anak;
Pembebasan dari Kesesatan;
Cinta dan Bahagia;
Menuju Mukmin Sejati (Minhajul-Abidin, karangan terakhir imam Ghazaly.
Adapun yang beliau terjemahkan ke dalam bahasa Sunda di antaranya berjudul:
1. Akhlaq; 2. Dzikir Sebagai seorang Ahli bahasa Arab, K.H.R. Abdullah bin Nuh menyempatkan diri menyusun kamus bersama sahabatnya H. Umar Bakry, di antara kamusnya adalah:
Kamus Arab - Indonesia;
Kamus Indonesia - Arab - Inggris;
Kamus Inggris - Arab - Indonesia;
Kamus Arab - Indonesia - Inggris;
Kamus Bahasa Asing (Eropa), berkisar hubungan: - diplomatik politik- ekonomi, dll.
Pengabdian dan Perjuangan semasa hayatnya

Selain sebagai seorang Kiai, R.H. Abdullah bin Nuh mengabdikan diri sebagai pengajar di Cianjur & Bogor, antara tahun 1928-1943) K.H.R Abdullah bin Nuh adalah seorang pejuang kemerdekaan republik Indonesia.

Beliau menjadi anggota Pembela Tanah Air atau Peta di usia 41 tahun (1943-1945) untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Pada tahun 1945-1946, beliau memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Pada tahun 1948-1950: Seliau menjadi anggota Komite Nasional Pusat (KNIP) di Yogyakarta, Sebagai kepala seksi siaran berbahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan Dosen luar biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).
Pada tahun 1950-1964 Abdullah bin Nuh memegang jabatan sebagai kepala siaran bahasa Arab pada RRI Jakarta.
Menjabat sebagai Lektor Kepala (saat ini; Dekan) Fakultas sastra Universitas Indonesia (1964-1967).
Tahun 1969 beliau mendirikan Majelis al-Ghazali dan Pesantren al-Ihya di Bogor. Di kedua tempat pendidikan ini ia berfungsi sebagai sesepuh. Di Bogor, Abdullah bin Nuh aktif melaksanakan kegiatan dakwah Islamiah dan mendidik kader-kader ulama. Beliau juga menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain:
1. Arab Saudi,
2. Yordania,
3. Inbeliau, Irak,
4. Iran,
5. Australia,
6. Thailan,
7. Singapura, dan
8. Malaysia.
Beliau juga ikut serta dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) sebagai anggota panitia dan juru penerang yang terampil dan dinamis.

Salahsatu sya'ir yang sampai saat ini menjadi legendaris cianjur yaitu " Persaudaraan Islam".Sair ini ditulis pada saat beliau berumur 20 tahun yaitu tahun tahun 1925. Penggalan syair bait pertama yaitu:

"Anda adalah saudaraku. Betapa keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tdk kenal aku dan tdk tahu siapa bundaku. Walaupun aku tdk pernah tinggal serumah dgn anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda dibawah satu atap langit".
(Persaudaraan Islam : KH Abdullah bin Nuh)


Read more: http://www.bogorheritage.net/2013/06/biografi-kh-r-abdullah-bin-noeh.html#ixzz3ynEGqT7W(Asal Usul)

Sejarah Sarinah : Toko Serba Ada Pertama di Indonesia

Add Comment
Sejarah Sarinah : Toko Serba Pertama di Indonesia - PT Sarinah digoncang kabar korupsi. Mantan General Manager Divisi Sistem Manajemen dan Informasi Teknologi PT Sarinah (Persero) melaporkan dugaan korupsi Rp 4,4 miliar ke Kejaksaan Agung.


Namun sayang, orang yang seharusnya dilindungi negara karena berani melaporkan dugaan korupsi malah kena masalah. Diduga laporannya ke kejaksaan agung bocor ke direksi PT Sarinah. Alhasil dia pun dipecat.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Sarinah adalah BUMN dan merupakan departemen store pertama di Indonesia.

Saat itu, Presiden Soekarno membangun Sarinah untuk memperkuat ekonomi sosialis. Kini, departement store pertama di Indonesia itu bercorak kapitalis.

