Asal Usul Nama Suku 'Betawi'

Add Comment
Asal Usul Nama Suku 'Betawi' -  Jakarta identik dengan suku bangsa Betawi sebagai penduduk aslinya. Etnik ini telah lama bermukim dan beranak pinak di ibu kota.

Sejak era Gubernur Ali Sadikin, Betawi telah menjadi ikon Jakarta, tapi dari manakah nama Betawi?

Banyak orang sering mengucapkan nama Betawi tapi hanya sedikit masyarakat tahu asal muasal kata ini. Penafsiran pun banyak mengemuka termasuk cerita perang antara tentara belanda melawan pribumi. Pada saat perang berlangsung, tentara Belanda dengan persenjataan lengkap menghalau warga pribumi yang ingin menduduki benteng Belanda.


Namun, serangan berhenti karena persediaan senjata habis. Pejuang pribumi lantas mengganti senjata mereka dengan kotoran manusia, hingga membuat serdadu Belanda terganggu dengan bau menyengat dan berkata 'bau tai'. Banyak yang meyakini kata itu adalah asal usul nama Betawi muncul.

Tapi pengertian tersebut ternyata salah besar. Hal itu sengaja diciptakan penjajah untuk meremehkan orang-orang pribumi di Jakarta.

"Karena seperti yang kita tahu bersama, benteng hancur dengan meriam jika menggunakan logika lemparan paling cuma 50 meter paling jauh. Ada kesan orang kita dianggep bodoh kalau percaya gituan," kata budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra saat berbicang dengan merdeka.com, Rabu (30/9).

Selain 'bau tai', masih ada berbagai versi lain yang menceritakan asal mula kata Betawi. Salah satu yang paling banyak dipercaya adalah tanaman bernama cassia glauca, atau Wiulingin Betawi alias ketenteng dalam bahasa Betawi. Versi ini lebih dipercaya mengacu dari banyaknya nama jalan menggunakan nama pepohonan.

"Banyak nama jalan dari nama pohon kaya kebon nanas, kebon kacang karena itu saya berasumsi Betawi dari nama pohon," tutupnya.(Asal Usul)

Asal Usul Warga Lamongan Pantang Makan Ikan Lele

1 Comment
Asal Usul Warga Lamongan Pantang Makan Ikan Lele - Sejarah terbentuknya Kabupaten Lamongan tidak lepas dari bumbu-bumbu cerita rakyat. Seperti yang satu ini, terkait asal muasal lahirnya pantangan bagi masyarakat Lamongan asli untuk memakan ikan lele.

Meski banyak orang Lamongan yang merantau dan berjualan Pecel Lele, namun mereka konon pantang memakannya. Lalu apa cerita di balik kepercayaan itu?



Cerita ini berawal ketika Sunan Giri III atau bernama asli Sedamargo blusukan ke daerah penyebaran Islam dengan menggunakan perahu menelusuri sepanjang aliran Bengawan Solo, hingga ke desa-desa.

Sesampainya di Desa Barang (sekarang masuk wilayah Kecamatan Glagah, Lamongan), malam sudah larut, sinar terang bulan purnama menuntun langkah Sunan Giri menyusuri desa ini. Hingga pada suatu tempat Sunan Giri melihat lampu godog (sejenis oblek) yang menyala dari sebuah gubuk di sudut desa. Sedamargo lantas menghampiri sumber cahaya tersebut.

Di situ didapatilah seorang wanita yang dikenal mbok rondo sedang menjahit pakaian. Perbincangan antar keduanya terjadi sampai larut malam. Di akhir perbincangan, akhirnya Sunan Giri berpamitan pergi.

Baca Juga :
Namun dirinya lupa mengambil keris miliknya yang dia letakkan di bale, selama berbincang dengan mbok rondo tadi. Dia baru sadar ketika sudah tiba kembali di Giri.

Kemudian Sunan Giri memerintahkan salah satu orang dekatya Ki Bayapati untuk kembali ke Desa Barang, mengambil keris kesayangan Sunan Giri yang tertinggal di bale gubuk mbok rondo.

Keberadaan keris tersebut diketahui oleh mbok rondo, seketika wanita ini mengambil dan menyimpannya untuk kemudian dikembalikan atau sukur-sukur Sunan Giri kembali datang mengambilnya sendiri.

