Stasiun Pertama di Indonesia

Add Comment
Stasiun Pertama di Indonesia - Semarang-Tanggung adalah permulaan dari berkalungnya Jawa oleh besi satu setengah abad silam—demi terangkutnya hasil bumi Pulau Jawa yang memperkaya Kerajaan Belanda.

Jauh sebelum kereta api pertama kali di buat di dunia barat pada abad XIX, raja Kediri, Jayabaya, sudah meramalkan: Jawa akan berkalung besi. Pada abad XX, apa yang dikatakan Jayabaya dan dipercaya masyarakat Jawa itu benar-benar terjadi. Jaringan kereta api di Pulau Jawa sangat pesat. Hampir di setiap sudut di Pulau Jawa dari ujung barat hingga timur terhubung oleh rel kereta api. "Kalung besi" itu tentu saja selain untuk membantu mobilisasi massa, juga untuk menghisap sebanyak-banyaknya hasil bumi Pulau Jawa, demi kemakmuran Raja Belanda di tanah rendah Belanda.


Stasiun Pertama di Indonesia

Stasiun Pertama di Indonesia

Panjang keseluruhan rel kereta api di Jawa itu, menurut Th. M. B. Van Marle dalam tulisannya De Ontwikkeling van de Spoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie (1914), mencapai 4.486 kilometer. Tulisan yang terdapat di dalam laporan gelaran Koloniale Tentoonstelling itu mengulas tentang sejarah perkeretaapian di Hindia Belanda serta capaian-capaian 18 perusahaan operator kerata api—baik milik negara maupun pertikelir—di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera.
Kalung Besi di Pulau Jawa dari Belanda

Sejarah kereta api di Indonesia, tak lepas dari kota Semarang. Gemuruh mesin kereta api lebih dulu terdengar tak jauh dari sekitar kota Semarang. Semarang adalah kota pelabuhan di Jawa Tengah yang kerap dilimpahi hasil bumi dari kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Sebelum hasil bumi itu dikapalkan, ongkos angkut dari kebun ke pelabuhan, setidaknya lebih dari 1 gulden. Ongkos angkut itu tak jarang membengkak. Pernah kejadian ongkos angkut dari Kedu ke Semarang, meningkat dari 1.50 gulden per pikul pada 1835 hingga 3.30 gulden per pikul pada 1840. Ongkos itu sudah dianggap tinggi dan tidak ada jaminan barang sampai tepat waktu. Tak heran jika kapal-kapal harus menanti tiga sampai lima bulan hingga muatan penuh dan siap untuk diperdagangkan.

Sekitar tahun 1860, kebutuhan akan moda angkut yang lebih baik sangat mendesak, apalagi di Vorstenlanden (wilayah kerajaan) terjadi peningkatan besar-besaran komoditas perkebunan, terutama gula. Di tahun yang sama, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pun mengirim Insinyur Stieltjes, untuk menyelidiki kemungkinan dibangunnya jaringan kereta api di Pulau Jawa. Akhirnya, tahun 1862 sebuah konsesi diberikan Pemerintah Kolonial kepada Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Perusahaan partikelir itu di izinkan untuk membangun rel kereta api dari Semarang ke Solo dan Yogya, dengan percabangan ke arah Ambarawa—demi mobilitas militer Belanda. NIS juga beroleh konsesi membangun jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (kini Bogor).

Dengan berbagai masalahnya, termasuk gempa bumi hingga biaya membengkak, pada 10 Agustus 1867, NIS meresmikan layananan kereta api pertamanya dari Semarang menuju Tanggung, sebuah desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Grobogan. Jalur yang membentang sejauh 25 kilometer ini memiliki beberapa pemberhentian antara lain Stasiun Alas Tuwa dan Stasiun Brumbung. Jalur itu, adalah tonggak awal sejarah perkeretaapian Indonesia. Sebuah peristiwa yang akan mengubah arus mobilisasi di Indonesia.

Mencari Stasiun Semarang NIS 


Apakah masih ada jejak-jejak sejarah yang masih bisa disaksikan dari peristiwa yang terjadi yang pada tahun ini tepat 150 tahun silam?

Mengacu pada buku bertajuk Sejarah Perkeretaapian Indonesia (1997) yang disusun Tim Telaga Bakti Nusantara, Stasiun Pertama di Kota Semarang itu adalah Kemidjen (Kemijen). Pendapat ini pun jadi rujukan. Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bahkan memajang papan nama Kemidjen untuk mengabadikannya. Tahun 2008, hasil temuan riset para pelestari perkeretaapian Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Railways Preservation Society (IRPS) punya pendapat lain yang jauh lebih kuat ketimbang yang tercantum di buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia.

“Keraguan kami didasarkan pada tiga hal, yang pertama bagaimana mungkin stasiun pertama yang begitu penting diberi nama sebuah desa (Kemijen), lalu melihat pada foto yang ditampilkan di buku tersebut, bangunannya tidak nampak seperti bangunan stasiun, melainkan lebih mirip rumah sinyal dan yang terakhir bukankah perusahaan NIS yang membangun jalur KA pertama itu? Namun foto yang ditampilkan itu adalah bangunan di jalur milik Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), bukan NIS,” ujar Ir. Tjahjono Rahardjo, akademisi Universitas Soegijapranata dan salah satu pegiat di IRPS Semarang yang ikut merekonstruksi jejak stasiun pertama di Indonesia.