Proyek Sarinah, masuk dalam agenda pembangunan 10 Juli 1959 dan 6 Maret 1962. Anggarannya dari pampasan perang Jepang.

“Banyak sekali kenangan saya di Indonesia. Saya saksikan pembangunan TVRI, Monas, banyak lagi, termasuk Sarinah,” kata Kirishima, orang yang pernah ditugaskan Jepang mengurus harta pampasan perang untuk Indonesia, kepada JPNN.com.

Bung Karno menugaskan R. Soeharto, Menteri Muda Perindustrian Rakyat yang juga dokter pribadinya mewujudkan pembangunan Sarinah. Arsitek yang ditunjuk menanganinya Abel Sorensen dari Denmark.

“Sarinah. Nama itu diambil dari perempuan yang pernah mengasuh Sukarno,” tulis Eka Budianta dalam buku Cakrawala Roosseno.

Pembangunan Sarinah dimulai 17 Agutus 1962. Bung Karno yang meletakkan batu pertamanya. Dalam kesempatan itu, Si Bung mengatakan, Sarinah mutlak perlu untuk sosialistische economie. Untuk menurunkan dan menekan harga.

“Kalau di department store harganya cuma lima puluh rupiah, di luar departement store, orang tidak berani menjual seratus rupiah,” tandas proklamator dengan gayanya yang khas.

Kepada pejabat BUMN yang mengelola Sarinah, Soekarno mengamanatkan supaya barang yang dijual departemen store tersebut, harus barang berdikari. Barang bikinan Indonesia.

“Yang boleh impor hanya 40 persen. Tidak boleh lebih. 60 persen mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri,” dia mewanti-wanti.

Empat tahun kemudian. Bogor, 15 Januari 1966. Dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora yang dihadiri wartawan dan perwakilan mahasiswa, dalam pidatonya Bung Karno kembali menegaskan pentingnya Departement Store Sarinah untuk memperkuat tatanan ekonomi sosialis.

“Kalau Sarinah di Thamrin itu sukses, untuk Jakarta saya perintahkan buat tiga lagi. Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur. Another there, my dear friends, another three Department Store Sarinah itu,” katanya penuh harap.

15 Agustus 1966, Sarinah diresmikan oleh Bung Karno. Inilah pionir toko serba ada di Asia Tenggara(Asal Usul)

Sejarah Bra

Add Comment
Sejarah Bra - Untuk pertama kalinya kutang atau bra mulai digunakan sejak abad ke-3, yaitu ketika para perempuan Romawi membebatkan semacam perban untuk membungkus dada mereka sewaktu berolahraga.

Sedangkan untuk desain bra dengan bentuk dan model yang kita kenal saat ini, pertama kalinya dipopulerkan di Paris, Prancis pada tahun 1889 oleh seorang pengusaha pakaian yang bernama Herminie Cardolle.

Sejarah Bra



Bentuknya mirip seperti korset namun pakaian dalam kaum wanita itu terbagi atas dua bagian yang digunakan, yaitu bagian perut dan dada. Cardolle menyebut temuannya itu dengan nama Brassiere, penyebutan bra sendiri mulai digunakan setelah muncul dalam majalah Vogue pada tahun 1907.

Sebelum perempuan di dunia dikenalkan dengan bra yang lebih simple, pada masa sebelum Perang Dunia I kaum perempuan di dunia lebih banyak yang mengenakan korset. Namun setelah pecahnya Perang Dunia I, perlahan kebiasaan tersebut mulai dihilangkan. Industri militer negara-negara yang terlibat perang membutuhkan banyak logam untuk memproduksi peralatan perang, alhasil logam yang tadinya digunakan untuk membuat korset dialih-fungsikan untuk kebutuhan yang dianggap jauh lebih mendesak itu.

Pada tahun 1917, Bernard Baruch, Ketua Dewan Industri Perang Amerika secara khusus meminta kaum perempuan untuk meninggalkan kebiasaan mengenakan korset. Menurutnya, pemakaian korset bisa membahayakan kesehatan mereka. Walaupun korset dibuat untuk membentuk tubuh perempuan sesuai standar kecantikan pada masa lalu, namun faktanya korset bisa membuat kesulitan bernafas dan dalam beberapa kasus ekstrim menyebabkan terjadinya dislokasi organ.