Nah, saat ditugasi oleh Sunan Giri ini, Ki Bayapati menggunakan kemampuan ilmu sirepnya agar cepat menuju gubuk mbok rondo. Sesampainya di lokasi, pesuruh ini mengambil keris dengan cara sembunyi-sembunyi.



Tetapi sepandai apa pun Ki Bayapati, caranya tersebut diketahui mbok rondo yang disambut dengan teriakan maling. Menganggap utusan Sunan Giri ini sedang mencuri keris, padahal yang terjadi sebenarnya adalah ingin mengambilnya.

Teriakan mbok rondo membangunkan para tetangganya, dan sejurus kemudian massa mengejar pria yang diduga mencuri keris pusaka ini. Karena panik dikejar warga, Bayapati memberanikan diri terjun ke kolam (jublang) untuk menghindari kejaran dan amukan massa.

Tanpa disangka, tiba-tiba kolam dipenuhi oleh ikan lele yang berenang di permukaan. Keberadaan Bayapati tersamarkan oleh munculnya ikan-ikan lele ini. Warga yang tidak mengira Bayapati bersembunyi di kolam, segera meninggalkan lokasi.

Bayapati selamat, sampai di Giri lantas menceritakan kejadian aneh tersebut sambil mengantarkan keris ke tuannya.

Karena jasanya inilah, akhirnya Sunan Giri menghadiahkan keris yang sekarang disebut mbah jimat ini kepada Bayapati. Kabarnya keris saat ini tersimpan di bangunan Dusun Rangge, Lamongan.

Gara-gara peristiwa aneh inilah, akhirnya muncul pantangan bagi warga Lamongan memakan lele. Karena menganggap lele adalah ikan bertuah yang pernah berjasa melindungi Bayapati.

Tetapi, sepertinya pantangan ini sudah tidak berlaku untuk saat ini. Buktinya, warga Lamongan yang mengadu nasib di luar kota banyak berjualan pecel lele. Tidak sedikit dari mereka sukses berkat lele.(Asal Usul)

Asal Usul Gajah Mada, Patih Majapahit dari Lamongan

Add Comment
Asal Usul Gajah Mada, Patih Majapahit dari Lamongan - Gajah Mada merupakan salah satu tokoh sentral di Kerajaan Majapahit saat mencapai masa kejayaannya dengan pusat pemerintahan di Wilwatikta atau sekarang dikenal Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Dinasti yang didirikan oleh Raden Wijaya (wafat tahun 1309) berdarah bangsawan Jawa dan Sunda ini mencapai puncak kejayaan di era Raja Hayam Wuruk.

Masa kejayaan Majapahit tidak lepas dari figur Gajah Mada, termasuk segudang kontroversi cerita yang hingga kini masih berselimut gelap. Karir militernya di Majapahit mulai menanjak setelah dia berhasil menyelamatkan Jayanegara, raja kedua Majapahit dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.



Memang setelah meninggalnya Raden Wijaya, Majapahit disibukkan oleh pemberontakan di sana sini dari pada ekspansi militer atau ekonomi ke wilayah baru. Umumnya pemberontakan terjadi untuk mengambil alih kekuasaan yang dilakukan oleh orang-orang bekas istana, maupun daerah-daerah yang ingin melepas diri dari Majapahit.

Dalam kitab Pararaton diceritakan, pemberontakan di zaman Jayanegara dilakukan oleh para Dharmaputra yang tak lain loyalis Raden Wijaya. Pemberontakan ini terjadi karena raja kedua Majapahit ini berdarah campuran Jawa dan etnis Melayu, bukan asli keturunan Kertanagara. Seperti diketahui, bahwa Jayanegara merupakan anak hasil perkawinan antara Raden Wijaya dengan Dara Petak.



Pemberontakan ini dipimpin oleh Ra Kuti, seorang perwira Majapahit dari daerah Pajarakan (sekarang Probolinggo, Jawa Timur). Dalam pemberontakan Ra Kuti, Majapahit berhasil direbut dari tangan Jayanegara.

Karena kondisi kerajaan sudah tidak kondusif, komandan pasukan Bhayangkara Gajah Mada akhirnya melarikan raja muda bernama lain Raden Kalagemet (jahat dan lemah) ini ke wilayah Badander. Di Jawa Timur saat ini, nama Badander mengacu pada dua daerah; pertama Desa Dander yang masuk di administrasi Kabupaten Bojonegoro, dan Desa Bedander masuk wilayah Jombang.