Bersama dua rekan IRPS Semarang—Karyadi Baskoro dan Dede Herlambang—juga bantuan analisa peta-peta kuno dari seorang kawan dari Jerman, Stevan Mattheus, Tjahjono akhirnya berhasil menemukan kembali koordinat GPS dari Stasiun Semarang. Tjahjono tidak sebetulnya tidak menyangka akan menemukan sisa bangunan stasiun yang menurut sejarah telah dibongkar pada tahun 1914 untuk kemudian dibangun stasiun baru yang lebih dekat dengan kawasan kota, yang kini dikenal sebagai Stasiun Semarang Tawang.

“Di sana kami bertemu dengan Pak Ramlan dan Pak Masno Hadi, keduanya merupakan eks masinis PT. Kereta Api Indonesia (KAI), dan menunjukkan sisa-sisa bangunan dari stasiun pertama di Indonesia itu, beliau tentunya paham betul karena masih mengoperasikan rangkaian kereta menuju ke pelabuhan saat jalur masih aktif”, tambah Tjahjono yang juga merupakan bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang itu.

Situsnya kini telah dipetak-petak menjadi rumah dan tenggelam sedikitnya tiga meter karena parahnya penurunan tanah di kawasan utara Kota Semarang. Ditilik dari Konsol-konsol tembaga, bentuk ventilasi, dan kusen-kusen yang tersisa sama persis dengan arsip foto-foto kuno stasiun ini. Hal ini menguatkan bahwa bangunan inilah Stasiun Samarang milik NIS, stasiun kereta api pertama di Indonesia.

Jika Stasiun Semarang NIS kondisinya hampir-hampir sulit dikenali sebagai stasiun kereta api, berbeda dengan Stasiun Tanggung—yang menjadi bagian dari jalur kereta api pertama di Indonesia ini. Stasiun kereta api yang terletak di desa Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) ini masih aktif. Masih menjadi pengatur arus lalu lintas kereta api—baik arah Solo maupun arah Jawa Timur. Tak heran jika stasiun masih ada. Bangunan Stasiun Tanggung yang tersisa kini adalah hasil rombakan tahun 1910. Bukan lagi bangunan yang dulu ada sejak 1867, ketika jalur kereta api Semarang-Tanggung diresmikan.

Stasiun yang terletak di ketinggian 20 meter di atas permukaan laut ini, hanya sebagai stasiun pengatur lalu lintas kereta api dan bukan untuk naik-turun penumpang. Di timur stasiun, berdirilah tugu dengan dekorasi roda kereta api bersayap, yang merupakan lambang dari NIS sebagai penanda dari tonggak awal dunia perkeretaapian Indonesia. (Muhammad Yogi Fajri )(Asal Usul)

Asal Mula Lipstik

Add Comment
Asal Mula Lipstik - Catatan tertua mengenai lipstik berasal dari peradaban Sumeria kuno sekitar 5.000 tahun yang lalu.


Pada masa itu, Ratu Puabi atau Shub-ad dari Kerajaan Ur dikenal dengan pewarna bibirnya yang terbuat dari timah putih dan batu-batu merah. Berkat sang ratu, rakyat Sumeria, baik pria maupun wanita, mulai mengadopsi penggunaan pewarna bibir dalam kehidupan mereka. Bahkan, seorang arkeolog Inggris, Sir Leonard Wooley, menemukan bahwa masyarakat Sumeria dikubur dengan kerang berisi pewarna bibir pada saat menggali Makam Kerajaan Ur (Royal Cemetary of Ur). Budaya pewarna bibir ini kemudian menyebar hingga ke peradaban Mesir kuno, di mana kosmetik digunakan sebagai penanda status sosial seseorang.

Setiap hari, pria dan wanita Mesir yang berada di kelas atas mengenakan kosmetik sebagai bagian dari rutinitas mereka. Mata yang dianggap sebagai bagian terpenting mendapatkan perhatian paling utama diikuti dengan bibir yang diwarna menggunakan oker yang dicampur dengan damar atau karet agar lebih tahan lama.

Sebagai pencinta kosmetik, peradaban Mesir kuno cukup kreatif dengan warna lipstik mereka. Pada masa itu, berbagai warna lipstik mulai dari oranye, magenta, hingga biru kehitaman bermunculan. Nah, untuk mendapatkan warna ungu gelap yang kemudian dicampur dengan pewarna lainnya, rakyat Mesir menggabungkan bromine mannite dan iodin. Sayangnya, campuran kedua zat ini begitu beracun sehingga lipstik mendapat julukan “ciuman kematian”.

Resep ini tidak berubah hingga masa kepemimpinan Ratu Cleopatra pada 50 SM. Sang ratu yang memang dikenal dengan kecantikannya menggunakan pewarna bibir yang terbuat dari lilin lebah dan semut merah yang digerus. Terkadang, semut merah diganti dengan carmine, pigmen merah yang didapat dari menggerus serangga Cochineal. Kemudian, untuk hasil yang lebih mengilap, Cleopatra juga menggunakan sisik ikan sebagai lip gloss.(Asal Usul)