Mengikuti anjuran tersebut, kaum perempuan mulai menanggalkan korset mereka dan sebanyak 28.000 ton logam dari korset tersebut berhasil 'dialih-fungsikan' untuk tujuan perang. Pada saat itu, jumlah sebanyak itu cukup untuk membuat dua buah kapal perang berukuran besar.


Selama beberapa waktu, para perempuan tidak mengenakan apa pun untuk membungkus dada mereka, pakaian luar yang mereka kenakan sudah cukup untuk menutupi kepolosan dada mereka itu. Sampai suatu saat, seorang sosialita Amerika yang bernama Mary Phelps Jacob mulai memperkenalkan bra modern yang pertama pada tahun 1910.

Penemuan bra modern itu sebenarnya tidak disangka-sangka, ketika itu Jacob bermaksud menghadiri sebuah pesta besar dengan mengenakan sebuah gaun malam tips dengan potongan dada rendah. Semula ia ingin mengenakan korset, namun urung dilakukan karena rangka korset yang terbuat dari tulang ikan hiu mengganggu keindahan gaun yang sudah dipersiapkannya sejak lama.

Dengan dibantu oleh pelayannya, Jacob pun membuat pakaian dalam dengan memanfaatkan dua buah saputangan sutra yang disatukan dengan pita berwarna merah muda. Sejak itulah, desain bra miliknya menjadi populer di lingkungan teman dan pergaulannya, yang kemudian dipatenkan pada tahun 1914.

Pada tahn 1920, bra tersebut kemudian mulai diproduksi secara masal , namun saat itu pihak pembuat masih belum memperhatikan ukuran indivisu masing-masing perempuan yang berbeda-beda. Sehingga perempuan bertubuh kecil harus puas mengenakan bra berukuran besar, begitu pula sebaliknya.



Pada tahun 1922, revolusi bra dimulai ketika pasangan Ida dan William Rosenthal mulai menciptakan ukuran baku bra yang meliputi lingkar linear rusuk dan ukuran volume dada (cup size) dengan menggunakan abjad A,B,C,D dan seterusnya.

Untuk ukuran A sama dengan delapan ons cairan, sedangkan ukuran B sama dengan 13 ons, dan C setara dengan 21 ons, begitu seterusnya. Mereka kemudian mendirikan perusahaan bra yang bernama Maidenform, dan berhasil meraih kesuksesan yang menjadikan keduanya menjadi jutawan. Sampai saat ini pun Maidenform masih berdiri.

Penyebutan Kutang di Indonesia

Di Indonesia sendiri, penggunaan bra pada masa lalu belum menjadi sebuah kebutuhan. Hingga awal abad ke-19, perempuan di Indonesia masih belum terbiasa menutupi bagian tubuh mereka itu. Sampai-sampai dalam sebuah proyek jalan raya pos Anyer- Panarukan, ketika Belanda mempekerjakan budak perempuan dan laki-laki. Don Lopez, seorang pejabat Belanda sangat risi melihat budak perempuan bertelanjang dada. Ia pun kemudian memotong secarik kain putih, lalu memberikannya pada salah satu di antara mereka sambil berkata dalam bahasa prancis. "tutup bagian yang berharga (coutant) itu". Berkali-kali ia meneriakkan "Coutant..Coutant"  yang terdengar oleh para pekerja sebagai "Kutang".

(Asal Usul)

Cerita Dibalik Penggantian Nama Koesno Menjadi Soekarno

Add Comment
Cerita Dibalik Penggantian Nama Koesno Menjadi Soekarno - Sangat sedikit orang yang tahu kalau Bung Karno sebenarnya pernah memiliki nama atau diberi nama Kusno oleh kedua orang tuanya. Dalam otobiografinya yang berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakjat Indonesia, Bung Karno menjelaskan perihal penggantian nama dari Koesno menjadi Soekarno.


Dalam bukunya itu, Bung Karno menjelaskan alasan penggantian nama tersebut adalah karena dia yang sering sakit-sakitan, seperti terkena malaria dan disentri. Namun ternyata, ada cerita lain dibaik penggantian nama Kusno menjadi Sukarno, dan hal ini terungkap dalam sebuah buku berjudul Bung Karno Anakku, karya Soebagijo IN.