Setelah kondisi dirasa cukup aman, Gajah Mada kemudian kembali ke Majapahit untuk menggalang kekuatan dari rakyat jelata hingga para loyalis Jayanegara di kerajaan. Pada akhirnya Ra Kuti bersama pemberontak lainnya bisa dikalahkan.

Karena jasa besarnya tersebut, Gajah Mada diangkat sebagai patih Majapahit. Dari sini, karir militer Gajah Mada semakin moncer. Di hari-hari berikutnya, dipercaya untuk menumpas para pembelot kerajaan. Tercatat karena jasanya itu, dia pernah diangkat sebagai Patih Doha (Kediri) dan Patih Kahuripan (sekarang Sidoarjo).



Di masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi, posisi Gajah Mada diangkat lebih tinggi menjadi mahapatih setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (masuk Kabupaten Situbondo). Pada periode inilah Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran kerajaan Majapahit ke segala penjuru. Banyak kerajaan penting berhasil direbut Majapahit, seperti Kerajaan Pejeng (Bali), sisa-sisa kerajaan Sriwijaya dan Malayu.

Puncaknya, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Amangkubumi dan kembali menjadi tokoh sentral kemajuan Majapahit di zaman Hayam Wuruk, termasuk salah satu peristiwa penting dan kontroversi hingga kini masih simpang siur yaitu Sumpah Palapa.

Dalam Kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca, kekuasaan Majapahit yang didapat dari peperangan maupun monopoli dagang terbentang dari Papua, Sumatera, Tumasik (sekarang disebut Singapura), hingga sebagian pulau di Filipina. Semua terbingkai dalam peta Nusantara.

Lantas siapa sebenarnya Gajah Mada ini? Di mana tempat asal Gajah Mada? Mengapa karirnya begitu cepat melesat? Apakah benar dia orang dalam istana yang sempat terasingkan?(Asal Usul)

Asal Mula Kue Nastar

2 Comments
Asal Mula Kue Nastar - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan setelah sebulan lamanya melaksanakan ibadah puasa. Untuk merayakannya, masyarakat akan menyediakan berbagai makanan khas lebaran, baik makanan berat maupun ringan.

Salah satu makanan khas yang tidak boleh ketinggalan untuk disajikan saat Lebaran adalah kue Nastar. Kue berbentuk bulat dengan warna kuning keemasan ini hampir selalu ada di tiap-tiap rumah.

Tak banyak orang yang mengetahui sejarah dari kue berisi selai nanas tersebut. Padahal secara tidak langsung, nastar sudah menjadi kue turun temurun dan resep yang digunakan pun hampir sama.



Nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu Annanas atau nanas dan Taart atau tar, sehingga bisa diartikan sebagai tar nanas. Sebenarnya kue ini terinspirasi dari kue pie buatan orang Eropa dengan isian buah blueberi dan apel.

Akan tetapi, karena di Indonesia saat itu sulit menemukan kedua buah tersebut maka orang Indonesia menggunakan buah nanas yang tumbuh di negara tropis. Nastar ala Indonesia memiliki bentuk lebih kecil dibanding pie atau kue tar eropa pada umumnya.

Selain dari bahasa Belanda, nama nastar juga diambil dari bahasa asing, yaitu nastaart yang berarti kue nanas. Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya dinamakan pineapple tarts, atau pineapple nastar roll, yang populer saat merayakan natal atau lebaran.

Bukan hanya itu, nastar juga dijadikan makanan khas saat perayaan Imlek, karena memiliki arti dan simbol khusus bagi etnis Tionghoa. Dalam Bahasa Hokian, nastar diartikan sebagai ong lai (buah pir emas) yang berarti 'kemakmuran datang kemari', rezeki, dan keberuntungan datang. Di samping itu, warna emas serta manis dan lembutnya isi nanas melambangkan rezeki yang manis, dan melimpah.