Dalam buku yang semula berjudul Pengukir Jiwa Soekarno terbitan tahun 1949 itu, Ibunda Sukarno, Idayu Nyoman Rai menceritakan perihal penggantian nama anaknya tersebut.

Menurut Ida, penggantian nama itu muncul atas ide dari saudara perempuan Sukarno, yaitu Karsinah. Pada suatu hari, Karsinah bertanya kepada adiknya itu, "Kus, Kus.. bagaimana Kus, pendapatmu, apabila nama kita ini diganti saja?,"

"Mengapa diganti yu? Apa salahnya kita memakai nama Karsinah dan Kusno?"

“Saya rasa Kus, nama kita ini tidak begitu sedap didengar oleh telinga. Ayah kalau memanggil saya, Nah… Karsinah… Nah… Karsinah… Ah, tidak sedap nian di telinga. Dan apabila memanggil engkau: Kusss… Kus… Tikus atau bagaimana engkau itu?”

Kusno pun terdiam sejenak, ia tampak memikirkan usulan saudara perempuannya itu. Kemudian Kusno pun berkata," Saya pikir-pikir benar juga engkau ya, yu. Sebenarnya bagi saya sendiri juga tidak senang dipanggil Kus itu. Kus itu singkatan dari Tikus atau bagaimana? Atau singkatan dari ... kakus barangkali, Ah tidak... saya tidak mau lagi dipanggil Kus, walau oeh ayah atau ibu sekalipun."

Kemudian mereka berdua segera menyampaikan usulan penggantian nama kepada sang ayah, Raden Sukemi Sosrodihardjo. Uniknya, si ayah langsung menyetujuinya dan menyerahkan kepada mereka untuk memilih sendiri nama yang diinginkan. Akan tetapi sang ayah memberi isyarat:

"Nah, hendaknya nama baru itu dimulai dengan huruf Jawa KA, sedang permintaanku kepadamu Kus, supaya nama yang akan engkau pilih itu dimulai dengan huruf Jawa SA dan akhirnya huruf NA."

“Tidak pernah ada orang menerangkan mengapa guru Sosro mengajukan syarat yang demikian itu,” tulis Soebagijo dalam bukunya.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, mereka berdua kemudian menghampiri sang ayah. Karsinah telah memilih nama Karmini, sedangkan Koesno memilih mengganti namanya mengganti Soekarno.

“Ayah, nama yang saya pilih Soe-kar-no! Soekarno, Pak, seperti nama adipati Awonggo, perwira yang sakti tiada tandingan itu ayah.”

“Jadi, mulai saat sekarang ini Kusno sudah tidak ada?” tanya ibunya, Idayu Nyoman Rai.

“Tidak ada, Bu. Yang ada hanyalah Sukarno. Ini, Bu, Sukarno, anakmu laki-laki ini.”
(Asal Usul)

Penemu Ikan Mujair

Add Comment
Penemu Ikan Mujair - Nama aslinya beliau adalah Iwan Dalauk atau lebih dikenal dengan nama Mbah Moedjair, lahir tahun 1890 di desa Kuninngan 3 km arah timur pusat kota Blitar, ia merupakan penemu dari spesies ikan yang diberi nama Ikan Mujair. Anak ke 4 dari 9 bersaudara, dari pasangan Bapak Bayan Isman dan Ibu Rubiyah. Menikah dengan anak modin desa kuningan bernama Partimah. Dari pernikhan itu beliau dikaruniai 7 anak. Hampir semua anak beliau saat ini sudah meninggal., kecuali Ismoenir yang bertempat tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember. Semasa hidup Pak Moedjair berjualan sate kambing. Warung sate kambingnya cukup terkenal di jaman itu, di daerah Kuningan Kanigoro. Pelanggannya dari berbagai ras. Akibat dari warungnya yang terkenal tentu saja pemasukan keuangan Pak Moedjair semakin bertumpuk.


Penemu Ikan Mujair

Hal tersebut memunculkan sifat negatip dari Moedjair muda saat itu, yaitu mulai gemar berjudi. Hebatnya dia tidak mau berjudi dengan bangsanya, tapi hanya dengan orang Tionghoa. Sisi baiknya, Pak Moedjair mendidik anak – anaknya untuk tidak bermain judi. Judi membuat usaha warung satenya jadi porak porandah. Demikian yang disampaikan olej Pak Slamet cucunya, anak dari Bapak Wahana, salah satu putra Pak Moedjair.


Di masa keterprukannya, Pak Moedjair meakukan tirakat, setiap tanggal 1 Suro ( penanggalan Jawa ), beliau mandi dipantai Serang, Blitar selatan. Pada suatu saat, ketika melakukan ritual mandi, beliau menemukan ikan yang jumlahnya amat banyak, yang mempunyai keunikan, yatiu menyimpan anak dalam mulutnya, saat ada bahaya, dan dikeluarkan lagi saat bahaya telah lewat atau keadaan aman.

Karena keunikan ikan ini, Pak Moedjair berniat mengembangkannya di rumah, didaerah Papungan – Kanigoro, Blitar. Pak Moedjair menjaring ikan tersebut dengan udengnya ( ikat kepala ). Dengan ditemani kedua temannya, Abdullah Iskak dan Umar, beliau membawa pulang ikan tersebut kerumahya. Tapi karena habitat yang berbeda, ikan tersebut mati pada saat dimasukan ke air tawar. Hal tersebut membuat Pak Moedjair penasaran dan gigih melakukan percobaan, agar spesies ikan ini bisa hidup di air tawar.


Dengan bolak – balik Papungan – Serang yang berjarak 35 km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit, betul betul akses jalan yang susah, dan memakan waktu 2 hari 2 malam. Di Pantai Serang beliau mengambil ikan tersebut dan dimasukan kedalam gentong tanah liat. Beliau mencampurkan air laut dan air tawar dalam gentong. Percobaan percampuran air laut dan air tawar di lakukan secara terus menerus, dengan memperkecil jumlah air laut dan memperbesar jumlah air tawar. Ampai satu saat kedua jenis air ini bisa menyatu. Menurut Pak Ismoenir ( anak Pak Moedjair ), perjalanan bolak – balik Papungan – Serang, pada percobaan ke 11, berhasil hidup 4 ekor ikan spesies baru tersebut pada habitat air tawar. Keberhasilan tersebut terjadi di tanggal 25 Maret 1936.

Keberhasilan percobaan tersebut melegakan Pak Moedjair. 4 Ikan itu dia tangkarkan di kolam sumber air Tenggong, Desa Papungan. Awalanya hanya satu kolam dan berkembang menjadi 3 kolam. Disekitar kolam Tenggong, Pak Moedjair membangun pondok yang juga sebagai tempat tinggal untuk keluarganya. Perkembang biakan ikan spesies baru itu luar biasa cepat, maka jumlah ikan semakin banyak. Oleh Pak Moedjair, ikan spesies baru itu diberikan secara cuma-cuma ke masyarakat sekitar Papungan. Dan dijual di sekitar Blitar dan di luar Blitar.

Penemuan ikan spesies baru ini sampai ke telinga Asisten Resident yang berada di Kediri. Asisten Residen ini juga seorang ilmuwan, ia tergoda untuk meneliti spesies hasil temuan Pak Moedjair, berdsarkan literatur dan data-data yang ada. Dia juga melakukan riset serta wawancara dengan Pak Moedjair, tentang segalanya asal muasal ikan ini. Asisten Residen ini kagum dan takjub akan usaha dan kegigihan dari usaha percobaan Pak Moedjair. Karena itu, Asisten Residen ini memberikan penghargaan kepada Pak Moedjair, pemberian nama ikan spesies baru tersebut dengan nama Pak Moedjair. Sejak saat itu, ikan spesies baru tersebut dinamakan ikan MOEDJAIR (Mujair)

Ikan Moedjair semakin dikenal, dan masyarakt semakin banyak yang mengembang biakannya. Nama Pak Moedjairpun semakin terkenal. Dengan bantuan anak sulung beliau, Wahanan, ikan Moedjair dipasarkan ke hampir daratan seluruh Jawa Timur. Oleh pemerintah setempat, beliau diangkat sebagai Jogoboyo Desa Papungan dan mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah daerah. Pemerintah Indonesia mengangkat beliau sebagai Mantri Perikanan. Selain itu, Pak Moedjair juga mendapatkan penghargaan EKSEKUTIP COMMITTE dari INDONESIA FISHERIES COUNCIL, atas jasanya menemukan ikan moedjair. Penghargaan tersebut diberikan di Bogor tanggal 30 Juni 1954. Sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus 1951, KEMENTERIAN PERTANIAN atas nama Pemerintah Indonesia, memberikan penghargaan pada Pak Moedjair, waktu itu dijabat oleh Ir. Soewarto.