Seiring majunya teknologi dan pengetahuan, kue ini sudah dikembangkan dalam berbagai varian rasa, seperti stroberi, blueberi, dan lain-lain. Bahkan nastar yang dinobatkan sebagai kue rumahan, kini banyak diperjualbelikan di toko roti, toko kue, dan pasar swalayan dalam kemasan toples plastik.(Asal Usul)

Asal Usul Seblak

4 Comments
Asal Usul Seblak - Warga Bandung mana yang kini tidak tahu seblak? Cemilan bercita rasa pedas dengan aroma kencur yang kuat itu memang sudah menjadi primadona akhir-akhir ini.

Seiring dengan naiknya pamor seblak, tahu kah Anda dari mana asal usul seblak itu? Seblak merupakan penganan khas Bandung yang sebenarnya mirip dengan makanan dari daerah Sumpiuh, Jawa Tengah.



Tak sedikit yang menyebut bahwa seblak merupakan penganan asal Jawa Tengah. Hal tersebut dilatarbelakangi karena seblak sangat mirip Krupuk Godog yang sudah populer sejak 1940-an, sementara seblak baru populer sekitar tahun 2000-an.

Pemilik Nanutz Mania Riza Rizki Adhiyaksa, mengatakan tak sedikit orang beranggapan bahwa seblak merupakan kerupuk kuning yang dimasak dengan cita rasa pedas. Padahal, seblak merupakan nama bumbu yang terbuat dari kencur atau cikur dalam bahasa Sunda.

"Ada kan yang mikir kalau seblak itu adalah kerupuk yang digoreng dan rasanya pedas. Padahal, seblak itu adalah bumbu. Nah kerupuk itu adalah topingnya," ujar Riza kepada Merdeka.com, Rabu (4/11).

Riza menjelaskan, kini seblak memiliki banyak varian. Mulai dari kerupuk kuning, makaroni, tulang, tahu, bakso, siomay, batagor, hingga mie lidi. Seblak kini menjadi makanan yang banyak penggemarnya, khususnya bagi kawula muda.

Dengan tekstur kenyal, seblak sangat nikmat disantap kala panas dan pedas. Tak sulit membuat seblak. Hanya perlu mengolah bawang merah, bawang putih, serta kencur dihancurkan menjadi satu. Kemudian ditumis dengan beragam toping, diberi air dan cabai.

"Saya membuat seblak sangat simple. Ini adalah seblak instan dengan dikemas menggunakan cup plastik lengkap dengan tutup dan lubang pembuangan air. Jadi masaknya kayak mie instan, tinggal seduh saja," tuturnya.

Bahkan tak hanya Nanutz Mania yang membuat seblak instan. Pengemasan beragam penganan yang dibuat praktis kini memang dicari. Untuk itu, Mommy Seblak juga membuat cemilan tersebut dengan instan.

Bahkan, kini ada varian seblak anyar, yakni rasa rendang. Kehadiran seblak rendang ini, dipaparkan oleh pemilik Mommy Seblak yakni Lofty Rainidi, karena rendang merupakan makanan asli Indonesia yang menjadi favorit.

"Basic-nya sama saja seblak hanya ada penambahan bumbu rendang. Jadi orang bisa mencicipi seblak dengan rasa baru dan penasaran. Enggak hanya yang itu-itu saja jadinya kan," ujar Lofty.(Asal Usul)

Arti Kata Ebes dalam Boso Walikan Malang?

2 Comments
Arti Kata Ebes dalam Boso Walikan Malang? - Sejak awal digunakan hingga kini ebes merupakan salah satu kata dalam boso walikan yang sangat populer walau mengalami pergeseran makna.
"Plo, lapo umak kok ketok kesusu ngono? (Plo, mengapa kamu tampak begitu tergesa-gesa?)"
"Iki Mbez, dikongkon ebes ndang moleh ayas (ini Mbez, aku disuruh bapak cepat pulang)"

Dialog khas Malang seperti itu barangkali sudah tidak aneh dalam pergaulan kita sehari-hari. Boso Malangan atau juga biasa disebut osob kiwalan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa khas Malang yang umum dipakai baik oleh orang tua ataupun pada anak muda.



Berawal dari sebuah bahasa yang digunakan sebagai sandi khusus pada masa revolusi fisik, bahasa ini kemudian berkembang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari bagi orang Malang. Walaupun secara teori osob kiwalan pada dasarnya merupakan dialek bahasa Jawa yang kosakatanya berasal dari berbagai kata yang dibalik, namun bahasa ini juga memiliki beberapa kosakata sendiri yang cukup khas.