Selain membuat kolam ikan di Tenggong, beliau juga membuat kolam ikan di Papungan dan di Kedung ( sumber air ) desa Papungan. Di Kedung, Pak Moedjair menghabiskan hari-hari tuanya selama kurang lebih 10 tahun. Disini dia banyak dikunjungi dari masyarakat Blitar maupun luar kota Blitar, untuk menimba ilmu dan memancing ikan moedjair. Saat kesehatannya mulia menurun, beliau memutuskan tinggak di dukuh Krajan, desa Papungan, dekat perbatasan dengan desa Sekardangan. Disini beliau membuat 3 kolam ikan, sampai saat ini kolam tersebut masih ada keberadaannya.

Tanggal 01 September 1957 beliau wafat, karena penyakit asma. Dimakamkan di pemakaman umum desa Papungan. Pada tahun 1960, atas inisiatip Departemen Perikanan Indonesia, makam beliau dipindah ke area kusus di selatan desa Papungan, yang juga berfungsi sebagai makam keluarga. Pada batu nisan beliau tertulis “ MOEDJAIR PENEMU IKAN MOEDJAIR “, lengkap dengan relief ikan moedjair, sebagai penghargaan atas jasanya. Akses jalan ke makam juga diberi nama Moedjair.

Pada 6 April 1965 Pemerintah melalui Departemen Perikanan Darat dan Laut menganugerahkan Pak Moedjair sebagai Nelayan Pelopor. Piagamnya ditanda tangani oleh menteri perikanan, Hamzah Atmohandojo.(Asal Usul)

Sejarah Hello Kitty

Add Comment
Sejarah Hello Kitty - Hello Kitty (ハローキティ Harōkiti?)[1] adalah nama untuk sebuah karakter yang didesain oleh perusahaan Jepang, Sanrio. Hello Kitty yang memiliki nama lengkap Kitty White adalah personifikasi dari kucing berwarna putih dengan ciri khas pita atau hiasan lainnya di daun telinga sebelah kiri dan mulut yang tidak digambar.


Sejarah Hello Kitty

Hello Kitty pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1974. Hak cipta Hello Kitty didaftarkan pada tahun 1976 dan sekarang merupakan merek dagang di seluruh dunia. Pada waktu pertama kali diperkenalkan, target utama pemasaran Hello Kitty adalah anak perempuan, tapi sekarang penggemar Hello Kitty terdiri dari wanita maupun pria dari berbagai kalangan usia.

Di Jepang, penggemar berat dan kolektor Hello Kitty disebut Kitty-ra. Pada tahun 2004, barang-barang Hello Kitty menembus pasar lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Karakter Hello Kitty sudah merupakan subkultur yang mewakili budaya Jepang.

Hello Kitty diciptakan oleh perancang dari Sanrio yang bernama Shimizu Ikuko pada tahun 1974 yang merupakan tahun kelahiran resmi Hello Kitty. Penjualan barang-barang Hello Kitty baru dimulai pada bulan Maret 1975. Barang Hello Kitty pertama dipasarkan berupa dompet kecil yang disebut Puchi Purse dengan harga 240 yen. Perusahaan Sanrio bahkan tidak lagi memiliki dompet Puchi Purse sampai mendapat sumbangan sebuah dompet Puchi Purse dari seorang kolektor yang sekarang dipamerkan di kantor perusahaan. Dompet Puchi Purse kemudian dibuat replikanya dan dijual sebagai barang dalam jumlah terbatas.

Karakter dalam barang Hello Kitty dari tahun 1974 sampai tahun 1975 belum diberi nama. Pada dompet Puchi Purse yang merupakan produk pertama hanya tertulis kata "Hello!" (tanpa tulisan "Kitty"). Pada awalnya orang Jepang mengenal karakter Kitty White sebagai "kucing putih tidak bernama," sampai akhirnya perusahaan memberi nama "Kitty" yang diambil dari nama kucing berbulu putih yang tampil dalam cerita Alice di Negeri Kaca (Through the Looking-Glass) oleh Lewis Carroll. Pada mulanya Kitty White tidak memiliki nama keluarga atau nama keluarganya tidak diumumkan, "White" sebagai nama keluarga baru ditambahkan di kemudian hari.

Pada produk-produk awalnya, Kitty selalu digambarkan sedang duduk dan baru pada tahun 1977 Kitty digambarkan berdiri.

Pada tahun 1996, Hello Kitty kembali menjadi populer secara mendadak di kalangan siswa putri sekolah menengah pertama dan sekolah menengah berkat penyanyi Jepang yang populer pada saat itu Kahara Tomomi mengaku sebagai penggemar berat Hello Kitty dalam salah satu acara televisi.

Di Jepang, kepopuleran Hello Kitty mencapai titik paling rendah di sekitar tahun 1980-an. Pada tahun 1980, Yonekubo Setsuko yang merupakan desainer generasi kedua digantikan oleh Yamaguchi Yūko yang masih memegang posisi desainer hingga sekarang. Penampilan karakter Kitty selalu diperbarui setiap tahun, bahkan penampilan Kitty berbeda-beda setiap pergantian musim. Perusahan juga mengubah target pemasaran dan melakukan berbagai macam inovasi agar angka penjualan yang tinggi dapat dipertahankan.

Penelitian mengenai kembalinya kepopuleran Hello Kitty di Jepang pada tahun 1996 belum pernah dilakukan orang, sehingga mungkin saja Hello Kitty kembali populer berkat jasa Kahara Tomomi atau mungkin juga Hello Kitty sudah lebih dulu populer tapi beritanya tidak diangkat oleh media massa. Dalam pernyataannya pada tahun 1997, direktur perusahaan Sanrio pernah mengakui bahwa Hello Kitty kembali populer di Jepang berkat Kahara Tomomi.

Pada tahun 2004, Kitty menjabat sebagai "teman khusus anak-anak" di UNICEF hingga tanggal 1 November 2004). Selain itu, Kitty juga pernah dua kali menjabat sebagai duta UNICEF, pertama pada tahun 1983 (UNICEF America Junior Ambassador) dan yang kedua kalinya di Jepang pada tahun 1994.

Di Amerika Serikat, Hello Kitty menjadi populer pada akhir tahun 1990-an berkat beberapa orang selebritis seperti Mariah Carey yang menggunakan Hello Kitty sebagai gaya busana. Hello Kitty juga pernah menjadi maskot iklan untuk pasar swalayan Target. Ricky Martin, Cameron Diaz, Heidi Klum, Steven Tyler, Carmen Electra, Mandy Moore, Raven-Symoné, hingga Paris Hilton dan Nicky Hilton semuanya pernah terlihat menggunakan barang-barang Hello Kitty. Penyanyi Lisa Loeb merupakan penggemar berat Hello Kitty hingga salah satu albumnya diberi nama Hello Lisa yang dipersembahkan kepada Hello Kitty.(Asal Usul)

Uang Kuno Indonesia

Add Comment
Uang Kuno Indonesia - Menurut sejarah, bahwa negeri ini baru mempunyai uang resmi pada sekitar abad ke 8, itupun karena adanya berbagai pengaruh dari mitra negara-negara tetangga, yang juga berdagang disaat itu namun sudah mempunyai mata uangnya sendiri seperti negara Arab, China dan India. Sebelumnya para pedagang di Nusantara melakukan transaksi perdagangan dengan cara barter, namun tatkala pengaruh pedagang luar datang ke Nusantara, akhirnya pedagang kita segera memulai mengenal cara bertransaksi dengan menggunakan mata uang.

Sejarah uang Indonesia dimulai sejak masa jaya Kerajaan Mataram Kuno, yakni sekitar tahun 850 M. Kerajaan ini menggunakan koin-koin emas dan perak berbentuk kotak sebagai alat tukarnya. Berikut ini adalah beberapa mata uang kuno di Nusantara yang telah diketahui atau disinyalir telah dipakai pada zaman dahulu.