Berbagai kosakata ini kadang tidak hanya berasal dari bahasa Indonesia atau Jawa saja namun juga dari bahasa asing. Salah satu kata yang diduga berasal dari bahasa asing adalah kata 'ebes' yang cukup lazim dan sering digunakan. Pada saat ini kata tersebut memiliki arti untuk menyebut orang tua laki-laki sehingga artinya setara dengan ayah atau bapak. Sedangkan untuk menyebut orang tua perempuan, digunakan kata lain yang hampir serupa yaitu 'emes'.

Kata 'ebes' sendiri disebut sesungguhnya berasal dari bahasa Arab yaitu 'abah' atau 'sebeh'. Dari kata tersebut, kemudian arek-arek Malang membaliknya dan akhirnya menjadi 'ebes'. Namun lucunya, ebes yang sudah mengalami proses dibalik tersebut malah sering mengalami proses dibalik lagi sehingga kembali pada bentuk awalnya yaitu 'sebeh'.

Walaupun saat ini 'ebes' lebih banyak digunakan untuk menyebut ayah atau bapak, namun pada sekitar tahun 70-an, kata tersebut bisa digunakan untuk menyebut orang tua saja terlepas dari jenis kelaminnya. Keterangan tersebut dijelaskan oleh Toha, salah satu pengguna osob kiwalan sejak tahun 70-an.

"Jaman dulu itu, 'ebes' bisa dipakai buat nyebut bapak atau ibu. Kalau ke bapak jadinya 'ebes nganal' dan kalau ke ibu jadinya 'ebes kodew'," tutur Toha pada Merdeka.com.

Istilah 'nganal' sendiri berasal dari kata lanang atau pria, sedangkan 'kodew' berasal dari kata wedok yang memiliki arti perempuan. Dijelaskannya bahwa saat itu tidak umum dan hampir tidak ada yang menggunakan 'emes' untuk menyebut ibu.

Walau umum digunakan, namun istilah ebes sesungguhnya tidak digunakan untuk memanggil langsung orang tua. Dijelaskan Toha bahwa sebenarnya istilah ini digunakan untuk menyebut orang tua sebagai orang ketiga dan tidak untuk menyapanya secara langsung.

Dia mencontohkan bahwa kata tersebut biasa digunakan seperti ini, "Ebes-e Hadi wingi mari budal munggah kaji (ayahnya Hadi kemarin berangkat naik haji)", atau bisa juga digunakan dalam bentuk menanyakan kabar orang tua dari teman, "Yak opo rabak-e ebes? tahes a? (bagaimana kabarnya bapakmu? apakah sehat?)".

Penggunaan sebutan yang tidak langsung ini digunakan karena kata ebes dianggap sebagai kata yang tidak sopan untuk digunakan menyapa ke orang tua secara langsung. Namun pada beberapa kasus untuk menyapa ke orang lain yang lebih tua, kata ini masih kadang digunakan karena menunjukkan keakraban.

"Lek jaman dhisik nyeluk nang bapak opo ibuk nggawe ebes, yo iso diambleki sampek gembuk mas! (kalau dulu menyapa ayah atau ibu dengan kata 'ebes' ya bisa dipukuli sampai lunak mas!)" tandas Toha.(Asal Usul)

Singa sebagai lambang Malang mulai zaman Singosari hingga Arema

2 Comments
Singa sebagai lambang Malang mulai zaman Singosari hingga Arema - Singa memang sangat identik dengan wilayah Malang. Hewan ini menyertai mulai dari nama kerajaan Singosari, lambang kota hingga simbol Arema.

Singa merupakan suatu hal yang cukup identik dengan kota Malang. Bukan hanya karena lambang singa digunakan oleh salah satu kesebelasan kebanggaan Malang yaitu Arema, namun singa juga terkandung dalam simbol kota Malang pada zaman dahulu serta pada nama salah satu kerajaan yang pernah ada di Malang yaitu Singosari.


Singhasari atau Singosari merupakan salah satu kerajaan terbesar yang ada di Nusantara. Bahkan singosari ini merupakan salah satu embrio dari kerajaan Majapahit yang kelak kekuasaannya sangat luas. Digunakannya kata 'Singha' yang merupakan awal dari singa menjadikan hewan ini memang sangat identik dengan kerajaan tersebut.