Uang era Dinasti Syailendra (850 M) 

Mata uang Nusantara dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Inilah bukti terawal sistem mata uang yang ada di pulau Jawa dan di Nusantara.



Uang ini terbuat dari emas atau disebut pula sebagai keping tahil Jawa. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan yakni emas dan perak, mempunyai berat yang sama dan mempunyai beberapa nominal satuan, yakni :

Masa (Ma), berat 2.40 gram – sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
Atak, berat 1.20 gram – sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
Kupang (Ku), berat 0.60 gram – sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak
Saga, berat 0,119 gram


Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”.  Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatic, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa) dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.


Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)

Pada zaman Kerajaan Jenggala (1042-1130) dan Kerajaan Daha (1478-1526), uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung dengan diameter antara 13-14 mm.

Pada waktu itu, uang kepeng Cina yang didatangkan oleh para pedagang Cina sebagai alat tukar dan barter begitu banyak, sehingga saking banyak jumlahnya yang beredar maka akhirnya dipakai juga secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.




Uang “Ma” Kerajaan Majapahit (Abad ke-12) 

Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali termasuk di kota Majapahit ini, kebanyakan merupakan mata uang hasil perkembangan dari dinasti sebelumnya, uang “Ma”,  zaman dinasti Syailendra  yang memakai tulisan huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno.

Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan “ta” dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.

Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segi empat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar.

Tanda “tera” atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga  dalam bidang lingkaran atau segi empat.

Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah mata uang yang dimaksud.



Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad 13) 

Pada zaman Majapahit, keping koin ini dikenal atau disebut sebagai “Gobog Wayang”. Bentuknya bulat dengan lubang kotak ditengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina ataupun koin-koin serupa lainnya yang berasal dari Cina atau Jepang.

Koin Gobog Wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar tapi hanya sebagai koin token. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut juga sebagai “koin-koin kuil”.




Uang Dirham, Kerajaan Samudera Pasai (1297 M) 

Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Mata uang emas dari Kerajaan Samudera Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar tahun 1297-1326 Masehi. Mata uangnya disebut “Dirham” atau “Mas” dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang).

Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 dari Kupang atau 3 kali Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang 1/2 Mas berdiameter 6 mm.

Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”. Nama dirham menunjukkan pengaruh kuat pedagang Arab dan budaya Islam di kerajaan tersebut.




Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad 14) 

Uang yang sangat unik ini dinamakan Kampua, dibuat dari bahan kain tenun dan merupakan satu-satunya jenis “uang dari kain tenun” yang pernah beredar di Indonesia. Berasal dari Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara.

Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertama kali diperkenalkan oleh Bulawambona, Ratu kerajaan Buton yang kedua, yang memerintah sekitar abad XIV sebelum Kerajaan Buton menjadi Kesultanan.

Setelah ratu meninggal, lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton.  Pada pasar tersebut orang yang berjualan mengambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan, para pedagang memberikan suatu upeti yang ditaruh diatas makam tersebut yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton, bahkan sampai dengan tahun 1940.




Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad 15) 

Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri dan sekarang lokasi wilayahnya persis berada di Provinsi Banten, Indonesia. Mata uang dari Kesultanan Banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi.

Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khas persegi 6 pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”.

Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada beberapa tahun yang lalu.





Uang Jinggara, Kesultanan Gowa (Abad 16) 

Di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, berdiri kerajaan Gowa dan Buton. Kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut “Jinggara”.

Salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah pada tahun 1653-1669. Selain itu beredar juga uang dari bahan campuran timah dan tembaga yang disebut “Kupa”.




Uang Picis, Kesultanan Cirebon (1710 M)

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut Picis.

Uang koin jenis Picis ini dibuat sekitar abad ke-17. Di sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin yang berbunyi “CHERIBON”.




Uang Real Batu, Kesultanan Sumenep (1730 M) 

Kerajaan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi “SUMANAP” sebagai tanda pengesahan.

Uang kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut juga “Real Batu” karena bentuknya yang tidak beraturan.



(Asal Usul)