Pada masa Majapahit, sosok singa yang identik dengan wilayah Malang ini juga kembali dilanggengkan dan diteruskan. Pada dua candi yang berada di wilayah Malang dan dibangun pada masa Majapahit yaitu candi Jago dan Kidal juga terdapat patung sosok singa. Walaupun sedikit berubah, di relief candi Jago juga terdapat cerita mengenai singa sebagai lawan dari banteng.

Sosok singa yang ditampilkan pada candi ini biasa diasosiasikan sebagai penjaga dari sebuah kota atau kerajaan. Hewan ini diharap mampu menjadi simbol pelindung sebuah kota atau negara dari serbuan lawan serta menghalau serangan berbagai makhluk halus.

Sosok pelindung ini lah yang kemudian diteruskan pada masa Hindia Belanda. Pada masa itu lambang kota Malang adalah sepasang singa yang memegang tameng dengan gambar singa lainnya. Di bawah kedua singa tersebut terdapat tulisan "Malang Nominor Sursum Moveor" yang memiliki arti Malang namaku, maju tujuanku.


Lambang kota bergambar singa ini digunakan mulai tahun 1937 hingga akhirnya berubah pada tahun 1951. Pada tahun 1964 untuk peringatan 50 tahun kota Malang, lambang sempat kembali lagi kepada sosok yang menonjolkan singa. Kemudian lambang Malang berubah menjadi Tugu seperti yang kita kenal saat ini pada tahun 1970.

Singa kembali menjadi lambang yang dikenal di Malang sejak digunakan oleh Arema sebagai lambang dari mereka. Arema yang memiliki sebutan sebagai singo edan, lahir di Malang pada 11 Agustus 1987. Penggunaan lambang singa juga sebenarnya juga dengan alasan yang cukup sepele karena tanggal lahir dari Arema yang dinaungi rasi bintang Leo. Namun berkat hal itu justru sosok singa semakin melekat dengan Malang.

Beragam hubungan dengan singa baik sebagai pelindung maupun identitas menjadikan hewan tersebut sangat identik dengan Malang. Bahkan perilaku masyarakat Malang yang serba buka-bukaan dan lugas seakan menunjukkan bahwa mereka memiliki jiwa singa. Jadi tidak heran jika Malang identik sebagai kandang singa.(Asal Usul)

Asal-usul Istilah Mbois

2 Comments
Asal-usul Istilah Mbois - Sejak pertama digunakan hingga saat ini, kata mbois sudah mengalami perluasan makna namun masih kerap digunakan sehari-hari.

"Plo, ate nang endi umak? kok cik mbois temen talah! (Plo, kamu mau kemana kok mbois sekali?)"

"Iki lho Li, aku ate ngamrin karo ojob nang alun-alun (Ini Li, aku hendak pacaran di alun-alun)"



Sebagai sebuah kata pujian, mbois atau mboys sudah sangat sering kita dengar terutama di kota Malang. Istilah ini biasanya digunakan untuk memuji penampilan dari seseorang terutama ketika memang benar-benar terlihat menarik dan keren.

Uniknya walau saat ini digunakan secara universal untuk memuji penampilan baik pria maupun wanita, namun sesungguhnya mbois ini digunakan untuk memuji penampilan yang terlihat laki-laki. Asal kata dari mbois adalah boyish yang berarti terlihat kelelaki-lelakian atau tampak seperti pria. Saat ini sendiri, kata boyish lebih melekat pada fashion wanita yang bergaya seperti pria.

Walau saat ini asal kata dari mbois lebih lekat dengan penampilan tomboy atau berkesan lelaki, namun kata mbois ini memiliki fungsi yang sangat berbeda. Umumnya kata ini dijadikan sebagai padanan dari kata keren dan tidak memandang gender baik itu pria atau wanita.

Di masyarakat Malang pada era yang lebih lama, sesungguhnya ada kata padanan lain dari mbois yang digunakan untuk memuji penampilan seseorang. Selain mbois, istilah yang biasa digunakan adalah setil atau nyetil yang juga asal katanya dari bahasa Inggris style. Kata setil atau nyetil ini bisa berarti keren dan bergaya.

Walau sepadan dan biasa digunakan untuk memuji, namun biasanya kata mbois lebih pada gaya berpakaian yang keren dan tidak begitu formal. Sedangkan setil atau nyetil biasa digunakan ketika berpakaian rapi dan klimis. Walau begitu dua kata ini tetap biasa digunakan sebagai pujian pada masa itu.

Namun seiring berlalunya waktu, kata setil mulai jarang digunakan sedangkan mbois tetap kerap digunakan masyakarat bahkan penggunaannya kian menyebar. Istilah mbois kini tidak hanya untuk mengomentari gaya atau penampilan seseorang saja namun juga berbagai hal lain yang dianggap keren seperti perilaku ataupun hal yang dimiliki.

Jadi sudah paham apa arti kata mbois?! Lek durung paham yo gak mbois blas umak!(Asal Usul)

Jejak Yamin Mengubah Naskah Sumpah Pemuda

1 Comment
Jejak Yamin mengubah naskah Sumpah Pemuda - 28 Oktober selalu dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ketika itu, perwakilan pelajar di era kolonial Hindia Belanda menggelar kongres yang ditulis di buku-buku sejarah telah menghasilkan tiga butir sikap mencerminkan nasionalisme. Yaitu pengakuan atas tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.

Namun tak banyak yang tahu, isi teks sumpah pemuda pasca tahun 1950 berbeda dengan aslinya, menurut dia teks sumpah pemuda tak memakai kata 'satu' dalam tiga butir yang dihasilkan dalam kongres sumpah pemuda II.



Menurut surat kabar Sinpo, bunyi asli hasil kongres adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Isi putusan kongres pemuda diubah oleh Muhammad Yamin yang disodorkan kepada Soegondo. Ketika itu, Sunario sedang berpidato dalam kongres pemuda. Yamin berbisik kepada Soegondo, "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie," (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).

Kemudian Soegondo membubuhi paraf pada secarik kertas tersebut, dan diteruskan kepada para pemuda lain. Sehingga Soegondo membacakan isi sumpah pemuda dengan dijelaskan oleh M Yamin.

Isi naskah Putusan Kongres Pemuda - pemuda Indonesia hasil perubahan Muhammad Yamin adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejarawan JJ Rizal, melalui diskusi di Cikini empat tahun lalu, menjadi salah satu intelektual yang terlibat polemik sejarah naskah asli Sumpah Pemuda. Menurut Rizal, terus menyebut Sumpah Pemuda sebagai hasil kongres pemuda ke-II akan mengkhianati sejarah sebenarnya.

"Kata Sumpah Pemuda itu baru diintroduksi sejak tahun 1958, waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar," ujarnya.

Juru bicara Museum Sumpah Pemuda, Endang Pristiwaningsih mengatakan, saat itu organisasi pemuda didirikan Budi Utomo, namun anggotanya ada muda dan tua. Oleh sebab itu, para pemuda yang berada di Batavia mendirikan organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

"Terus lahir organisasi pemuda pertama awalnya trikorodarmo, kemudian dari trikorodarmo menjadi Jong Java," kata Endang saat ditemui merdeka.com di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Senin (25/10).

Setelah itu, kata dia seluruh pemuda mempunyai gagasan untuk mengumpulkan organisasi kepemudaan. Sehingga mereka membentuk kerapatan pemuda yang saat ini disebut Kongres Pemuda I.



Museum Sumpah Pemuda (c) 2015 merdeka.com/intan umbari prihatin

Nah di kongres pemuda I itu belum berhasil dilanjutkan kongres pemuda II, sama yang dihadiri organisasi-organisasi itu, kepanitian juga berasal dari organisasi itu ada Jong Java, Sumatera dan lainnya," kata Endang.

Dia membantah bahwa para pemuda tersebut bukan utusan yang mewakili daerahnya. Menurutnya, mereka ikut Kongres Pemuda karena sudah lama tinggal di Batavia dan menempuh sekolah tinggi. Kemudian, mereka berinisiatif membentuk organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

"Ya mereka memang tinggal disini kan mereka sekolah di sini. Jadi ini (Museum Sumpah Pemuda) dulu kos-kosan, kemudian pelajar yang tak tertampung di Stovia, kosannya di sini.

Menurut Endang organisasi pertama Jong Java lahir di Stovia, kampus kedokteran yang sekarang beralih menjadi fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Belakangan menyusul berdiri organisasi kedua, yakni Jong Sumatra yang juga berisi kumpulan mahasiswa rantau asal Sumatra di Batavia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa naskah sumpah pemuda berasalkan keputusan bersama para pemuda bukan ide gagasan Muhammad Yamin yang disodorkan kepada Soegondo.

"Semua para pemuda di situ, saya rasa cuma hanya Yamin tidak bisa. Semua pemuda yang hadir di situ, dihadiri sekitar 700 orang," jelasnya.

Menurutnya, M. Yamin tak ikut kepanitian Kongres Pemuda I di Batavia. Kongres Pemuda yang paling berperan adalah Muhammad Tabrani seorang yang berprofesi wartawan.

M. Yamin hanya tampak pada Kongres Pemuda II sebagai sekretaris. Sedangkan Presiden Soekarno dalam Kongres Pemuda hanya berkunjung di Gedung Indonesische Clubhuis (IC) untuk membahas formatur perjuangan melawan Belanda.

"Jadi pemuda itu sudah punya tekat tapi kebetulan waktu itu yang punya julukan nakal, pintar tapi banyak akalnya Tabrani, yang menjadi Ketua Kongres Pemuda I berkat kelihaian beliau kerapatan besar berhasil," kata dia.

Dia juga bercerita tujuan dibentukanya Kongres Pemuda I untuk menyatukan pemuda agar Indonesia bebas dan merdeka. Setelah itu, Kongres Pemuda II diputuskan untuk bersumpah satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa.

Dalam isi sumpah pemuda tak ada perubahan dan tak heroik. Menurutnya, para pemuda yang tergabung Kongres Pemuda yang melahirkan sumpah pemuda bukan M. Yamin dan Soekarno.

"Jadi kalau kita bicara siapa yang menginginkan atau siapa yang melahirkan sumpah pemuda, ya para pemuda dari berbagai organisasi," tandasnya.

Sementara Rizal berkukuh perayaan Sumpah Pemuda pada 29 November merupakan gagasan Soekarno. "Waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar," ujar Rizal.

Selain itu, kata Rizal generasi yang mengatasnamakan pemuda menggunakan sumpah pemuda untuk membedakan identitas dengan generasi tua. "Pada akhirnya, kelompok membuat itu untuk membedakan diri dengan orang-orang tua yang konservatif," urainya.(Asal Usul)

Asal Usul Istilah Bajingan

2 Comments
Asal Usul Istilah Bajingan - Bajingan adalah sebuah istilah kata yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara (sopir) gerobak sapi. Lantas kenapa istilah bajingan kemudian bergeser menjadi sebuah kata makian? Padahal kata itu adalah merujuk sebuah profesi seseorang?

Dahulu kala pada tahun 1940 an, di daerah Banyumas sarana transportasi sangat sulit untuk ditemui. Masyarakat yang ingin berkegiatan di kota seperti berdagang, atau hanya mejeng biasanya menggunakan jasa gerobak sapi (cikar). Pada saat itu gerobak sapi merupakan satu satunya alat transportasi yang bisa diandalkan oleh masyarakat pinggiran untuk membawa mereka ke kota, selain berjalan kaki.

Asal Usul Istilah Bajingan



Namun kedatangan cikar yang disopiri oleh Bajingan ini tidak menentu, bisa siang hari, pagi hari, bahkan tengah malam. Karena ketidakpastian waktu tersebut, masyarakat yang ingin numpang gerobak sapi terpaksa jalan kaki jika.

Nah.. Karena itulah keluar kalimat sedikit sindiran atau umpatan seperti ini : “Bajingan suwe tenan to tekane!” (bahasa Jawa) yang artinya: “Bajingan lama sekali sih datengnya”. Dari situ Bajingan mengalami pergeseran makna menjadi kata umpatan.

Dahulu, umpatan bajingan hanya digunakan sebagai analogi atas keterlambatan sesuatu atau seseorang, misalnya “Seka ngendi bae kowe, suwe temen to kaya bajingan” yang artinya: Darimana saja kamu, lama sekali seperti bajingan. Namun pada masa sekarang, bajingan menjadi kata umpatan yang lebih umum dan tidak merujuk pada kekesalan mengenai keterlambatan atas sesuatu.(Asal Usul)